Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di blog ini . Powered by Blogger.
  • Home
  • Contact Me
  • About Me
  • Category
    • KULINER
    • LIBURAN
    • LOMBA BLOG
Facebook Google Plus Instagram

Ibu Dila

Setiap langkah adalah berharga


Jumpa lagi dengan saya di postingan kali ini

Kemarin saya kok mendadak pengen cerita, pengalaman saya raun - raun naik becak motor di Medan sama Mama saya. Yang belum tau apa itu raun -raun, saya kasih tau nih

Raun - raun itu dalam bahasa Medan artinya jalan -jalan. Mungkin diambil dari Bahasa Inggris " round " . Karena lidah orang Indonesia agak belibet ngucapin " round " jadilah raun. Selain raun - raun, masih banyak lagi bahasa Medan yang cukup unik

Seperti apa keunikan bahasa Medan, yuk mampir ke postingan saya yang ini

***

Jadi ceritanya beberapa minggu lalu, saat Mama mau pulang ke Semarang. Mama pengen cari oleh - oleh makanan. Berhubung oleh - oleh makanan khas dari Medan kebanyakan berupa makanan basah yang ketahanannya gak lama, jadi harus dadakan dong carinya

Sabtu itu suami kebetulan ada acara di kota jadi gak bisa antar kami. Ya udah saya ajak Mama buat naik becak motor aja dari tempat acara suami di Hotel Grand Aston City Hall

Dan ini jadi pengalaman saya pertama naik becak motor di tengah kota Medan, karena selama ini hanya di komplek atau sekolah adik aja

Dengan titik start di samping hotel, pagi itu saya menyetop sebuah becak motor yang lewat. Abang becak yang sedang melaju cukup kencang itu, segera menepikan becak motornya

" Bang, bisa antar kami ke jalan Mojopahit ? Tapi sebelumnya sarapan dulu di Soto Sinar Pagi. Berapa tarifnya , Bang ?" tanya saya. " Aduh, berapa ya ? Terserah aja mau kasih berapa " tanya Abang becaknya. "Seratus ribu gimana ?" tanya saya. " Iya ... iya " katanya sumringah. " Nyetirnya jangan ngebut ya, Bang " kata saya sebelum naik becak motor

Bertiga kami naik ke becak motor. Sambil jalan, saya tanya siapa nama Abang itu. Ternyata namanya Ponco, orang Jawa. Jadilah saya dan Mama memanggilnya Mas Ponco. Rumahnya di Tembung tapi biasa mangkal di Lapangan Merdeka ( dekat dengan hotel tempat kami menyetop becaknya )

Dan sepanjang perjalanan kami, Mas Ponco cukup ramah dan paham tentang sejarah tempat - tempat yang saya tanyakan. Agak terkejut juga saya. Dua jempol deh pokoknya

Pemberhentian pertama kami di Soto Sinar Pagi yang legendaris itu. Kedai soto yang terletak di jalan Sei Deli Medan itu terlihat tidak terlalu mencolok. Berada di pojokan jalan dan terlihat cukup ramai

Begitu masuk, saya langsung ditawari mau makan soto apa. Daging ayam atau lembu ( biasa orang Medan menyebut sapi ). Soto babat atau paru juga ada. Dan kami pun memilih soto daging lembu tanpa jeroan. Harga 30 ribu per porsi soto. Untuk nasi putih 5 ribu

Soto Sinar Pagi yang legendaris itu
Baru duduk sebentar soto udah datang disertai pelengkap lainnya. Ada rempeyek udang, perkedel dan agar-agar dingin warna pink. Ekpress banget deh. Es jeruknya juga gitu. Baru pesan eh udah datang aja. Saya bisikin ya, agar - agarnya endeees loh. Sederhana aja rasanya tapi bikin kangen. Yang menarik penyajiannya di dalam gelas dan ditaruh terbalik

Soto Sinar Pagi ini rasanya enak. Meski memakai santan tapi rasanya segar loh. Gak heran kedai soto yang sudah berdiri hampir 50 tahun ini tetap ramai dikunjungi orang. Jangan lewatkan tempat kuliner ini deh kalau ke Medan

Agar- agar dingin ini disajikan 3 buah dalam satu piring stainless steel

Deretan minuman di dinding, salah satu yang khas di Medan ini adalah minuman Cap Badak

Selesai sarapan di Soto Sinar Pagi, kami pun melanjutkan perjalanan. Rupanya kami melewati Kuil Shri Mariaman, sebuah kuil tempat ibadah umat Hindu India

Tempat yang biasanya saya lihat saat pulang dari Sun Plaza. Saya pun minta Mas Ponco untuk berhenti sebentar. Tepat di pintu masuk, seorang ibu berusia kira - kira setengah abad meminta kami melepas alas kaki. Saya pun meminta ijin buat masuk ke halaman kuil. Dan oleh ibu tersebut kami diijinkan

Bau duba untuk sembahyang mereka menyeruak sejak pintu masuk. Dari luar saya lihat tak banyak orang di dalam kuil. Hanya satu dua orang saja. Dan ada seorang pria di luar sedang bersembahyang. Orang India memang cukup lumayan jumlahnya di Medan ini dari jaman dulu, tak heran jika kuil ini berada di tengah kota letaknya. Setelah mengambil beberapa gambar, saya pun permisi keluar

Di halaman Kuil Shri Mariaman Medan
Pernikahan Shri Laxmi
Lanjut lagi perjalanan ke Jalan Mojopahit yang terkenal sebagai pusat oleh-oleh Medan. Apa aja siy oleh - oleh Medan ?  Ini dia oleh - oleh Medan

Tujuan kami pertama di Bika Ambon Zulaikha. Sebuah toko dengan dominasi warna kuning itu jadi tempat Mama mencari bika Ambon dan teri nasi. 2 kg teri nasi kering dan 2 bika Ambon rasa keju pun dibawa pulang

Masih di jalan yang sama, kami pun berhenti di Risol Gogo. Di hari yang sudah beranjak siang itupun, antrean pembeli sudah terlihat duduk berderet di depan penggorengan. Daripada lama menunggu, saya pun memilih risol yang belum digoreng. Antrenya gak sebanyak yang udah digoreng

Harganya sama aja 2250 rupiah per bijinya

Antri di Risol Gogo
Ke Soto Sinar Pagi sudah, bika Ambon dan teri nasi juga sudah di tangan. Risol Gogo pun didapat

Kami pun melanjutkan perjalanan kembali ke hotel untuk ketemu suami. Ternyata raun - raun naik becak motor di pusat kota Medan itu menyenangkan loh. Semilir angin sambil lihat gedung-gedung bersejarah di kota Medan. Aiiish sedapnya. Jadi pengen ngajak si kakak dan suami keliling pusat kota Medan naik becak motor deh

Yuk cerita pengalaman teman- teman yang pernah naik becak motor di Medan dong. Salam ...


Share
Tweet
Pin
Share
24 comments





Hai, jumpa lagi dengan saya di postingan ini. Kali ini saya mau berbagi cerita dengan kawan-kawan tentang sebuah tempat menarik yang berada di Tanjung Morawa, Deli Serdang - Sumatera Utara

Di pertengahan Agustus lalu saat hendak pulang dari bandara,  tingkat penasaran saya muncul lagi ketika melewati pagar pembatas samping Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa. Berkali - kali lewat disana, penasaran memang tetapi kali itu rasa penasaran saya jadi lebih. Kendaraan yang dikendarai suami saat itu pelan sekali, terlihat saat itu beberapa bangunan era kolonial Belanda. Wow bagus sekali, saya pikir saat itu. Sempat saya katakan ke suami, suatu saat saya akan kesana

***

Angin segar kemudian saya dapatkan dari Kak Eka, kawan di sekolah anak saya, saat dia mengatakan bahwa rumahnya di komplek PTP.  Saya pikir ya yang saya lihat itu. Rupanya rumah Kak Eka berada di dekat tanah lapang, sebelah Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa. Dari Kak Eka itulah saya tahu nama tempat yang saya maksud adalah Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa. Yang lebih dikenal masyarakat sekitar dengan keberadaan Rumah Sakit GL Tobing PTPN 2 Tanjung Morawa. Sebuah rumah sakit yang letaknya di dalam Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa

Kepada Kak Eka, saya mengatakan ingin ke tempat itu. Akhirnya oleh Kak Eka saya pun diantar ke Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa. Untuk bisa memasuki ke kompleks Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa dan mengeksplor di dalamnya boleh dibilang tidak mudah tapi juga tidak sulit. Diperlukan ijin untuk memasuki area itu. Karena memang area itu berada di bawah Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa

Tapi jika hanya ingin berkunjung ke RS GL Tobing PTPN 2 Tanjung Morawa, tidak diperlukan ijin khusus

****

Bicara tentang PTPN 2 Tanjung Morawa artinya berbicara tentang kejayaan tembakau Deli di masa silam yang menjadikan Medan sebagai kota metropolitan. Dan bicara tentang Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa, selain berbicara tentang kejayaan tembakau Deli di mata dunia. Juga berbicara tentang Kampung Keramat dan Simpang Kayu Besar - Tanjung Morawa

Kampung Keramat adalah sebuah kampung yang dulunya ada di kawasan Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa. Dahulu kampung itu terdiri dari banyak rumah kayu yang dihuni oleh banyak para pekerja PTPN 2 Tanjung Morawa. Hingga akhirnya di tahun 1990 an, keberadaan Kampung Keramat tergantikan oleh lapangan golf yang sekarang berada di area Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa

Rumah semacam kayu inilah kira-kira di Kampung Keramat saat itu

Kak Eka bercerita kepada saya, bahwa dahulu saat dia masih sekolah selalu bermain disana bersama kawan-kawannya. Mengambil mangga, bermain di danau yang banyak terdapat di sana, berkunjung ke kawan dan sebagainya. Dan oleh Kak Eka saya ditunjukkan pohon mangga yang dulu sering ditunggu buahnya itu

Pohon mangga di belakang pohon sawit itulah dahulu Kak Eka dan kawannya suka mengambil buahnya

Dulu saat pagar pembatas tinggi belum ada, pohon-pohon sawit yang mengelilingi area Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa itulah yang seolah-olah menjadi pagar disana. Dan sampai sekarang pun pohon - pohon sawit masih terlihat di area seluas 96 hektar itu

Simpang Kayu Besar - Tanjung Morawa siapa siy yang tidak kenal dengan simpang empat itu. Nama Simpang Kayu Besar, ternyata diambil dari keberadaan pohon-pohon berdiameter besar yang dahulu ada disana. Keberadaannya pun hilang seiring dengan pembangunan lapangan golf di Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa di tahun 1990 an, bersamaan dengan hilangnya Kampung Keramat itu sendiri

****
Dan inilah petulangan saya berkeliling selama 2 hari bersama Kak Eka di PTPN 2 Tanjung Morawa

1. Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa

Setelah saya memasuki gerbang utama, kompleks Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa inilah yang terlihat pertama kali. Kantor PTPN 2 ini merupakan bekas kantor Senembah Maatschappij. Yaitu sebuah maskapai tembakau milik Belanda. Sebelum dimiliki oleh maskapai Senembah Maatschappij, area yang dulunya merupakan perkebunan ini dimiliki oleh Firma Naeher & Grob. Yaitu sebuah usaha patungan antara Hermann Naeher yang berkebangsaan Jerman ( Bavaria ) dan Carl Furchtegott Grob seorang pengusaha berkebangsaan Swiss. Dan pada 30 September 1889, Firma Naeher & Grob secara resmi berpindah tangan ke Senembah Maatschappij. Keberadaan sungai Sei Belumai ( sungai Belumai ) yang persis di samping pintu masuk PTPN 2 Tanjung Morawa ini, saat itu merupakan sarana ideal untuk memenuhi pasokan kebutuhan dan pengiriman hasil produksi perkebunan

Usai kemerdekaan Indonesia, di tahun 1958 maskapai Belanda ini resmi dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia. Di bawah Undang-Undang no 86 mengenai Nasionalisasi Perusahaan - Perusahaan Milik Belanda di Indonesia yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno pada 27 Desember 1958

Dan pada 11 Maret 1996 PT Perkebunan Nusantara 2 atau biasa disingkat PTPN 2 didirikan sesuai Akta No. 35 dibuat di hadapan Harun Kamil, SH Notaris Jakarta. Perseroan didirikan atas dasar SK Menteri Keuangan Republik Indonesia No.188/KMK.061/116 tentang Penempatan Modal pada PT Perkebunan Nusantara 2 ( Persero )

Gerbang PTPN 2 Tanjung Morawa dari dalam


Kantor Utama


Senembah Maatschappij pun juga pernah menjadi bagian dari kisah hidup Tan Malaka. Pada Desember 1919, Tan Malaka pulang ke Indonesia dengan membawa akte pengajar. Oleh Dr CW Janssen, Tan Malaka ditawari untuk mengajar anak-anak pekerja perkebunan tembakau Senembah Maatschappij. Tan Malaka mengajar disana selama setahun

Sekolah yang pernah diajar oleh Tan Malaka ( sumber gambar : plantersclub.blogspot.com )

Memasuki area kantor yang terdiri dari beberapa gedung beraksitektur kolonial yang sudah direnovasi di beberapa bagian. Tampak banyak pohon tinggi dengan diameter besar. Sebuah pesawat terbang penyiraman / penyemprotan tembakau buatan tahun 1977 terpajang di depan pintu utama Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa. Namun sayang, pada tahun 2007 pesawat tersebut dihentikan pengoperasiannya. Pesawat ini memiliki fungsi sama dengan pesawat yang saya lihat sebelumnya di Museum Perkebunan Indonesia yang terletak di Jalan Katamso Medan. Tulisan saya tentang Museum Perkebunan Indonesia dapat dibaca disini

Dan hingga sekarang kompleks itu masih digunakan sebagai kantor untuk kegiatan operasional dari PTPN 2 Tanjung Morawa






Pesawat Penyiraman Tembakau


2. Rumah Sakit GL Tobing PTPN 2 Tanjung Morawa

Dari laman milik PTPN 2 dijelaskan bahwa Rumah Sakit GL Tobing adalah rumah sakit milik PT Perkebunan Nusantara 2. Rumah Sakit yang awalnya didirikan untuk memberikan pelayananan kesehatan untuk karyawan dan keluarganya, pada perkembangannya juga diperuntukkan bagi masyarakat umum. Rumah Sakit GL Tobing PTPN 2 Tanjung Morawa, saat ini memiliki  106 tempat tidur. Menempati area seluas 9540 m2, Rumah Sakit GL Tobing adalah rumah sakit tipe C+





Rumah Sakit yang mempunyai nama HOSPITAAL TE TANDJONG MORAWA ini didirikan pada tahun 1882 dan dikepalai oleh Dr. Hauser seorang dokter dari Jerman. Dan ketika itu rumah sakit ini dimiliki oleh Firma Naeser & Grob

Berdasarkan keputusan Direktur Utama PN Perkebunan 2 Kolonel MD Nasution pada tahun 1969, Rumah Sakit PN Perkebunan 2 ini pun berganti nama menjadi Rumah Sakit GL Tobing PN Perkebunan 2 Tanjung Morawa. Nama itu diambil dari seorang dokter bernama Gerhard Lumban Tobing. Beliau bertugas sebagai dokter di daerah Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Ketika tahun 1950 saat terjadi konflik bersenjata di dekat jembatan Sei Belumai ( Jembatan yang tepat berada dekat pintu utama PTPN 2 Tanjung Morawa ), dokter GL Tobing terkena luka tembak. Dan beliau pun dibawa ke rumah sakit ini untuk diberikan pertolongan. Namun sayang beliau tidak dapat diselamatkan

Rumah Sakit GL Tobing PTPN 2 Tanjung Morawa ini memiliki beberapa gedung. Tapi yang paling menarik adalah gedung berwarna krem yang merupakan gedung peninggalan Belanda. Gedung berarsitektur kolonial Belanda ini memiliki beberapa ruang inap. Dengan teras panjang di sepanjang ruang perawatan, jendela dan pintu berukuran besar. Gedung ini masih terlihat gagah













3. Penangkaran Rusa

Sama halnya di Universitas Sumatera Utara, PTPN 2 Tanjung Morawa juga memiliki penangkaran rusa. Hewan cantik itu merupakan hibah dari penangkaran Universitas Sumatera Utara di tahun 2011. Dengan luas kandang 10.000 m2, rusa - rusa itu terlihat berlarian kesana kemari. Di penangkaran ini terdapat 3 jenis rusa yaitu, Rusa Tutul ( Axis Axis ), Rusa Sambar ( Cervus Unicolor ) dan Rusa Bawean ( Axis Kuhli )







4. Lapangan Golf

Dengan area yang cukup luas, tak heran jika lapangan golf bisa dibangun di area PTPN 2 Tanjung Morawa ini. Meski keberadaannya menghilangkan sebuah kampung bernama Kampung Keramat di tahun 1990an. Seperti yang saya ceritakan di awal postingan ini. Dan juga perkebunan yang dulu pernah berada disana. Lapangan dengan 18 lubang ini terlihat sangat cantik. Dikelilingi dengan hijaunya pepohonan, beberapa danau dan jembatan kecil

Saat saya dan Kak Eka kesana kemarin terlihat beberapa orang lanjut usia sedang bermain golf. Alhamdulillah, saya sempat berbincang dengan beliau semua. Awalnya saya mengira mereka adalah para pensiunan PTPN 2 Tanjung Morawa. Rupanya beliau semua bukan pensiunan PTPN 2 Tanjung Morawa. Ada yang tentara dan pegawai Pemkot. Bersama kedi mereka pun melanjutkan permainan mereka dan menyeberangi jembatan di tengah cerahnya sinar matahari pagi kemarin







5. Mess Tamu Kantor dan Kantin

Bangunan ini bukan berarsitektur Kolonial Belanda. Saya perkirakan dibangun antara tahun 1970-1990 an. Namun sayangnya keberadaannya tak lagi dapat dinikmati seutuhnya dikarenakan kebakaran yang terjadi pada 18 Maret 2014 lalu. Mess tamu kantor dan kantin sehari-harinya dulu digunakan sebagai tempat bersantap makan oleh para pegawai kantor. Kebakaran yang menghanguskan mess tamu itu dipicu dari ledakan tabung gas di area dapur kantin. Dan sejak itu mess tak lagi digunakan

Disinilah dulu para tamu memasuki mess ini

Meja resepsionis di bawah plafon yang mulai rusak

Bekas kamar mess yang terbakar

Bekas kamar mess yang terbakar

Bangunan mirip pendopo itu adalah kantin 
6. Danau- danau cantik

Di dalam komplek Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa ini terlihat banyak danau. Entah berapa jumlahnya. Semula saya mengira danau-danau itu adalah danau buatan. Rupanya bukan. Seorang pegawai disana mengatakan keberadaan danau itu muncul saat pecah perang di Tanjung Morawa, cerita yang diperolehnya dari Kakeknya dan Kakek Buyutnya. Tapi dari versi yang saya baca, dahulu di kawasan ini banyak rawa. Mungkin inilah yang akhirnya menjadi danau seperti yang saya lihat kemarin. Mana yang benar entahlah. Yang jelas danau-danau disana cantik semua




Patung rusa itu keberadaannya sudah ada dari Kak Eka kecil. Dahulu banyak anak bermain disana sebelum diberi pagar pembatas oleh PTPN 2 Tanjung Morawa


7. Bangunan jaman Belanda

Di area ini PTPN 2 Tanjung Morawa ini terdapat banyak sekali bangunan berarsitektur kolonial Belanda. Mulai dari perkantorannya sendiri, rumah dinas para Direksi dan Kepala Bagian, Puri dan yang paling menarik perhatian saya adalah keberadaan bangunan tua yang disebut oleh orang sekitar sebagai bunker pertahanan Belanda. Bangunan yang sudah tinggal sedikit tersisa ini, saat ini mulai ditutupi oleh akar pohon. Meski begitu tetap terlihat menarik bagi saya

Bunker Pertahanan Belanda

Foto - foto rumah di bawah ini baru sebagian dari rumah peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang masih tersisa hingga sekarang






Sebuah bangunan panjang nampak bersebelahan dengan sebuah tangki air peninggalan Belanda berwarna perak. Yang disebut Puri juga menarik perhatian saya. Menurut cerita pegawai disana, bangunan itu saat masa kecilnya dahulu adalah gedung bioskop. Yang pada masa itu sering memutar berbagai macam film lengkap dengan kursi kayu panjangnya. Dengan berjalannya waktu, keberadaan bioskop itupun tergantikan menjadi ruang pertemuan yang sampai saat ini masih digunakan

Puri yang dahulunya adalah sebuah bioskop

Puri
8. Menara Air PTPN 2 Tanjung Morawa

Tak lengkap rasanya bila kunjungan saya ke Puri Tri Adiguna bila tak mengunjungi tangki air yang merupakan ikon dari Tanjung Morawa ini. Bila biasanya saya hanya melihat tangki yang saat ini dicat berwarna hijau ini dari luar. Kali ini saya bisa melihatnya dengan jelas dari dalam area Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa

Menara Air ini yang biasa saya lihat dari jalan raya, dan ini penampakan dari dalam

Kebutuhan air di area ini saat itu sudah dipikirkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda, dan dibuatlah tangki air itu lengkap dengan pompa air dan bak penampungannya. Menurut informasi yang saya dapat, sumber air di tangki itu berasal dari Gunung Rintis di kecamatan Tanjung Muda Hilir - Deli Serdang. Dahulu air dari Gunung Rintis dialirkan ke bak penampungan sebelum akhirnya dinaikkan ke tangki air. Kemudian pada jam 5-8 pagi air dari tangki dialirkan ke area perkebunan Tanjung Morawa hingga ke Batang Kuis. Dan di sore hari mulai jam 5 hingga jam 8 malam, air kembali dialirkan

Bangunan beratap coklat rendah itu adalah bak penampungan air sebelum dialirkan ke perkebunan dan warga. Dan bangunan dengan tembok putih itu adalah rumah mesin pompa

Namun sayang, akibat banyak warga yang nakal. Air yang seharusnya mengaliri warga di kawasan perkebunan Tanjung Morawa hingga ke Batang Kuis, malah banyak dicuri warga yang rumahnya dilewati aliran pipa sebelum tiba di penampungan air tepat di bawah tangki. Mereka mencuri air dengan cara melubangi pipa besinya. Airnya sendiri digunakan mereka bukan hanya untuk keperluan sehari-hari tapi juga untuk mengaliri kolam ikan mereka

Akhirnya beberapa tahun ke belakang, operasional aliran air dari Gunung Rintis pun diberhentikan. Meski demikian sampai sekarang keberadaan pompa air di Gunung Rintis tetap ada

Pipa air yang sudah ada dari jaman Belanda

Jika saat ini tangki air yang terlihat hanya berjumlah 1, dahulunya menara tangki air yang tingginya sekitar 50 meter itu itu berjumlah 2. Tak heran dulu disebut dengan Menara Kembar.  Dengan warna perak seperti yang saya lihat di Puri sebelumnya. Kemana tangki air satu lagi ? Pada tahun 2013 tangki air satu lagi dipindahkan ke masjid Ubuddiyah Aulawiyah. Masjid PTPN 2 Tanjung Morawa ini letaknya tepat di seberang area Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa

Tak jauh dari Menara Air, terlihat sebuah bangunan yang berfungsi sebagai ruang genset. Dengan 2 mesin genset berukuran besar , genset itu memenuhi kebutuhan listrik di semua area Puri Tri Adiguna PTPN  2 Tanjung Morawa saat listrik PLN padam. Mesin genset ini dijaga petugas dengan sistem kerja shift


Cerobong lama terlihat di bagian belakang rumah genset

Mesin genset

9. Rumah Dinas Direktur Utama PTPN

Sebuah rumah cantik berlantai 2 terlihat berdiri kokoh di tepi danau. Rumah bergaya kolonial Belanda ini sudah berdiri dari 1906. Dengan warna cat putih dan genteng tanah liat, keindahan rumah dinas Direktur Utama PTPN menjadi magnet bagi siapa saja yang memandangnya. Meski saya hanya bisa memandang rumah tersebut dari tepi danau, saya sangat menyukainya

Rumah Dinas Direktur Utama PTPN 2 Tanjung Morawa

Di tengah teriknya matahari siang saat itu, keberadaan rumah cantik itu seolah-olah menjadi penyejuk mata saya. Tepat di danau depan rumah, terlihat sebuah pesawat berwarna putih jingga mengambang di atas danau. Pesawat berukuran kecil mirip dengan yang ada di depan Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa



Tak heran jika tempat ini menjadi favorit para pasangan muda saat melakukan sesi pemotretan Pre Wedding. Untuk dapat melakukan sesi pemotretan, silakan datang ke Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa untuk mendapatkan ijin

10. Komplek Makam Tua

Ini adalah bagian yang tidak terduga bagi saya dan Kak Eka. Sebuah komplek kecil tepat di sisi Sei Belumai, terdapat beberapa makam tua. Dua buah makam terlihat berbeda karena memiliki panjang 3 meter. Menurut cerita seorang pegawai disana, beliau pernah berjumpa dengan rombongan turis dari Belanda yang mengatakan bahwa 2 buah  makam yang panjangnya 3 meter adalah makam orang Belanda. Turis dari Belanda itu rupanya sempat mengalami masa kecil disana dan lahir di kawasan itu

Sedangkan makam-makam lain yang ukurannya lebih kecil merupakan makam dari para Datuk, demikian orang disana menyebut. Terlihat dari bentuk nisan yang memang berbeda dari makam yang panjangnya 3 meter itu. Makam para Datuk itu terlihat mempunyai nuansa khas Melayu


Komplek makam tua di bawah pohon rindang
 ****

Dari apa yang saya lihat disana, ada hal lain yang juga mempesona buat saya. Sejuknya pepohonan rindang yang menjadi penyejuk panasnya Tanjung Morawa, sampah yang nyaris tak terlihat dan hamparan hijaunya rerumputan yang terlihat dirawat ( tidak ada rumput tinggi terlihat hingga ke pelosok ). Sungguh nuansa yang akan saya rindukan kelak 


Tanah lapang ini saya suka sekali




Beruntungnya saya bisa berada di kawasan yang sarat akan makna sejarah itu. Apa yang saat lihat adalah sebuah kebanggaan milik masyarakat Sumatera Utara dan juga bangsa Indonesia. Sebuah perjalanan sejarah yang membawa Medan dan Sumatera Utara hingga saat ini. Semoga kelak anak cucu kita masih bisa melihat keindahannya, supaya mereka mengetahui betapa besarnya bangsa kita tercinta 

Mimpi saya berikutnya adalah bisa mendatangi perkebunan tembakau Klumpang / Klambir yang kesohorannya membawa nama tembakau Deli ke kancah dunia, semoga ...

* Sumber pustaka sejarah perkebunan PTPN 2  bisa dibaca di disini 


Salam dari kami berdua

Share
Tweet
Pin
Share
27 comments
Newer Posts
Older Posts

About Me

About Ibu Dila

Seorang istri dan ibu 2 anak yang belajar kehidupan dari setiap jejak langkah di negeri ini.

Search This Blog

Postingan Populer

  • Mengurus Pindah Sekolah Anak ke Luar Kota ( Berdasarkan Pengalaman Pribadi )
    Pindah lalu tinggal dan hidup di beberapa kota bukan lagi hal baru buat saya dan keluarga. Hari ini saya akan berbagi tips bagaimana memili...
  • Jalan-jalan Minggu ke Bagan Percut
    Pasar Ikan Bagan Percut, Deli Serdang Suami sudah beberapa kali mengajak saya ke Bagan Percut. Tapi entah selalu saja belum ter...
  • Museum Perkebunan Indonesia, Menghubungkan Masa Lalu dan Masa Depan
    Museum ? Saya suka sekali dengan museum. Kali ini kunjungan kami sekeluarga adalah ke Museum Perkebunan Indonesia Museum yang terl...
  • Seseruan Bermain di Taman Budaya Resto, Tanjung Morawa
    Restoran ini jaraknya dekeeet banget dari rumah. Nyomot perkataan kawan saya , resto ini tetangga sebelah rumah aja. Padahal udah setahun ...
  • Buka puasa di Pondok Telaga Ikan, Kuala Namu
    Mulai awal minggu lalu pas papanya luar kota, pengen banget makan di luar. Pengen ini pengen itu tapi apa daya gak bisa nyetir *makan...

Follow Us

  • Facebook
  • Instagram
  • Google Plus

Categories

  • Banjarmasin
  • Jakarta
  • keluarga
  • kuliner
  • Lebaran
  • liburan
  • lomba blog
  • Medan
  • mudik
  • My Story
  • Novel
  • Pekanbaru
  • Review
  • Semarang

Hai, saya ingin jadi kawan kalian. Ikuti ceritaku yuk...

Blog Archive

  • August (1)
  • July (1)
  • May (2)
  • April (1)
  • March (3)
  • February (3)
  • January (3)
  • December (7)
  • November (11)
  • October (9)
  • September (5)
  • August (5)
  • July (5)
  • June (9)
  • May (8)

Member of Blogger Perempuan

Member of Blogger Perempuan

Member Of Kumpulan Emak Blogger

Member Of Kumpulan Emak Blogger
Instagram Facebook

Created with by ThemeXpose

Customized with by DuniaQtoy