Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di blog ini . Powered by Blogger.
  • Home
  • Contact Me
  • About Me
  • Category
    • KULINER
    • LIBURAN
    • LOMBA BLOG
Facebook Google Plus Instagram

Ibu Dila

Setiap langkah adalah berharga


Assalamu 'alaykum, teman - teman 😄

Kangen banget rasanya menyapa teman semua lewat tulisan di blog ini. Setelah dua bulan lebih tak mengisi tulisan di blog ini karena kesibukan ini itu dan pecahnya konsentrasi ke banyak hal. Tulisan saya kali ini sih sifatnya pemanasan lagi buat menulis ke depannya. Dan curcol ...

Teman, jika kalian selama ini mengenal saya sebagai Ibu Dila yang tinggal di Medan. Kali ini saya udah gak tinggal di Medan lagi. Tepatnya akhir Juni lalu setelah Lebaran, kami sekeluarga udah pindah ke Bekasi. Yah, setelah lebih dari 11 tahun tinggal di luar Jawa. Tahun ini kami kembali tinggal di Jawa. Alhamdulillah, bisa lebih dekat dengan keluarga dan sanak saudara 😍

Kepindahan kami sekeluarga ke Bekasi, sebetulnya udah kami prediksi dari awal kami tinggal di Medan, 4 tahun lalu. Tapi lebih pastinya sih setahun belakangan. Setelah kantor suami memberi sinyal bahwa tahun 2018 ini, suami harus pindah tugas ke Jakarta

Memilih Bekasi sebagai tempat tinggal kami, tentunya sudah dipikirkan matang - matang. Mulai dari akses suami ke kantor , tersedianya sekolah buat anak dan lain sebagainya

Dibilang mudah juga gak mudah. Dikatakan susah juga gak susah banget

Tapi yang jelas, saya sempat mengalami kebas pada bagian kepala kanan sekitar Januari lalu akibat beratnya pikiran saat itu mengenai pindah kali ini

Padahal ini bukan pertama kali kami pindah loh, Bekasi adalah kota ke delapan

Dan ini sebagian cerita nomaden kami, yang bisa dibaca disini, mampir ya 😊

Memikirkan sekolah anak
Memikirkan rumah
Memikirkan macetnya ibukota
Belum lagi banjir
Pengeluaran yang luar biasa besar
Dan lain - lain

Hingga pecahlah pertahanan saya kala itu, saya sempat menangis hebat. Karena tak kuat, saya pun meminta suami untuk hanya mengatakan sugesti positif di telinga ini

Alhamdulillah, setelah berbagai drama terlewati. Rumah sudah dapat. Sekolah anak dapat. Kami pun pindah ke Bekasi

Meski saya tak lagi tinggal di Medan, masih ada beberapa cerita yang ingin saya bagi tentang Sumatera Utara. Terutama liburan kami di Samosir bulan April lalu

Dan tentunya tak lupa cerita kepindahan kali ini juga akan saya bagi di blog ini. Seperti pindah sekolah Kakak dari SMP swasta di Medan ke SMP negeri di Bekasi. Dan cerita kami tentang mencari rumah di Bekasi

Sudah dulu ya cerita Ibu Dila kali ini, teman. Semoga keluarga kami selalu mendapatkan keberkahan dari Allah dimanapun kaki ini dijejakkan. Aamiin 😇😇





Share
Tweet
Pin
Share
7 comments

Ditinggal tidur mantan pacar alias bapak suami pas nonton film di bioskop 15 tahun lalu, itu yang jadi alasan saya males pergi lagi ke bioskop

Trauma gak berkesudahan ... Hahaha

Masih ingat banget, jadi waktu itu ceritanya saya baru sekali-kalinya ngedate ama doi ke bioskop. Seneng dong. Secara biasanya dia ngajakin saya ke tempe penyet pinggir jalan

Tengok jadwal film, akhirnya waktu itu saya pilih filmnya babang ganteng Keanu Reeves yang judulnya The Matrix Reloaded. Karena udah penasaran dari kelanjutan film The Matrix sebelumnya

Dengan semangat menggebu-gebu, saya  nonton di Plaza Simpang Lima Semarang. Kalau gak salah ingat sih itu nama tempatnya. Pokoknya yang sekarang jadi E Plaza deh

Ambil 2 kursi, doi duduk di sebelah saya

Dan film The Matrix Reloaded pun dimulai . Deng deng

Aksi keren babang ganteng Keanu Revees dengan kacamata hitamnya yang beradu akting dengan mbak cantik Carrie-Anne Moss ( mudah-mudahan gak salah, maklum kudu buka Google juga buat ngebuka memori saya ), lumayan lah buat saya. Meski gak sekeren The Matrix yang pertama

Eh, lah kok di tengah bunyi sound system bioskop yang lumayan kencang itu ... doi malah tidur. Ngorok pula. Alamak jang

Ya ampun, sumpah deh. Yang semula ngebayangin dalam perjalanan pulang bakal cerita tentang alur filmnya, mendadak lenyap kebawa angin

" Mas, kok tidur sih " protes saya
" Abis aku ngantuk, say " jawab doi

Gak usah ditanya ya, gimana gondoknya saya kala itu

Setelah kejadian itu, saya fix putus hubungan dengan yang namanya bioskop. Padahal saya dari kecil udah dicekokin tuh sama Papa buat nonton film di bioskop Jrakah, yang jaman itu masih pakai kursi kayu panjang. Dan begitu film kelar pasti dibelikan es krim stik " Woody " rasa coklat

Bye ... Bye cinema

sumber gambar : scienceofrelationships.com

Waktu pun berlalu, saya sama doi pun menikah. Dan sekarang udah punya 2 anak

Tahun lalu, pas Neneknya anak-anak datang dari Semarang ke Medan. Si kecil setelah pulang menginap dari Berastagi rewel. Dia minta dibelikan popcorn

Aduh, bingung dong mau beli popcorn dimana. Mau beli mentahnya kayak Act II atau Jolly Time, kami gak punya microwave. Mau beli di depan minimarket, kayaknya udah jarang ngeliat

Entah kenapa tiba-tiba aja tuh terlintas beli popcorn ke bioskop. Karena pasti di bioskop ada lah yang jual

Udah mikir beli popcorn di bioskop, eh kok mendadak ingat. " Bioskop di Medan ada dimana ya ?". Saking gak pernah lagi nonton ke bioskop, jadi bingung deh dimana bioskop di Medan ini

Bismillah, kami berangkat ke Sun Plaza

Ketemu juga bioskop di Sun Plaza yang terletak di lantai paling atas. Si kecil yang udah gak sabar pengen makan popcorn, minta Neneknya belikan popcorn ukuran jumbo. Saking pelitnya dia minta sendiri, Kakaknya gak boleh. Akhirnya uang Nenek 120 ribu melayang deh buat belikan 2 bungkus popcorn ukuran jumbo ... Hihihi



" Jadi ini yang namanya bioskop ?" Kata si kecil dengan ekspresi wajah ndhomblong. " Wow, bagus ya " lanjutnya. Dengan raut wajah terpesona, si Kecil melihat ke neon box berisi poster film. Dilihatnya satu persatu

" Terus nontonnya dimana, Ma ? Di atas itu ya ? " tanya si Kecil sambil menunjuk ke arah tangga

" Kasihannya anakku " dalam hati emaknya nyesek. Langsung ingat, dua anak ini dari lahir belum pernah sekalipun nonton film ke bioskop

" Ya udah, nanti kita nonton film ke bioskop ya Nak " jawab saya

" Asiiik, nonton apa nanti kita ?" kata si Kecil kegirangan

" Tengok nanti ya, Nak " jawab saya

***

Bulan pun berganti, tahun pun beralih ke 2018

Jelang hari kasih sayang kemarin saya liat di Ig nya Silver Queen, ada lomba " Ekspresikan Cintamu ". Mungkin ini yang dinamakan jodoh

Saya kan liat postingan itu pas lagi nunggu suami yang lagi beli barang di minimarket. Karena malas turun, saya pilih aja buat menunggu di dalam kendaraan

Lagi scroll hp, eh pak suami tau-tau udah muncul aja tuh di depan mata. Bawa cokelat Silver Queen kesukaan saya, tiga biji pula. Aduh, senangnya hati

Love you full deh, say

" Nak, kita bikin foto kayak gini yuk " kata saya ke si Kecil sambil nunjukin Ig Silver Queen. " Bikin dimana, Mi ?" tanya si Kecil. " Kita bikin ntar sore di taman yuk " jawab saya. " Ayuk " si Kecil semangat sekali jawabnya

" Udah aja bikin sekarang, kalo ntar-ntar paling gak jadi " kata suami

Dan otw pulang ke rumah itu pun saya langsung ambil pose sama si kecil. Cekrek, langsung posting ke Ig. Sambil berharap dapat hadiah utama iPhone 8


Rupanya benar kata orang bijak " Allah tahu apa yang kita butuhkan, bukan kita inginkan "

Sebuah colekan manis dari Silver Queen menyapa hari saya. Foto yang saya kirim, dapat hadiah the Movie Card, bukan iPhone 8 yang saya idaman

Gak jadi dapat iPhone deh

Kayaknya Allah emang tau bahwa hadiah yang saya butuhkan itu adalah tiket bioskop. Doa 15 tahun terjawab juga ... Hihihi


Jadilah liburan panjang akhir pekan kemarin saya kembali nonton ke bioskop setelah 15 tahun, dengan tiket gratis dari coklat kesayangan

Rasanya gimana setelah 15 tahun gak nonton film di bioskop ? Yang jelas rasanya saya kayak dilahirkan kembali

K  ... A ... G ... O ... K

Eikeh kagok bo' , sueeeer

Saya baru tahu kalo sekarang ada aturan gak boleh bawa makanan dari luar ( jadi ingat jaman sekolah dulu, sebelum di Ciputra 21 nonton pasti belanja dulu di Gelael Ciputra Semarang ... Wkwkwk )

En den, saya juga baru tahu kalo sekarang kursi bioskopnya jadi warna merah ( dulu abu-abu kalo gak salah ingat )

Baru ngeh juga kalo di dalam bioskop  sekarang udah disediakan toilet, soalnya dulu kudu ke toilet mall deh kalo mau pipis ( sekali lagi semoga saya gak salah ingat )

Dan yang paling penting buat emak rumah tangga macam saya, ternyata harga makanan di bioskop lumayan mahal bo'. Porsinya kecil pula. Dengan harga segitu saya bisa nongkrong cantik dan perut kenyang di Restoran Tip Top dah . Langsung garuk-garuk kepala

Pokoknya kudu mengulang dari awal lagi deh soal per"nonton"an film di bioskop



Nonton film " Tomb Raider " di Ring Road City Walk Medan jadi debut perdana kami sekeluarga. Setelah melalui perdebatan dengan si Kecil yang pengennya nonton " Dilan 1990 " atau " Benyamin Biang Kerok " yang iklannya sering ditontonnya di TV

( Emang pilihan sulit, karena gak ada film kartun yang lagi diputar )

" Ayo, Ma. Kapan kita masuk " si Kecil udah gak sabar banget pengen nonton

" Sabar, Nak. Bentar lagi " kata saya

" Adik, mau popcorn ?" tawar saya

" Gak mau, gak enak " kata dia

Hahaha ... Mungkin dia masih eneg sama popcorn terakhir yang dibeli di Sun Plaza itu. Itulah akibat rakus, maunya makan sendiri ukuran jumbo

Kentang goreng dan sosis 3 porsi, saya beli buat anak - anak untuk teman nonton Tomb Raider

" Kok bioskopnya gelap " kata si Kecil pas kakinya melangkah masuk ke studio satu

" Loh, kok ada iklannya " komentarnya pas liat ada iklan sebelum film dimulai

Hihihi ...

Saya pilih 4 kursi buat kami berempat. Kakak di dekat tembok, saya dan si Kecil di tengah, pak suami di aisle

Dan untuk mengantisipasi kejadian tak menyenangkan di bioskop 15 tahun lalu, sebagai istri yang baik dan imut gak lupa saya pun berkata ke suami

" Awas, jangan ngorok lagi " dengan tatapan mata mengancam ala sinetron Indonesia

" Iya. Janji " jawab pak suami dengan manis


Film pun mulai, mulai dari adegan kejar-kejaran sepeda. Latihan bela diri. Dicopet di  pelabuhan Hongkong. Berpisah dengan ayahnya Lara Croft, dan akhirnya ditemukan lagi . Dan masih banyak lagi

Si Kecil pun bertanya ini itu sepanjang film

Jilbab saya yang ditarik si Kecil buat nutup matanya, saat Lara Croft masuk ke makam Himiko

What a wonderful momment lah pokoknya. Kalau semua ditulis, isi tulisan ini cuman ocehan si Kecil yang excited banget

Gak terasa film berdurasi 110 menit pun kelar, anak-anak happy banget. Minta kapan - kapan nonton bioskop lagi

" Filmnya keren banget, Ma. Aku suka " kata Kakak

" Tapi jangan nonton film kayak gini lagi ya. Aku takut " komentar si Kecil

" Oke deh. Nanti kapan - kapan lagi kalo ada film bagus ya Nak " janji saya ke mereka

Dan pak suami pun menepati janjinya buat tetap melek sepanjang film

" Gimana tadi filmnya, say ?" tanya saya penasaran

" Akting pemainnya bagus ?" katanya

" Enak nonton di bioskop ?" lanjut saya

" Aku gak terlalu suka " jawab dia

Whattttz 😱

Ya Tuhan, ternyata 15 tahun gak merubah doi buat suka nonton bioskop

Aduh daripada saya pusing, mending  besok minta pak suami ngajak piknik aja deh. Biar wajah makin berseri dan kerutan di daerah T hilang



Lalu gimana dengan Ibu Dila alias saya sendiri ?

Jujur, saya seneng banget bisa nonton lagi. Kebahagiaan bertambah juga karena nonton kali ini adalah yang perdana setelah menikah dan punya 2 anak .... Eaaa

Meski saya sempat kliyengan juga pas liat layang segede itu dan motion yang cepat, mungkin efek terlalu lama gak lihat film di bioskop kali ya

Gak lupa juga, saya isi the Movie Card nya 100 ribu. Biar bisa jadi alesyan buat nodong pak suami buat pergi nonton ke bioskop lagi. Cerdas, bukan ? Hahaha ...

Udah dulu ya, teman. Cuap cuap ringan Ibu Dila kali ini. Ketemu lagi di cerita berikutnya






















Share
Tweet
Pin
Share
33 comments

Happy Monday, teman-teman semua. Kangen kali lah gak jumpa dengan kalian semua di blog saya ini. Emang sih beberapa minggu ini perhatian saya agak teralih dengan urusan ini itu, jadi gak sempat deh cerita di blog lagi

Karena blog saya udah mulai penuh sarang laba-laba karena dah lama gak diisi dengan tulisan. Di awal bulan Maret ini saya mau berbagi secuil pengalaman dan cerita dari kehidupan saya beberapa tahun ini

Jadi idenya ini mendadak muncul, ketika Mbak Astin Astanti ngobrol via inbox dengan saya 3 hari lalu. Awalnya sih pas Mbak Astin ngeposting foto di halaman Lawang Sewu, Semarang

Berasa punya Pintu Kemana Doraemon aja saya, ditanya begitu sama Mbak Astin 😂

Eh, kok tiba - tiba saya diinbox Mbak Astin. Kayak gini nih obrolan kami malam itu ... Hihihi

Jawaban Pekanbaru nya kehapus, jadi ditambahin deh pakai Pic Art 😄

Singkat cerita, saya itu orang Semarang. Setelah menikah 15 tahun lalu, saya tinggal di Semarang Jawa Tengah

Lalu pindah ke Kediri di Jawa Timur, Banjarmasin di Kalimantan Selatan, Samarinda Kalimantan Timur, Pekanbaru Riau, Jakarta tapi tinggal di Tangerang Selatan dan Medan Sumatera Utara

Durasinya pun berbeda-beda. Banjarmasin sampai saat ini , masih kota terlama yang kami tinggali. 3 tahun 9 bulan

Sedangkan Samarinda paling sebentar, hanya 7 bulan saja

Saat kami tinggal di Kediri, sering kali kami wisata ke Batu dan Malang. Foto ini di Selecta Batu. Jaman segitu saya udah foto di bunga-bunga pakai foto polaroid tukang foto keliling ...ulala. Gak pake acara nginjak bunga ya 😄

Kami hidup berpindah dari satu kota ke kota lain dan dari satu pulau ke pulau lain, karena mengikuti tugas suami. Yah mungkin bisa dibilang kami hidup nomaden

Meski saya sendiri merasa kurang pas dengan kata nomaden, tapi gak ngerti deh istilah apa yang paling tepat disematkan buat petualangan kami ini. Karena saya sih lebih senang dengan kata petualangan ... Hahaha

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Nomaden adalah

 1 n kelompok orang yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap, berkelana dari satu tempat ke tempat lain, biasanya pindah pada musim tertentu ke tempat tertentu sesuai dengan keperluan kelompok itu; 2v cak (hidup) berkelana, tidak menetap

Istilah itu sesuai dengan kehidupan kami, gak ? 


Kenangan foto di depan Masjid Al Karomah Martapura, saat kami tinggal di Banjarmasin. Museum Kutai Kartanegara Tenggarong saat tinggal di Samarinda. Dan saat kabut asap tapi Kakak minta jalan padahal adiknya baru 2 bulan di depan Rumah Dinas Gubernur Riau, Pekanbaru

Pertanyaan mirip dengan yang ditanya Mbak Astin itu, bukan yang pertama kali saya dengar. Selama riwa riwi kesana kemari, udah entah berapa ratus kali kami menemui pertanyaan seputar hidup berpindah-pindah ini

Ini dia petanyaan yang sering kali kami temui :

1. Emang gak repot pindah terus ?

Dibilang gak repot, kok ya keliatan bohong banget saya. Dibilang repot banget, juga gak segitunya kali

Repot pasti repot. Yang pernah ngerasain pindah rumah meski cuman satu kompleks aja, tau deh gimana rasanya. Apalagi pindah dari kota ke kota lain yang jaraknya gak dekat, kayak kami 

Kerepotan kami biasanya seputar cari rumah yang mau dikontrak, urus sekolah sama packing barang. Plus menata barang lagi di rumah yang baru 


Barang mulai entah kemana-mana 😂

Tak jarang ada drama saat packing 😂


Kalau kardus udah sebanyak ini, bingung deh kalo mendadak perlu barang yang ternyata udah masuk kardus ... Hahaha. Gak jarang terpaksa dibuka lagi hiks 😫

Dan dibalik kerepotan itu, kami bisa berpetualang melihat tempat-tempat baru di banyak kota 

2. Anak-anak gimana ?

Alhamdulillah banget, anak-anak saya termasuk anak yang selalu antusias kalau diajak berpetualang

Saya dan suami punya kebiasaan memancing rasa penasaran mereka saat mau pindah. Kami kasih iming-iming, tempat wisata menarik yang bisa mereka datangi di kota yang baru

Cara itu sangat efektif sampai saat ini 

3. Apa gak capek ?

Gak ada orang yang gak pernah ngerasain capek. Orang di rumah aja bisa capek 

No pain no gain lah. Kalau kami gak mau capek angkat barang dan badan kesana kemari, gak mungkin kan kami bisa melihat indahnya Indonesia ? 

4. Masih tinggal di kota ... ?

Hahaha, khusus pertanyaan ini saya langsung ingat dengan salah satu kawan. Mungkin karena sering pindah, dia nanya " Dila, masih di Medan ?" . Padahal saya baru 2 bulan di Medan waktu itu. Dia bilang, kirain saya udah pindah lagi

Dari sekian banyak orang yang bertanya " Masih tinggal di kota ... ?". Pertanyaan kawan itulah yang paling nampol di ingatan saya 

5. Gak kasihan sama anak-anak pindah sekolah terus ?

Kasihan ? Hmmm ...

Emang sih selama berpindah - pindah ini , Kakak, anak saya yang paling besar pernah beberapa kali kena bully. Bahkan pernah ingin pindah sekolah saat SD. Yang juga pernah tulis ceritanya disini

Tapi Alhamdulillah banget, Kakak masih semangat sekolah. Bahkan kapan hari dia cerita pas ada tugas bercerita di depan kelas tentang kehidupannya. Kawan-kawannya terkejut saat mendengar bahwa Kakak pindah sekolah beberapa kali

Pengalaman mengurus surat pindah sekolah anak, pernah saya tulis disini

Alhamdulillah juga, Kakak pernah mencapai prestasi baik meski kami berpindah-pindah. Tahun 2015 lalu, Kakak pernah mewakili propinsi Sumatera Utara ke Kompetisi Sains Madrasah Nasional yang diselenggarakan di Palembang. Dan memperoleh medali perak 


Setelah pulang dari Palembang dan mendapat piagam dari sekolahnya saat kelulusan 
Untuk menjaga semangat sekolah dan belajar mereka yang kadang naik turun, kami sama kok kayak keluarga yang lain. Bedanya, anak-anak kami berulang kali menghadapi teman- teman dan situasi baru kembali

Intinya sih, saya dan suami selalu berusaha menjalin kedekatan dengan anak salah satunya dengan mendengar cerita mereka tentang kawan dan sekolahnya 

6. Kalau pindah barangnya ditinggal ya ? 

Kami pindah, ya barang ikut juga. Kebetulan kami dapat fasilitas ekspedisi dari kantor. Jadi kemana kami pindah, barang ikut juga 

7. Barangnya rusak dong kalau dibawa pindah terus ?

Walaaaah, namanya juga barang pasti rusak suatu saat. Wong barang yang diam ngedongkrok di rumah aja bisa rusak


Saat barang diangkut truk dari Pekanbaru ke Jakarta 

Jadi kalau ada barang kami yang rusak akibat pindah, itu semua gak bakal mengurangi rasa happy petualangan kami 

Kalo rusak ya udah, ntar kalau ada duit beli lagi. Gak ada yo wis

8. Kenapa gak tinggal di kampung halaman aja, biar suami yang pindah-pindah ?

Saya sejak awal menikah langsung memilih menjadi ibu rumah tangga, meski saat itu saya gak membayangkan bakal hidup berpindah beberapa kali seperti ini. Gak ada paksaan dari suami buat saya jadi ibu rumah tangga

Setelah saya tinggal berpindah-pindah mengikuti tugas suami, baru deh saya mikir " Rupanya ada untungnya juga ya jadi ibu rumah tangga. Kalau saya kerja kasihan anak-anak. Mau sama siapa. Gak mudah menemukan orang yang bisa menjaga mereka di kota yang baru ". Resikonya jauh lebih tinggi daripada orang yang tinggal menetap 

Karena saya gak bekerja di luar, kayaknya gak ada deh yang memberatkan untuk tidak ikut tugas suami. Apalagi kota yang saya tinggali cukup nyaman buat keluarga. Bukan di daerah rawan perang atau di tengah hutan belantara kok

Menghidupi dua buah dapur bertahun - tahun yang berbeda pulau, juga gak mudah. Butuh biaya yang sangat besar. Dan itu berat, Jendral 

Harga tiket pesawat juga gak murah, cyiiin. Pertemuan saya dan anak-anak ke suami jadi jarang nanti, kalau kami hidup terpisah 

Ini tulisan saya tentang mengatasi kejenuhan saat di perantauan, Mampir yaaaa

9. Enak dimana, disana apa disini ? 

Jawaban saya cuma satu, semua kota selalu ada plus minusnya

Biarpun kata orang, kampung halaman adalah yang terbaik, buat saya istilah itu gak berlaku

Karena buat saya tinggal dimana saja , sama aja. Bedanya memang kalau jauh dari kampung halaman pasti jarang ketemu orang tua dan saudara

Selalu banyak cerita yang saya alami di kota-kota itu. Dan semua itu sangat berharga 

Seperti pengalaman berkali-kali merasakan Lebaran di kota orang. Mau tau kayak apa serunya ? Mampir kesini yuk   ❤

10. Terus kapan tinggal menetap ? 

Kapan jawabannya, saya gak tau. Gak pernah saya pikirin malah. Gak pernah juga minta sama Allah " Kapan ya kami gak pindah-pindah lagi " 

Semua itu udah diatur Allah. Karena Allah selalu tahu yang terbaik buat kami sekeluarga. Tinggal kami ikuti aja alurnya 

Bahkan saya sangat bersyukur dengan  kehidupan kami yang sedikit ajaib ini ... Hahaha 


Kalo ke Jakarta jangan lupa foto di Monas yak. Istana Maimun Medan. Gak ketinggalan juga Lawang Sewu Semarang 

Udah dulu, teman-teman. Lain kali saya berbagi cerita lagi tentang petualangan kecil keluarga mungil kami ini. Tunggu ya 😘😘







Share
Tweet
Pin
Share
23 comments

Yeeeey .... Yeeeey, berjumpa lagi dengan saya disini

Eits, ekpresi saya beda banget ya sama tulisan galau ( kalau kata anak jaman now ) di postingan sebelumnya

Karena galaunya, sampai -sampai saya melupakan "tugas penting" saya untuk membuat tulisan kolaborasi #CeritaDilaDira dengan partner saya tercinta dari Surabaya Mbak Dira Indira

Dua minggu lalu kalau gak salah, Mbak Dira ngajakin buat nulis tentang Why I Love Being A Blogger 

Alamak ... Gampang gampang susah menurut saya. Apalagi saya adalah blogger yang lebih absurd daripada Mbak Dira

Sorry, Mbak Dira. Aku contek kata-katanya. Aku sedang kehabisan ide *hiks*

***

Mulai darimana ya ceritanya

Daripada sayanya makin galau akibat gak semangat menulis seperti yang dialamin sebelumnya. Bismillah ...

" Assalamu 'alaykum, Mbak " sapa seorang wanita yang tidak saya kenal di DM Instagram saya
" Ada yang mau ditanya niy " lanjutnya

" Wa alaykumussalam, Mbak " jawab saya
" Silakan "

Mbak itu pun memperkenalkan diri. Namanya Tika. Mbak Tika rupanya membaca tulisan yang saya publish beberapa bulan lalu yang berjudul Keindahan Kolonial Belanda di Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa

Lokasi yang saya pilih untuk bahan menulis saat itu adalah PTPN 2 Tanjung Morawa. Sebuah perusahaan milik negara yang mempunyai pemandangan luar biasa indah. Ada danau cantik dengan latar belakang rumah peninggalan Belanda dan hijaunya pepohonan disana. Karena keindahannya inilah gak heran ada pasangan yang akan menikah, menjadikan tempat ini sebagai untuk melakukan sesi pemotretan prewed

Nah salah satunya ya Mbak Tika ini, yang ternyata punya rencana membuat foto prewedding di  2 PTPN Tanjung Morawa. Cuman karena tempat ini adalah kantor dan tidak banyak diekspos. Jadilah Mbak Tika menghubungi saya mencari informasi gimana caranya dapat ijin berfoto disana

Tau gak apa yang saya rasain waktu Mbak Tika bilang dia membaca blog saya, aduh rasanya saya senang banget * seperti bidadari terbang ke langit ke tujuh .... Hahaha* . Saya gak tau gimana Mbak Tika akhirnya bisa menemukan tulisan saya itu

Tapi jujur, malam itu saat Mbak Tika DM saya. Sepertinya Allah mengirimkan sinyal lagi buat saya untuk lebih semangat lagi menulis. Karena pagi harinya sebelum Mbak Tika DM saya di Ig. Saya baru aja mempublish tulisan tentang semangat ngeblog saya yang hilang. Tulisannya disini

Dan ketika Mbak Tika menjawab seperti ini, tambah meleleh aja saya


Padahal saya malah yang harusnya berterima kasih sama Mbak Tika, karena DMnya itulah saya diingatkan untuk semangat ngeblog lagi

Makasih buat kemunculan Mbak Tika yang tiba-tiba di DM,  karena sesungguhnya itu berarti sekali buat saya

***

Masih di tulisan yang sama ...

Kebahagiaan juga saya temukan saat saya mempublish tulisan itu

Membuat tulisan dengan latar belakang tempat bersejarah yang menjadi saksi tumbuhnya kota Medan kala itu. Menjadi tantangan tersendiri buat saya

Dengan sumber bacaan yang tidak terlalu banyak. Tentunya tak mudah untuk mencari cerita tentang PTPN 2 Tanjung Morawa. Kebanyakan hanya seputar berita. Tidak banyak yang mengulas tentang sejarahnya. Ada tapi hanya sekilas dan tak lengkap

Pindah dari satu tulisan ke tulisan lain. Akhirnya saya menemukan tulisan yang saya lihat paling lengkap. Sebuah blog perkebunan yang dibuat oleh Bapak Martum Pulungan, seorang praktisi perkebunan yang juga bekerja di PTPN

Dengan bermodalkan tulisan beliau, saya pun bisa bercerita dengan lancar tentang sejarah PTPN 2 Tanjung Morawa

Yang tak pernah saya sangka adalah beliau berkomentar di tulisan yang saya buat itu. Gimana rasanya?  Kaget yang jelas. Tapi saya sangat senang sekali. Suatu kehormatan buat saya


Karena beliau melihat ketertarikan saya dengan PTPN. Saya pun diundang oleh beliau untuk ikut dalam reuni PTPN 2 Tanjung Morawa. Tapi sayang saya tak bisa datang saat itu

Dua cerita di atas adalah salah satu alasan kenapa saya mencintai dunia blogging ini

Sumber gambar : Pixabay

Ngeblog... Kenapa saya ngeblog ?

Awal saya ngeblog sebenernya bukan dimulai dari hati saya sendiri. Loh kok bisa ?

Ceritanya sih kepala saya kala itu mumet melihat banyaknya hoax dan ujaran kebencian di beranda FB saya. Belum lagi komentar julid warganet yang bikin kuping panas

Intinya saya butuh terapi jiwa dari semua kegaduhan saat itu

Jadilah saya sering nulis di FB. Abis liburan langsung tuh nulis panjang plus pamer banyak foto. Kalau ada sesuatu yang menggelitik hati saya, kayak tiba-tiba ada meme apa gitu. Udah deh langsung tuh saya menulis

Kawan - kawan saya pucing pala belbie liatin tulisan panjang saya yang kayak kereta api itu, kali ya

Akhirnya saya dijerumuskan mereka ke dunia blog ini ... Hahaha. Padahal mereka bukan blogger loh

Jadilah secara resmi saya menulis blog di bulan Mei 2017. Masih seusia bayi yang baru belajar makan nasi tim lah


Dunia blog buat saya adalah sebuah aktualisasi diri kalau kata Om Abraham Maslow. Sebuah hierarki tertinggi dari kebutuhan manusia

Menulis blog itu bisa bikin saya refreshing dari kesibukan saya sebagai Ratu di Rumah yang urusannya berkutat seputar wajan gosong dan keran bocor

Dan bikin saya punya kesibukan baru dong . Bisa sering - sering pegang laptop deh. Saya pun juga jadi lebih sering melatih tulisan tangan saya lagi di sebuah buku setelah jadi blogger

Ahay, asiiik

Instagram, nah sosmed satu ini juga baru saya pakai setelah menjadi blogger. Whattttz .... Ciyuuus ? Dua ciyus dah. Umur akun Instagram saya tuh gak jauh beda sama blog saya

Dulu nih sebelum nulis di blog, saya mikir ngapain lah punya Ig. Wong saya juga udah punya FB. Eh rupanya dari kawan blogger saya baru tahu, kalau blogger bisa juga jadi influencer. Satu ilmu baru lagi kan

Meski saya belum jadi influencer, setidaknya setelah punya akun Ig saya jadi tau gosip - gosip panas ala Lambe Turah * penting bingit *

Me- monetize blog atau menghasilkan pundi rupiah dengan menulis review berbayar, sampai sekarang memang belum saya lakukan

Kenapa ? Lebih ke alasan personal sebetulnya sih

Meski punya tampang pas-pasan dan suara cempreng kayak panci rombeng jatoh, akhirnya saya pun menjajal bikin vlog. Pede banget ya * geleng - geleng *

Kalau ngeblog, saya dijerumuskan kawan - kawan. Saya ngevlog karena dipaksa si kecil

Bener - bener, ngeblog belum paten disuruhnya pulak mamaknya bikin vlog. Apa kata dunia ???

Hasilnya ada 2 vlog " Gaitsaa dan Mama Dila " yang saya buat bareng si kecil

Meski udah bikin vlog, saya belum PD bikin akun You Tube
Bisa mengenal banyak teman baru, seperti Mbak Dira Indira dari Surabaya yang menjadi pasangan collab saya di #CeritaDilaDira ini

Mbak Dira, kapan kita bisa kopi darat ya ?

Mbak Muyass dengan ketrampilan luar biasanya yang tak hanya berkutat di dunia penulisan. Menggambar, memasak kue dan menulis di UC

Mbak Fanny F Nila dengan travellingnya yang menantang adrenalin. Lewat tulisannya itu, Mbak Fanny berhasil bikin saya berkeinginan untuk menurunkan level fobia saya pada ketinggian

Mbak Nur Rochma, blogger dari Tuban yang kalem banget dan suka berbagi cerita tentang anak dan wisata di tulisannya

Mbak Sulis dan Mas Andi Nugraha, keduanya blogger dari Jogja yang nyaris selalu bikin saya baper tiap kali nulis tentang kota pelajar itu .... Kangen sama Jogja iiih

Mbak Sri Untari atau biasa dipanggil Mbak Uun, blogger lucu dari Semarang. Yang selalu saya curhati kalau saya gak ngerti sesuatu tentang blogging

Mas Ammar Dental atau Damar, blogger Makassar. Anak muda tenaga kesehatan tetapi sangat inspiratif. Yang bikin saya berpikir, waktu saya muda kenapa gak bisa kayak Mas Damar ya

OmNduut, blogger dari Palembang dengan tulisan yang luar biasa lengkap di setiap postingannya dan udah bisa menerbitkan buku *saya kapan ya bisa begitu*

Mbak Dian Restu Agustina, yang kehidupannya mirip sama saya. Pindah kota beberapa kali. Bahkan Mbak Dian pernah tinggal di luar negeri

Mbak Shovya dan Mbak Aswinda Utari, blogger Banjarmasin yang selalu membuat saya rindu dengan kota Seribu Sungai lewat tulisannya. Tempat yang pernah saya tinggali selama 4 tahun itu

Mbak Astin Astanti yang mencerahkan saya dengan postingannya tentang #foodprep. Mbak Nita Lana yang juga gak pelit kasih resep. Bikin saya semangat masak dah

Bro Uwan Urwan, blogger yang suka menyebut dirinya ganteng itu. Dari Situbondo, foto - foto yang dihasilkannya selalu kece. Dan suka menuliskan sesuatu dengan puitis

Dan masih banyak lagi blogger - blogger yang lewat untaian kata di blog mereka bisa memberi perspektif baru buat saya



Yang bikin saya lebih hepi lagi adalah, setelah jadi blogger saya bisa berjumpa dengan  Mbak Ririn Wandes Lubis dan Mbak Mollyta Mochtar. Para blogger cantik dari Medan yang tulisannya justru saya temukan jauh sebelum saya jadi blogger

Senangnya saya bisa berjumpa Mbak - Mbak tercinta ini. Dari perjumpaan mereka, saya jadi semangat belajar blog lagi

Dan saya pun menulis cerita perjumpaan saya dengan Mbak-Mbak cantik itu Disini ( klik ya, ada cerita menarik disana )

Dari blog walking ke kawan - kawan, saya jadi tau juga tuh tempat wisata yang lagi kekinian dimana-mana. Belum lagi kalau  produk-produk yang baru diluncurkan.  Lewat jemari mereka, saya jadi gak ketinggalan info dong

Membaca cerita kehidupan kawan blogger, juga suatu hal yang menyenangkan buat saya. Cerita yang mereka tulis dalam setiap katanya, membukakan mata saya kalau dunia gak seluas daun kelor

Banyak hal menarik di luar sana ...

***

Karena dasarnya saya adalah orang yang cerewet ( kalau kata Tante saya tuh, padahal mah saya ini kalem ... Uhuk ), perjumpaan dengan siapa pun bisa menjadi suatu hal yang menarik. Berbicara dengan orang yang tidak dikenal sebelumnya tentang cerita mereka

Berbicara bla... bla... bla. Tentang ini itu

Untuk dunia blogging, semua itu bisa saya rekam dalam tulisan sebagai kenangan sekaligus pembelajaran kehidupan. Dan itu sangat berharga buat saya

Cerita yang saya alami dan ditulis di blog pun bisa dibaca oleh orang lain. Sungguh suatu kenikmatan saat bisa berbagi sesuatu dengan orang lain lewat tulisan di blog

Apalagi ketika tulisan saya nangkring di halaman pencarian pertama Google ... Wesss, rasanya bagai terbang ke langit naik roket luar angkasa. Seperti tulisan saya tentang Mengurus Pindah Sekolah Anak ke Luar Kota

Semoga bisa membantu banyak orang , itu harapan saya
***

Petualangan juga saya rasakan saat melakukan aktifitas ngeblog, seperti saat saya pergi ke suatu rumah tua peninggalan Belanda di Bandar Klippa

Atau saat saya harus dua kali bolak balik di tengah panasnya terik matahari kota Medan naik motor dengan kawan. Demi menuntaskan rasa penasaran saya di komplek PTPN 2 Tanjung Morawa yang luasnya luar biasa itu. Saking luasnya sampai bisa dibuat lapangan golf 18 hole, danau yang gak keitung lagi jumlahnya, ditawari naik ke menara air yang merupakan ikon Tanjung Morawa ( tapi sayang saya gak berani naik ) dan melihat kompleks makam kuno yang disana


Saat anak saya yang besar pernah bercerita kalau kawan dia bilang " Mamamu blogger ya " . Darimana anak kelas 2 SMP itu tahu ? Hasil kepo ke Ig saya rupanya ... Hmmm

Atau ketika suami saya yang unyu itu cerita " Tadi kawan tanya". " Pak, istrinya penulis ya ? Saya suka baca tulisannya"

Sebagai seorang blogger yang usia blognya baru 9 bulan ini, jangan ditanya deh gimana rasanya perasaan saya. Ya Allah, senangnya minta ampun

Berarti ada orang yang mengakui eksistensi saya yang seuplik ini *menangis bahagia*

Dan saya pun berhasil meratjuni kawan SMA saya Imas Mashitoh buat nulis di blog. Aduh senangnya bisa menebarkan ratjun bahagia yang bikin nagih ini ... Hahaha

Udah dulu ya cerita saya kali ini

Blogging, memang sangat ajaib dan bikin hepi.
Kalau hati senang, pastinya bakalan awet muda kan. Plis, jangan timpuk saya ya... Hihihi

Sampai jumpa dengan postingan saya lain hari ❤








































Share
Tweet
Pin
Share
37 comments

Assalamu'alaykum, teman. Apa kabarnya ? Semoga kalian semua dalam keadaan sehat wal afia'at

Tulisan kali ini, lebih kepada curhatan saya belaka. Jadi saya harap teman-teman yang membaca ini betah membacanya ^^

Sebagai seorang yang suka menulis dan berbagi foto, baik di blog atau pun sosmed.  Hampir lebih dari 10 hari ini saya bener-bener ngerasain nyaris kehilangan semangat buat semua itu

Di FB, saya tetap membagikan status. Tapi rasanya gak seperti yang biasa saya rasakan. Saya lebih sering ngebagiin status orang lain. Salah satunya lagu-lagi era 80-90 yang ada di grup FB

Di Ig, saya masih tetap posting. Tetapi dengan rasa yang berbeda

Padahal stok foto yang bisa dibagi ke sosmed itu banyak banget. 

Blog ? Apalagi. Rasanya sedang tidak ingin menulis. Ide selalu ada. Tulisan yang bisa dipublish pun ada. Tapi semangat itu yang tak tahu kemana ...

Secara kehidupan pribadi saya sama sekali sedang tidak ada masalah. Kecuali si kecil yang lagi manja aja 2 minggu ini. Yang mendadak suka mewek dan lagi sering minta ditemani ke sekolah. Tapi itu sama sekali gak terlalu menyita pikiran saya

Atau kah saya sedang dalam titik jenuh seperti kata Mbak Shovya blogger dari Banjarmasin saat kami ngobrol di FB beberapa hari lalu. Saya sempat katakan ke Mbak Shovya, apa saya deactive akun FB dulu untuk beberapa waktu seperti yang pernah saya lakukan tahun lalu

Yang jelas saya hanya ingin berdiam sejenak. Saya ingin "hibernasi" kalau kata Sandy ke Sponge Bob dan Patrick. Hibernasi versi saya ya bukan tidur panjang seperti Sandy. Tapi sedikit menepi dari apa yang biasa saya lakukan

Selama gak ada semangat menulis ini, saya mencoba mengalihkan perhatian saya kepada aktifitas lain. Salah satunya saya menjadi suka menggambar

Karena saya gak pandai menggambar, Google menjadi tempat saya "mencontek" ide. Hasilnya ada beberapa gambar yang saya hasilkan. Ada yang pakai krayon , ada juga yang memakai pensil warna milik anak-anak

 ***
Pagi ini saya menelpon Kak Eka, kawan saya yang kebetulan 2 hari lalu mengajak saya pergi ke suatu tempat. Saya tanyakan apakah kita jadi pergi atau tidak. Qadarullah, hari ini anaknya sedang sakit. Dan kami pun batal

Setelah mendengar kalau anaknya sakit. Saya cerita Kak Eka kalau sebenarnya saat Kak Eka mengajak pergi. Sama sekali saya gak semangat. Tetapi entah pagi tadi saya mendadak pengen aja pergi

Saya bilang ke Kak Eka, kalau saya sedang malas menulis. Jadi pergi kemanapun saya hayuk. Yang penting jalan ( padahal saya juga gak kurang jalan-jalan ... Hihihi ). Saya pengen mem charge semangat lagi, kata saya ke Kak Eka di telpon pagi ini

Ngobrol ringan ngalor ngidul sejenak, saya pun mengakhiri 5 menit percakapan dengan Kak Eka

Selesai menelpon saya langsung memutuskan untuk membuka dashboard blog ini. Dan menulis ini ...

***
Yah, mungkin sesekali saya harus menikmati rasa yang agak sulit saya jelaskan ini. Mungkin ini salah satu bentuk Me Time saya untuk dapat lebih menikmati diri saya sendiri. Karena dibalik semangat yang hilang itu, saya merasa lebih rileks

Untuk dapat menjadi lebih produktif di kemudian hari dan menghasilkan energi positif yang lebih baik lagi

Bismillah, semoga tulisan di awal Februari ini akan membangkitkan lagi semangat menulis saya. Makasih buat yang bersedia membaca curhatan saya ini ❤







Share
Tweet
Pin
Share
27 comments

Entah darimana asalnya, yang jelas hari ini beranda Facebook saya dipenuhi oleh tulisan di atas. Begitu baca tulisan itu, saya langsung ngakak. Dalam hati " Kasian amat ya kami kaum emak berdaster " . Kok kayaknya kaum saya ini, begitu menikah jadi gak bisa kemana- mana ... Hahaha

Tulisan yang lagi rajin lewat di beranda Facebook itu, bisa dibilang ada benarnya juga siy. Yah, secara di kenyataannya begitu kan. Setelah makhluk imut-imut manis titipan Tuhan itu keluar dari rahim. Kita nih yang biasanya bisa kayang ala penyanyi dangdut, mendadak menjadi siswi sekolah peragawati. Jalan udah kayak bawa buku telepon alias Yellow Pages di atas kepala selama 40 puluh hari pertama. Pelan, kalem takut jahitan bekas lahiran sobek. Itu baru di awal melahirkan

Begitu bayi ini makin gede. Mulai bisa jalan terus bicara. Gak terasa udah jadi balita. Jangankan kayak yang dibilang di tulisan di atas. Gimana mau ke Alfamart, lah wong baru masuk ke WC dan mencari posisi duduk yang paling pas aja. Eh, di luar pintu udah ada yang teriak kencang " Mamaaaa ... Ngapain di kamar mandi ". Ya Tuhan, ujian apa lagi ini

Tapi disisi lain, saya juga gak setuju tulisan itu 100 %. Lah wong setelah menikah dengan Mas kesayangan yang unyu - unyu ( dilarang sewot, ini adalah bentuk pujian saya ke suami biar dibelikan Silver Queen ... hahaha ), malah saya bisa travelling melihat banyak keindahan yang diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Emang sih belum pernah lihat air mancur di Merlion apalagi Eropa alias benua biru. Travelling saya sih masih seperti bus AKAP aja. Antar Kota Antar Propinsi

***

Di mata saya, setiap orang punya kesempatan kok buat travelling dan menikmati keindahan dunia. Gak ada yang gak mungkin. Cuman terkadang, hal itu gak disadari oleh kaum emak berdaster macam saya ini yang kerjaaannya berkutat di urusan dapur, sumur dan kasur ini

Coba deh cek yang saya tulis di bawah ini :

1. Beda kampung halaman dengan suami

Kira- kira banyak gak tuh yang punya kampung halaman berbeda dengan suami. Pasti banyak kan, Bu Ibu ? Kalau punya suami dengan kampung halaman yang berbeda, gunakan saat mudik sebagai ajang travelling selain silaturahim. Biarpun cuman ke kota sebelah, masak siy gak ada tempat asyik buat dijadikan tujuan wisata. Anggaplah di kota itu miskin objek wisata. Hamparan sawah luas di kampung suami, bisa kan jadi penyejuk mata dari kepenatan terasi di dapur. Travelling juga kan

2. Ikut tugas suami

" Dik, Mas dipindah sama kantor keluar Jawa. Gimana niy ?" ini salah satu contoh percakapan yang mungkin terjadi di rumah tangga ibu-ibu sekalian. Atau " Dik, Abang harus sekolah lagi keluar negeri dibiayai kantor ". Saran saya, dukung suami 100 % . Selama kondisi kota atau negara dan pekerjaan suami memungkinkan untuk keluarga bisa ikut serta. Udah ikut aja. Gak usah mikir yang aneh-aneh

" Tapi nanti aku jadi jauh dari keluarga " atau " Nanti gak bisa ketemu setiap saat sama orang tua ". No Pain No Gain, kalau kata orang. Semakin jauh dari kampung halaman, kesempatan mudik pasti akan lebih jarang. Yah, gimana dong. Mau bertahan di zona nyaman terus atau keluar dari zona nyaman dan berkesempatan melihat luasnya dunia serta travelling

3. Pasangan juga penyuka travelling

Punya pasangan satu kampung halaman dan bekerja di kota itu juga, bukan berarti gak ada kesempatan buat travelling. Cukup pastikan bahwa suami  punya hobi travelling yang sama dengan Bu Ibu sekalian, udah deh aman jiwa. Mau kemana aja asal ada waktu dan uang, bisa kan

4. Sabar, semua ada waktunya

Lihat kawan upload foto di Instagram sama suaminya dengan latar Menara Eiffel yang indah itu. Eh, kitanya baper. " Aduh, kapan aku bisa begitu ya. Masak hidupku berkutat dengan wajan gosong di rumah melulu "

Nikmati dulu masa yang ada di depan mata kita, Bu Ibu.

Mumpung bau ompol masih tercium di kasur, mumpung masih ada kesempatan makan pas tiba-tiba anak teriak " Mama, aku beol di celana ", mumpung masih bisa ngelonin anak dengan bau keringatnya yang asem itu

Mumpung ... mumpung ... mumpung

Nanti kelak ketika anak sudah mandiri, kita bisa kok menikmati ME TIME. Dan disaat itu pula, kita akan merindukan WE TIME bersama anak-anak kita. Hiks ... malah jadi sedih kan

***

Tapi di dunia ini belum tentu Bu Ibu punya suami yang berbeda kampung halaman, tugas di kota lain dan penyuka travelling. Gimana dong kalau suami gak kayak gitu ?

Komunikasi adalah koentji

Ingat, Tuhan menciptakan bibir dan mulut kita untuk berbicara dengan suami. Bilang aja " Abang sayang, Masku tercinta. Apakah engkau tega melihat wajah istrimu yang semakin tak sedap dipandang mata akibat lama tidak diajak piknik ?" 

Kalau pasangan tetap tak bergeming. Ya derita lo ... hahaha

Gak ding, Bu Ibu. Kudu tetap berusaha dan pantang menyerah. karena sejatinya tak akan ada hasil tanpa usaha sebelumnya. Demikian kata orang bijak

Tapi jangan pakai acara nyindir di sosmed dengan nge tag suami dengan artikel yang berjudul " Ajaklah Istrimu Piknik, maka Rejekimu Lancar". Ini misalnya loh ya, jadi kalau ada artikel dengan judul itu ... maafkan saya

" Papa, baca ini ya " sambil dikasih caption kayak gitu. Sekali dilakukan, suami mungkin masih bisa terima. Dua kali dan seterusnya, bisa jadi suami yang bakal marah

Kalau suami udah berubah dan mau jalan-jalan. Ya jangan ngotot maunya pergi ke Piramida Giza di Mesir, kalau kemampuan suami cuman ke Simpang Lima Semarang. Nikmati aja

Karena travelling dalam keluarga itu sejatinya adalah tentang kebersamaan, bukan tentang jauhnya kaki melangkah

Satu lagi nih, buat Bu Ibu yang punya suami sering pergi dinas keluar kota. Jangan diomeli melulu. Kasih kepercayaan dan kebebasan. Dan jangan lupa doa yang terbaik. Siapa tahu nih, jika saat ini hanya suami yang bisa pergi ke pulau dewata Bali untuk urusan pekerjaan. Mungkin dengan doa terbaik kita, Tuhan kelak mengabulkan mimpi kita untuk travelling ke Bali bersama suami dan anak-anak. Iya kan 

***

Demikian sharing saya kali ini, seorang ibu rumah tangga yang bisa melihat sebagian kecil keelokan negeri ini karena mengikuti tugas suami. Terima kasih sudah menyempatkan diri membaca tulisan ini. Sampai jumpa lagi dan semoga bermanfaat. Salam ...


Share
Tweet
Pin
Share
43 comments
Older Posts

About Me

About Ibu Dila

Seorang istri dan ibu 2 anak yang belajar kehidupan dari setiap jejak langkah di negeri ini.

Search This Blog

Postingan Populer

  • Mengurus Pindah Sekolah Anak ke Luar Kota ( Berdasarkan Pengalaman Pribadi )
    Pindah lalu tinggal dan hidup di beberapa kota bukan lagi hal baru buat saya dan keluarga. Hari ini saya akan berbagi tips bagaimana memili...
  • Jalan-jalan Minggu ke Bagan Percut
    Pasar Ikan Bagan Percut, Deli Serdang Suami sudah beberapa kali mengajak saya ke Bagan Percut. Tapi entah selalu saja belum ter...
  • Museum Perkebunan Indonesia, Menghubungkan Masa Lalu dan Masa Depan
    Museum ? Saya suka sekali dengan museum. Kali ini kunjungan kami sekeluarga adalah ke Museum Perkebunan Indonesia Museum yang terl...
  • Seseruan Bermain di Taman Budaya Resto, Tanjung Morawa
    Restoran ini jaraknya dekeeet banget dari rumah. Nyomot perkataan kawan saya , resto ini tetangga sebelah rumah aja. Padahal udah setahun ...
  • Buka puasa di Pondok Telaga Ikan, Kuala Namu
    Mulai awal minggu lalu pas papanya luar kota, pengen banget makan di luar. Pengen ini pengen itu tapi apa daya gak bisa nyetir *makan...

Follow Us

  • Facebook
  • Instagram
  • Google Plus

Categories

  • Banjarmasin
  • Jakarta
  • keluarga
  • kuliner
  • Lebaran
  • liburan
  • lomba blog
  • Medan
  • mudik
  • My Story
  • Novel
  • Pekanbaru
  • Review
  • Semarang

Hai, saya ingin jadi kawan kalian. Ikuti ceritaku yuk...

Blog Archive

  • August (1)
  • July (1)
  • May (2)
  • April (1)
  • March (3)
  • February (3)
  • January (3)
  • December (7)
  • November (11)
  • October (9)
  • September (5)
  • August (5)
  • July (5)
  • June (9)
  • May (8)

Member of Blogger Perempuan

Member of Blogger Perempuan

Member Of Kumpulan Emak Blogger

Member Of Kumpulan Emak Blogger
Instagram Facebook

Created with by ThemeXpose

Customized with by DuniaQtoy