Juni 16, 2017

Lebaran Tetap Bisa Menyenangkan kok Meski Gak Mudik

Mau sedikit cerita soal foto itu. Foto itu saya ambil di Masjid An Nur Pekanbaru di Lebaran 2010. Hari raya yang sangat spesial buat kami.

Di Lebaran itu kami baru seminggu menempati rumah Pekanbaru setelah pindah dari Samarinda.

Gak ada persiapan apapun. Masak apa yang bisa dimasak aja. Kue seadanya. Baju baru gak kepikiran

H-4 barang pindahan saya baru datang. Orang lain udah siapin ini itu bahkan mudik. Kami malah berjibaku membereskan barang pindahan yang baru datang. Lebaran disaat baru mengenal tetangga depan dan samping rumah saja

Foto itu pun asal cepret, gak mood ambil foto dan itu satu-satunya foto saat Lebaran 2010

Masjid An Nur Pekanbaru,  Lebaran 2010

Mudik Lebaran di negeri ini seperti udah menjadi suatu kewajiban buat setiap orang. Ada yang mudik mepet waktu Lebaran. Ada juga yang udah mulai dari awal Ramadhan. Yang kayak gini biasanya dilakukan sama orang yang kerjanya punya waktu lebih bebas ketimbang orang kantoran

Selain yang mudik, ada juga sebagian orang yang gak bisa mudik. Faktor biaya adalah alasan rata-rata gak mudik. Apalagi kalau kampung halamannya jauh. Makin gede aja uang yang dibutuhkan buat bertemu sanak saudara saat Lebaran. Pulang Lebaran gak harus tiap tahun 

Saya termasuk orang yang beberapa kali gak mudik Lebaran. Dari 14 tahun perkawinan saya, hanya 4 kali saya mudik ke kampung halaman. Plus 2 kali bisa ngerasain Lebaran bersama orangtua karena saat itu masih tinggal di Semarang dan belum merantau. Jadi total 8 kali saya sekeluarga melewati Lebaran di beberapa kampung halaman orang. Pernah Lebaran di Banjarmasin, Pekanbaru, Jakarta dan Medan 

Gimana siy rasanya gak mudik pas Lebaran?  Mau nangis aja pas pertama kali Lebaran di kampung orang. Kalau sekarang gimana?  Ya mungkin karena udah ditempa pengalaman beberapa kali, jadi udah terbiasa siy

Sekarang saya mau berbagi tips agar Lebaran di kampung orang tetap bisa menyenangkan. Ini tips dari saya :

1. Ajak keluarga mempersiapkan keperluan untuk merayakan Lebaran

Hei, biarpun kita gak mudik tetep dong jangan sampai perayaan Lebaran berlalu begitu aja. Saya dan suami biasanya ajak anak-anak buat mempersiapkan keperluan Lebaran.

Mulai dari beli baju, makanan kecil untuk di meja dan yang paling penting niy gak boleh ketinggalan ... masak opor plus pelengkapnya. Gak cuman masaknya aja, beli keperluan buat masak ke pasar pun anak-anak saya libatkan

Rumah juga harus dibersihkan bukan? Nah, ajak mereka buat beberes rumah bersama. Pasti menyenangkan 

Jangan lupa saat membayar zakat fitrah anak juga diajak ikut serta

2. Buat acara yang menyenangkan saat malam takbiran

Ajak anak takbiran di rumah atau sesekali lihat suasana takbiran di kota. Boleh juga ramaikan suasana malam takbiran dengan membeli kembang api. Tapi jangan yang mahal-mahal ya, sayang mubadzir. Beli aja secukupnya yang penting bisa memeriahkan suasana 

3. Sholat Ied di Masjid Agung

Alasan ini sebenarnya kami pilih lebih karena momen. Kesempatan saya sekeluarga yang hanya sementara untuk tinggal di suatu kota, membuat kami sekeluarga lebih memilih sholat Ied di Masjid Agung. Kapan lagi bisa ngerasain sholat Ied di tempat itu ?

4. Makan bersama sepulang sholat Ied

Sama dong kayak yang pada mudik ke kampungnya. Saya pun juga harus merasakan kebersamaan saat menyantap hidangan khas Lebaran meski bersama keluarga kecil saya. Lengkap dengan ketupat atau lontongnya juga ya 

5. Jalan-jalan keliling kota

Biasanya nih udah hari kedua mulai bingung tuh mau kemana. Tetangga pada mudik. Kawan juga mudik. Terus kita kemana? 

Mall biasanya udah buka mulai hari pertama Lebaran tuh. Cuman kan karena kita juga capek saat Lebaran hari pertama, di hari kedua bisa tuh jalan ke mall. Gak sepi kok mallnya. Malahan rame banyak pengunjung dari luar daerah juga. Mereka malah suka berombongan pakai mobil besar

Kalau gak mau ke mall, cari aja tempat wisata yang dekat. Pantai biasanya jadi pilihan orang buat wisata Lebaran. Tapi hati-hati ya dalam mengawasi anak. Maklum pantai kalau Lebaran gitu ramenya minta ampun. Lautan manusia judulnya

Atau bisa juga ke kebun binatang. Yang ini juga sama aja ramenya sama pantai kalau udah Lebaran

6. Menginap di luar kota

Sama lah dengan yang mudik ke kampung halaman. Yang gak mudik pun juga bisa kok jalan-jalan keluar kota. Cari aja tempat yang gak terlalu jauh dari rumah. Maksimal 4 - 5 jam perjalanan aja lah biar gak terlalu capek.

Mengingat hotel selalu penuh saat Lebaran, pesan dulu jauh hari. Ya kira-kira 1,5 bulan lah sebelum Lebaran. Apalagi kalau hotel yang dituju jadi favorit para wisatawan. Mungkin 2 bulan sebelum Lebaran udah habis.

Tapi kalau di luar kota ada saudara yang rumahnya boleh untuk kita menginap. Udah aja nginap disana. Selain hemat, bisa jadi ajang silaturahim juga kan

7. Berkunjung ke rumah teman atau saudara

Jika di tempat tinggal kita ada teman atau saudara yang bisa dikunjungi, berkunjung ke rumah mereka bisa buat Lebaran kita makin mengasyikkan. Beneran deh ...
Sambil silaturahim, Lebaran jadi makin meriah kan

8. Gak usah meratapi nasib

Ini yang paling penting. Jangan dong nangis terus seharian gegara gak bisa mudik. Gak lucu kan di hari yang seharusnya menyenangkan malah nangis melulu di kamar. Yang ada malah anak kita yang bingung liat emaknya nangis

Sekarang jaman udah canggih kok, gampang tinggal telpon orang tua dan saudara atau video call. Suara mereka bisa jadi obat rindu loh


Gimana tips saya tadi ? Masih tetep galau gegara gak mudik? Jangan galau lagi ya

Ayo ciptakan suasana Lebaran yang menyenangkan meski gak mudik ke kampung halaman 😍😍😍

Semoga bermanfaat ya, temans


Juni 15, 2017

Menatap Indahnya Danau Toba dari Inna Parapat Hotel

Weiiiiits, bentar lagi Lebaran ya. Mau mudik kemana niy? Atau yang gak mudik udah punya rencana liburan belum. Cerita liburan kami di Inna Parapat Hotel, mungkin bisa jadi inspirasi liburan Lebaran kalian

Bulan Maret kemarin kami liburan ke Parapat. Tau dong apa yang istimewa dari Parapat?  Yup, Danau Toba. Salah satu keindahan surga dunia yang diciptakan Allah bisa dinikmati di tempat ini

Udah 2 tahun lebih tinggal di Medan, baru itulah kami bisa jalan-jalan ke Parapat. Liburan kemarin itu emang udah jauh hari direncanain. Seperti biasa, sebelum pergi ke suatu tempat saya pasti cari info sebanyak-banyaknya. Terutama masalah penginapan. Maklum jarak Parapat dari Medan cukup lumayan sekitar 4 jam perjalanan. Sayang kan kalau udah sampai sana gak nginap

Untungnya kita hidup di jaman digital begini. Hampir setiap informasi bisa didapat dengan mudah. Sempat galau saat akan memilih hotel. Apalagi cerita "horror" soal penginapan di Parapat kerap saya dengar. Gak bersih dan jorok itu "horror"nya

Oke, akhirnya setelah beberapa pertimbangan. Pilihan jatuh ke 2 hotel besar di Parapat. Inna Parapat Hotel dan salah satu hotel besar yang ada di bukit. Galau karena dua-duanya bagus. Sampai akhirnya saya menemukan sebuah komentar. Main ke Danau Toba ya harus main air.  Iya ya bener juga. Fix akhirnya pilih Inna Parapat Hotel yang memang letaknya persis di pinggir danau

Agoda jadi aplikasi pilihan saya saat akan menginap di Inna Parapat Hotel. Berkali-kali ngintip harga, Kamis sore itu kami dapat harga terbaik dari Agoda. Lumayan diskonnya plus 10 % lagi kalau pesan lewat aplikasi

Bagian belakang hotel

Inna Parapat Hotel

Hari yang dinantikan tiba. Kami pun berangkat dari Medan jam 6.30 pagi. Udara yang cukup sejuk dan jalan lumayan padat di hari libur itu. Karena banyak orang Tionghoa pulang untuk berkunjung ke makam leluhur mereka saat Cheng Beng

Dua kali berhenti di SPBU untuk sarapan. Jam 10.30 kami sampai di Parapat.  Wah ternyata masih ada waktu 1,5 jam lagi buat check in. Kami pun turun dulu di Pantai Bebas Parapat. Tempat ini jadi hits setelah pemerintah Kabupaten Simalungun membangun tulisan I Love Danau Toba

Pantai Bebas Parapat

Adik yang dari awal berangkat udah gak sabar pengen masuk hotel ditambah cuaca Parapat siang itu yang panaaaas banget, minta buru-buru masuk hotel. Kami pun menuju ke hotel

Tiba di hotel jam 11.30 rupanya kami gak bisa langsung check in. Kata resepsionis kami baru bisa check in jam 2 karena masih banyak tamu yang belum check out di libur panjang akhir pekan itu. Daripada bengong kami pun memutuskan untuk jalan dulu ke Rumah Pesanggrahan Bung Karno. Tapi makan siang dulu ya. Maklum cacing di perut udah mulai manggil-manggil. Pohon mangga di depan hotel jadi saksi kami makan 😁

Makan siang dulu ya

Karena jarak hotel yang lumayan dekat. Kami jalan kaki aja ke Rumah Pesanggrahan Bung Karno. Matahari lagi ceria banget membuat jarak yang sebenarnya dekat jadi berasa capek. Sampai di Rumah Pesanggrahan Bung Karno kami duduk santai sambil melihat keindahan danau dan Samosir. Dan melihat orang-orang yang sedang bermain air tepat di bawah Rumah Pesanggrahan Bung Karno. Serta sesekali terdengar kapal boat melaju dengan banana boatnya

Rumah Pesanggrahan Bung Karno dengan pemandangan Danau Toba dan Samosir di depannya

Liat jam udah hampir jam 2, kami pun turun lagi ke hotel. Eh rupanya masih belum bisa masuk juga. Nunggu satu jam lagi katanya. Kamar masih dibersihkan. Oke gak papa lah, sambil nunggu saya sama adik jalan-jalan ke belakang. Dan woooow pemandangan menakjubkan terhampar di depan mata. Pasir putih, danau dan bukit terlihat mempesona. Cantik banget

Pemandangan dari dekat resepsionis dan restoran siang itu
Yippy akhirnya kami bisa masuk juga. Kontur tanah yang miring menyebabkan hotel yang menjadi bagian dari Hotel Indonesia Grup ini mempunyai banyak tangga di mana-mana. Bangunan satu dengan yang lain pun terpisah. Lumayan banget buat olah raga

Kontur tanah yang miring bikin hotel ini ada banyak tangga dimana-mana
Tangga yang mini
Bangunan terpisah pisah

Kamar yang kami dapat agak ke ujung tapi gak terlalu bawah sekali. Cukup turun tangga sekali abis itu naik tangga lagi 2 kali ... Wkwkwk. Luas banget kamarnya. Ada 2 single bed dan 1 double bed. Cocoklah buat kami berempat. Hotel yang usianya udah seabad ini kasurnya empuk, bersih, wangi dan AC baru. Jauh lebih bagus daripada yang di foto lah. Asyiknya lagi semua kamar disini punya view langsung ke danau

Double bed

2 single bed


Hotel toiletries

Inna Parapat 1920

Pasir putih di pantai buatan milik Inna Parapat Hotel ini bikin adik pengen cepet-cepet main air. Untung matahari udah mulai manis manja. Kami bertiga turun ke pantai. Kakak? Main hape aja di kamar katanya. Dan sekali lagi lewat tangga ya. Bener-bener olahraga teruslah disana

Senangnya yang bisa main pasir
Ada bebek-bebekan juga

Hamparan pasir putih buatan yang luas emang salah satu kelebihan Inna Parapat Hotel ketimbang hotel lain di sana. Hotel lain kebanyakan tidak mempunyai pantai. Atau kalau pun ada, bukan pantai berpasir tapi banyak batunya

Pemandangan pantai di pagi hari
Semilir angin sore itu membuat banyak pengunjung hotel bermain di pantai. Ada yang berenang, main pasir dan ada juga yang naik kapal. Suasana sore itu luar biasa. Suara boat lalu lalang dan musik khas Batak Toba dari kapal - kapal penyeberangan bikin hidup suasana.

Kapal khas di Danau Toba

Badan udah capek dan matahari mulai tenggelam, kami kembali lagi ke kamar.  Naik tangga ... Naik ... Naik. Wis banyak banget lah tangganya

Malam harinya kami makan bekal dari rumah di kamar. Faktor pengiritan makanya bawa bekal *prinsip ekonomi berlaku*. Udah kelar makan, kami jalan keluar hotel. Gak terlalu ramai ternyata. Lampu kelap kelip dari beberapa hotel disana terlihat. Ada juga penjual makanan berjejer di sepanjang jalan. Sosis bakar, sate Padang dan lainnya.

Malam semakin larut dan kami pun beristirahat. Terjawab juga rasa penasaran saya, kenapa hotel ini memakai AC. Parapat ternyata gak sesejuk Berastagi. Suasana malam disana juga gak sesunyi yang saya bayangkan. Berkali-kali terdengar suara klakson bus atau truk dan ambulans yang melintas di jalur yang menanjak dekat penatapan

Pagi pun tiba, selesai sholat Subuh saya dan suami jalan keluar kamar. Meski sudah mendekati jam 6 suasana masih cukup gelap. Sesaat kemudian terdengar lagu rohani diputar dari gereja di sana untuk memanggil warga setempat beribadat. Lonceng gereja pun berbunyi menunjukkan sudah jam 6 pagi

Suasana jam 5.45 pagi

Jam 6.30

Matahari yang masih malu-malu bersinar, membawa kami untuk menikmati hotel pagi itu. Melewati beberapa kamar. Tangga juga gak kelewat ya. Sambil olahraga juga menikmati indahnya danau. What a wonderful morning

Noh salah satu tangga, tapi yang ini masih mending. Gak curam

Asyik kan buat jalan pagi
Sambil duduk disini bisa menatap danau

Di balkon ini, pemandangan danaunya cantik sekali

O iya, lupa euy belum cerita. Inna Parapat Hotel ini pernah loh dikunjungi Pak Jokowi saat festival Danau Toba. Kamar yang dipakai bukan tipe kamar. Tapi sebuah rumah mungil cantik dengan batu bata eksposenya menjadi tempat Pak Jokowi menginap beserta ibu Iriana. Kalau mau menyewa rumah itu harganya daleeem bener. 6 juta semalam kata pihak hotel. Pas kami kesana ada loh yang lagi nginep juga

Pak Jokowi saat ke Parapat

Rumah kedua dengan batu bata ekspos itulah Pak Jokowi menginap
Kesan Pak Jokowi atas Inna Parapat Hotel

Main lagi di pantai pagi itu adalah suatu keharusan. Abis pemandangannya cantik banget sih. Biarpun gak main air kayak sore semalam.

Tak lama nampak 2 buah kapal penyeberangan bersandar di dekat hotel. Kapal ini melayani pengunjung privat dari hotel ke desa wisata Tomok di Samosir. Kata pemilik kapal buat sewa kapal ini kita harus bayar 900 ribu. Setelah sampai di Tomok penyewa diberikan waktu 2 jam untuk turun. Alhamdulillah bapak pemilik kapal baik banget, kami dikasih kesempatan gratis buat berfoto di atas kapal. Maklum belum punya keberanian buat nyebrang ke Tomok.

Kapal untuk menyebrang ke desa wisata Tomok

Kursi kapal ini khas Danau Toba banget. Hampir semua kapal disana bentuk kursinya sama seperti itu

Jalan pagi di hotel ini emang enak banget. Udaranya segar, bisa lihat pemandangan cakep plus bisa main sama anak-anak. Ada ayunannya dan bisa ngajakin anak kasih makan hewan loh. Kayak monyet lucu yang ada di kandangnya itu. Monyet? Iya monyet. Selain monyet ada juga burung dan ayam dalam kandang yang bikin anak senang

Kasih makan monyet

Bisa main ayunan juga disana

Pot bentuk gerobak depan rumah bata ekspose

Asyik main eh lupa kalau belum sarapan. Kami pun segera ke restoran. Alhamdulillah ada meja makan kosong persis dekat jendela *sesuai dengan impian sebelum berangkat*. Deretan meja berisi makanan terlihat di restoran untuk para tamu yang akan sarapan. Menunya beragam. Mulai dari snack sampai makanan berat. Kebanyakan khas Indonesia. Rasanya enak sesuai dengan lidah saya. Ya kalau boleh saya nilai 8,5 lah. Anak-anak juga suka

Sarapan plus lihat pemandangan cantik danau itu sesuatu

Bubur ayam ini enak banget

Bukan diskusi kenaikan harga cabe  :D

Ludes des des

Selesai sarapan kami pun bersiap untuk check out lebih awal karena akan mampir ke Pematang Siantar dulu. Barang pun sudah dikeluarkan ke lobby. Tak sengaja mata saya tertuju ke foto Pak Jokowi saat berkunjung ke Inna Parapat Hotel. Bukan sekali saya melihat foto pak Jokowi itu tapi baru saya sadari ada 2 rumah adat sebagai back ground.

Penasaran saya tanya ke pihak hotel tentang keberadaan rumah adat itu. Ternyata rumah adat itu adalah salah satu kamar di hotel ini. Oleh sekuriti kamipun diantarkan ke kamar rumah adat. Pantas aja saya gak ngeh akan keberadaan 2 rumah adat bergaya khas Batak ini. Lah wong pintu masuknya beda.

Rumah adat itu tepat berada di belakang kafe milik Inna Parapat Hotel. Padahal saat jalan ke Rumah Pengasingan Bung Karno saya lewat bagian belakang rumah adat itu. Mungkin karena ketutup pagar saya gak kepikiran kalau itu masuk Inna Parapat Hotel. Dan kami pun diberi kesempatan untuk melihat bagian dalam kamar rumah adat. Etnik banget dengan dinding kayunya berwarna coklat. Pecinta etnik cocok kalau ambil kamar rumah tradisional ini

Kamar rumah adat
Tampak dalam kamar rumah adat. Kamar mandi ada di bawah tangga

Untuk bisa menikmati kamar ini siapkan dana 1,3 juta

Keramah tamahan pegawai hotel, fasilitas oke, makanan enak dan pantainya cantik gak heran bikin hotel ini selalu jadi favorit buat wisatawan yang datang ke Parapat ini. Apalagi kalau mager alias malas gerak keluar hotel kayak kami, hotel ini pas banget buat liburan. Fasilitas kolam renang juga sudah ada loh. Makin memanjakan pengunjung hotel kan. Dan dari hotel ini kita bisa dengan puas menikmati Danau Toba yang terkenal itu 

Tertarik buat liburan Lebaran di Inna Parapat Hotel ? Ayo buruan pesan supaya gak kehabisan kamar










Juni 14, 2017

Buka puasa di Pondok Telaga Ikan, Kuala Namu

Mulai awal minggu lalu pas papanya luar kota, pengen banget makan di luar. Pengen ini pengen itu tapi apa daya gak bisa nyetir *makanya belajar nyetir 😁😁*. Yah udah lah di rumah aja, gak kemana-mana. Sempet juga siy beli di kedai nasi depan komplek sama Kak Lala ( guru ngaji adik ). Lauk sama sayurnya dibungkus

Kamis sore papanya pulang juga dari Pematang Siantar. Tau kalau istrinya pengen buka puasa di luar. " Jum'at aja gimana? " katanya. Daripada Jum'at mendingan Sabtu aja, pikir saya

Papanya ngajakin ke arah kota, tapi saya yang malas. Pengen ke arah bandara aja. Pondok Telaga Ikan di Kuala Namu. Atau Batang Kuis ya lebih tepatnya ... Entahlah. Penasaran siy karena beberapa kawan pernah kesana


Jum'at malam papanya telpon untuk booking tempat. Dari beberapa foto yang beredar di sosmed, kayaknya pondok di atas kolam cukup menarik. Eh kami kalah cepat, pondok dan area AC non rokok udah dibooking orang duluan. Oke gak papa, papanya minta tempat yang pinggir dekat kolam aja

Fix dapat tempat, malam itu juga saya hubungi Kak Lala via DM Instagram. Janjian jam 5.15 di depan Wisma Tanjung Morawa hari Sabtu sore

Setelah mandi, jam 5 lebih kami berangkat. Kak Lala, saya DM supaya nunggu di tempat kami janjian kemarin. Alhamdulillah, gak macet di tempat Kak Lala nunggu yang emang deket juga sama lampu merah. Karena biasanya kalau udah malam Minggu, macetnya ampuuuun deh di sana. Jam 6 kurang sedikit kami sampai. Belum juga masuk mobil, bapak penjaga parkir nanyain. " Udah booking belum? " katanya. Kami bilang sudah semalam

Bangunan dengan konsep tradisional Bali terlihat menyambut kami. Patung bergaya khas Bali, kain kotak berwarna hitam putih dan payung warna kuning keemasan semakin mempertegas aura Bali di Pondok Telaga Ikan, Kuala Namu ini

Nuansa Bali udah terasa dari pintu masuk
Patung Ganesha
Meski gak sampai satu jam lagi Maghrib, ternyata masih banyak tempat kosong. Hanya kertas putih bertuliskan reservasi saja ada di semua meja. Hmmm, pantas tadi bapak di depan nanyain kami udah booking belum. Oleh pelayan disana kami diberi meja no 40 dan 41. Tepat di tepi kolam sesuai permintaan kami

Ayam kampung goreng kering, udang asam manis, tumis tauge teri, tahu tempe gorengan dan terong bakar. Menu itu yang jadi pilihan kami. Serta jus buah untuk berbuka nanti

Daftar menu

Sambil menunggu waktu berbuka, saya ajak adik dan Kak Lala keliling sambil foto-foto. Dari 4 pondok lesehan kecil yang fotonya sering kali tampil di sosmed. Hanya 1 yang udah ada orangnya. 3 lainnya masih kosong. Mumpung masih kosong, bisa lah numpang foto sebentar ... hihihi. Cantik juga tempatnya. Pondok dengan meja kecil untuk lesehan dihiasi kelambu putih, cukup eye cacthing buat pengunjung yang pengen foto

Ini niy tempat paling hits di sosmed
Cantik ya pondoknya
Lampu bentuk bunga
Cekrek cekrek selesai, kami mencoba ke tempat yang lain. Udah rejekinya kali ya, 2 pondokan berukuran besar kosong juga. Yang pesan belum pada datang. Sama dengan pondok kecil tadi. Pondok berukuran besar ini juga dihiasi kelambu putih. Bedanya di pondok besar, tersedia meja berukuran panjang. Cocoklah buat pengunjung dengan rombongan lebih banyak


Pondok berukuran besar
Tepat di samping pondok besar itu, nampak sederet kandang ayam dan burung. Adik suka banget apalagi sama ayam yang pakai kaos kaki kalo kata Kak Lala *abisnya gak tau juga apa namanya 😅😅* . Kayaknya siy ayam impor, ukurannya besar dan di kakinya tumbuh bulu lebat

Deretan kandang unggas
Ini ayam namanya apa ya
Di bagian belakang resto juga terdapat kapal berwarna biru putih yang berada di atas kolam. Kalau mau naik boleh kok. Tapi ada tarifnya

Kapal di kolam belakang
Udah keliling, kami pun kembali ke meja. Alhamdulillah makanan yang dipesan udah ada. Lumayan cepat juga sekitar 20 menit aja. Tengok jam eh Maghrib masih 15 menit lagi

Dung ... Dung ... Dung ... Alhamdulillah bunyi bedug dan adzan Maghrib terdengar juga. Seperti kata iklan, berbuka lah dengan yang manis. Saya pun memilih untuk langsung minum jus martabe pesanan saya. Segeeeeer

Sebelum makan, kami sholat Maghrib bergantian. Meski ruang wudhu nya cukup terbuka dan menyulitkan untuk muslimah yang berjilbab. Letak mushola berukuran cukup besar dan bersih yang tepat di depan, jadi salah satu nilai plus dari restoran ini

Mushola
Sholat sudah, kami mulai makan menu yang tadi udah dipesan. Entah mungkin karena di bulan puasa jadi koki tidak bisa merasakan masakannya. Ayam kampung goreng kering yang kami pesan, kurang gurih dan masih agak keras menurut saya. Bukan karena tanpa penyedap seperti yang tertulis di daftar menunya. Feeling saya siy kurang bumbu, garam dan kurang lama sedikit merebusnya

Ayam kampung goreng kering
Udang asam manisnya sebetulnya bumbunya saya suka. Enak. Tapi mungkin karena udang ukurannya yang besar dan sebelum dibumbui digoreng terlebih dulu, bumbu asam manis yang sudah enak itu jadi gak meresap. Mungkin kalau digoreng tepung lepas kulit, akan lebih baik

Udang asam manis
Menu yang lain seperti tempe tahu goreng, terong bakar dan tumis tauge teri nya ... Enyak. Cocok lah dengan lidah saya. Gak terlalu pedas dan gak berminyak. Sambal kecapnya asli nendang banget

Tumis tauge teri

Terong bakar

Sambal kecap
Tempatnya yang nyaman itu, membuat kami gak langsung beranjak dari tempat duduk. Selesai makan pun kami masih jalan-jalan lagi keliling. Lumayan untuk bakar lemak .... Hihihi. O iya, bentuk tempat cuci tangannya menarik loh. Lantainya dibuat agak miring, jadi gak ada sisa nasi yang tertinggal di situ

Lorong ini juga favorit buat foto

Lantainya yang miring, bikin kotoran langsung mengalir
Suasananya memang nyaman sekali. Bersih, jarak antar meja yang cukup lebar, pemandangan yang menarik dan menu yang cukup beragam membuat pengunjung nyaman. Pelayanannya yang cepat plus ramah bikin pengunjung makin betah

Selesai membayar, kami pun berfoto dulu di depan akuarium besar. Eh kok ada mister bule iseng senyum senyum sambil jinjit kaki dadah dadah liatin kami persis di belakang mbak pelayan yang lagi motoin kami. Ya udah lah, saya panggil buat foto bareng.  Wkwkwk ... Eh mister yang baru turun pesawat itu mau loh

Foto sama mister bule sebelum pulang  :D
Kesimpulan saya siy, Pondok Telaga Ikan Kuala Namu bisa jadi referensi kuliner bersama keluarga. Hommy banget. Yang mau ke bandara atau baru turun pesawat, tempat ini cukup strategis. Gak jauh dari bandara