" Mama, aku nggak mau sekolah lagi " ... Ketika anakku dibully

by - Juni 04, 2017



Teringat kejadian sore itu saat kami masih di Tangerang Selatan, sepulang sekolah Kakak menangis luar biasa di meja belajarnya. Di tepi jendela saat matahari sore masuk ke kamarnya. "Mama, aku nggak mau sekolah lagi" sambil menangis tersedu-sedu. Jedeeeer ... seperti mendengar petir di siang bolong, anak lelaki kelas 4 SD ini tiba-tiba meminta sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.

" Kenapa Kakak gak mau sekolah? " itu pertanyaan pertamaku. "Aku gak betah lagi" masih sambil menangis tersedu-sedu Kakak menjawab.  "Kenapa gak betah? " tanyaku lagi. " Aku ditendang kawanku. Kepalaku ditendang, terus dipukul pake tasnya" katanya. " Kakak udah ngehindar belum? " kutanya Kakak.  " Udah tapi mereka masih ngejar aku, Ma" masih sambil menangis

" Kakak bales gak? " tanyaku kembali. " Nggak,  Ma " jawab Kakak. " Bagus " jawabku. " Tapi aku tetep gak mau sekolah, kawanku jahat " sambil setengah teriak dengan tangisannya masih terdengar.  " Kawan sekelas Kakak? " tanyaku menginterogasi.  " Bukan, kelas lain " jawabnya.  " Ya udah, Kakak ngehindar aja kalau ketemu mereka. Kalau mereka mukul, gak usah dibalas. Bilang sama mereka Aku gak mau digituin" Jawabku. "Udah, ma.  Aku udah bilang gitu. Tapi tetep aja mereka ngejar aku terus mukul aku " jawabnya

" Kakak sering digituin mereka? " tanyaku. " Udah beberapa kali,  Ma " masih sambil menangis.

" Aku pokoknya gak mau sekolah lagi " semakin Kakak histeris. " Kakak,  dengerin Mama. Kakak kalau Kakak gak sekolah, mereka bakal ngetawain Kakak. Karena mereka tau Kakak orang yang lemah. Mereka bakal nginjek-nginjek Kakak lagi" jawabku dengan nada agak tinggi

" Mereka jahat banget, Ma" kata Kakak.  " Iya, Mama tau. Mereka emang jahat. Nah sekarang Mama tanya kalau Kakak gak sekolah mereka peduli gak sama Kakak? Gak, Kak. Yang bakal rugi Kakak sendiri" jelasku pada Kakak. " Kakak gak boleh lemah kayak gitu. Kakak gak usah balas mereka. Yang Kakak bisa tunjukin ke mereka kalau Kakak bisa. Kalahin mereka sama nilai-nilai Kakak yang bagus. Nanti mereka bakal tau siapa Kakak"  sambil memeluk Kakak yang sudah mulai agak tenang

" Tapi gak mau sekolah " mintanya lagi. " Kakak besok harus sekolah. Gak boleh nggak sekolah" tegasku lagi. Dan kejadian itu sengaja tidak saya laporkan ke wali kelasnya

***

Kakak sejak kelas 1 SD sudah mengalami bully.  Kawannya berinisial K sering memalak Kakak. Korbannya bukan hanya Kakak, tapi juga kawan-kawan lainnya. Saat itu kami masih tinggal di Pekanbaru. Karena banyak yang dipalak, wali kelasnya pun akhirnya tahu

Kejadian bully pun terjadi saat Kakak menginjak kelas 1 SMP beberapa bulan lalu di Medan, tempat tinggal kami sekarang. Mirip dengan di Tangerang Selatan. Saat itu mati lampu,  kami berkumpul di kamar. Tiba-tiba Kakak minta pindah rumah kontrakan. Alasannya supaya bisa ikut kerja kelompok. Karena memang rumah kami cukup jauh dari sekolahnya. Setelah ngobrol ini itu dan diberi solusi tanpa pindah rumah Kakak bisa ikut kerja kelompok, Kakak terlihat diam setuju

Obrolan ini itu kami pun berlanjut, eh tiba-tiba Kakak mengatakan ingin pindah rumah lagi. Padahal tadi sudah diberi solusi, kerja kelompoknya hari Sabtu saja supaya bisa dijemput papanya pulang kuliah.

Selidik punya selidik, setelah diajak bicara rupanya Kakak sedang jengkel dengan kawannya sekelas. Beberapa hari belakangan, sering diganggunya. Mulai nyenggol dengan pandangan sinis dan memukul kepala. Rupanya bukan hanya Kakak saja yang menjadi korban. Kawan lainnya pun juga menjadi korban. Dan baru pertama kali dalam hidup Kakak, dia membalas kawannya itu dengan pukulan. Saya dan papanya pun cukup terkejut, karena selama ini yang saya dan papanya ajarkan jangan membalas dengan fisik. Sempat saya katakan ke Kakak " Ngapain siy Kak, Kakak pukul segala "

Jika biasanya kami tidak melaporkan bully kepada guru, malam itu kami mencoba mengkomunikasikannya ke wali kelas. Karena area sensitif Kakak mulai disentuh oleh kawannya. Satu lagi alasannya, saat itu Kakak terlihat sangat emosi. Dan itu pertama kalinya kami melaporkan tindakan bully terhadap Kakak ke wali kelasnya. Alhamdulillah, kawan Kakak ini sekarang sudah jadi lebih kalem nggak gangguin kawannya lagi.

***

Menghadapi anak yang dibully bukan merupakan hal yang mudah buat saya. Ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. Kami punya kehidupan yang berbeda dengan orang lain. Pindah dari satu kota ke kota lainnya. Jika ada orang tua lain yang berpendapat, pukul balas pukul tendang balas tendang. Tidak dengan kami.

Iya kalau orang tuanya terima anak kami membalas. Kalau tidak terima gimana? Apalagi banyak pemberitaan di luar terkadang korban malah ditindas oleh pelaku. Membayangkan saja sudah horor buat saya. Apalagi kami tinggal di kampung orang

Melaporkan ke gurunya dalam beberapa kesempatan memang tidak saya lakukan. Bukan karena tidak sayang anak.  Namun justru itulah cara saya menyayangi dan melindungi anak. Saya tidak mau ketika saya melapor ke guru, anak saya akan jadi bulan-bulanan pembalasan pembullynya. Karena memang kondisi lingkungan kawan-kawannya saat itu terlihat kurang kondusif buat kami kalau kami melaporkan kejadian bully ke sekolah. Dan selama Kakak masih bisa "bertahan" buat saya sudah cukup baik

Pun ketika kami akhirnya untuk pertama kali melaporkan tentunya juga ada pertimbangan. Mungkin dengan melapor ke wali kelasnya, Kakak merasa diperhatikan. Tentunya melihat juga kemungkinan apakah kondusif jika kami melapor ke pihak sekolah

Membalas dengan prestasi yang baik, itu selalu saya dan papanya tekankan pada Kakak. Rada aneh ya. Tapi itulah balas "dendam" terbaik menurut kami ...

***

Gimana dengan Kakak? Alhamdulillah, setelah beberapa kali mengalami bully Kakak tetap bisa sekolah. Semangat? Tentunya harus selalu disemangati. Baik ketika dibully ataupun tidak. " Semangat ya, Kak. Barakallahu fik. I love you" itu yang hampir setiap hari saya dan papanya katakan ke Kakak. Kata - kata membangun seperti " Kakak hebat, Kakak anak sholeh" juga terucap buatnya. Entah saat mau tidur, berangkat sekolah, di mobil, saat melihat Kakak belajar atau kapan pun kami ingin mengucapkannya.

Tidak ada cara yang paling sempurna dalam mendidik anak, karena setiap anak istimewa. Situasi dan pilihan yang dihadapi juga berbeda bagi setiap keluarga

Semoga tidak ada lagi bully untuk anak-anak semua











You May Also Like

16 komentar

  1. Hello mbak Dilla, aduh anak kecil jaman skrng hiks. APa krn korban sinetron ya jd bisa membully gtu :(
    Btw, kalau saya ibu dari anak yg dibully mungkin mengajari anak utk membalas hehe. Atau minimal mengadu kepada guru, speak up gtu. Soalnya kalau menurut saya bully meskipun cuma verbal atau hal2 kecil tetap saja bully dan gak boleh dibiarkan berkelanjutan #imho lho ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada akhirnya saya juga memilih speak up,mb. Karena saat itu pilihannya dan situasinya berbeda dari yang sebelumnya

      Yang sebelumnya sangat2 tidak mungkin, better saya menyuruh anak menghindar daripada dia membalas pembully nya. Demi keselamatan Kakak. Disana serem, mb. Pernah liat sendiri ada kakak yang ancam kawan adiknya kayak gitu. Mau nasehatin tu kakak, serem duluan

      Saat bully terakhir pun ketika saya memilih speak up, memang sudah ada pertimbangan. Yakin bahwa ketika berbicara dengan pihak sekolah. Tidak akan ada balasab dari pembully nya atau keluarganya

      Hapus
  2. ya..ampun mw jd apa generasi ini. jika seusia sekolah saja sudah banyak pembullian

    BalasHapus
  3. Beul mba tidak harus langsung laporin ke guru biarkan anak kita selesaikan dulu masalahnya sendiri karena jika terus menerus kita turun tangan khwatir anak kita jd dependen dan kurang problem solvingnya :) smg kakak sll semangat dan ttp kuat aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. That's the point, mb. Pengen supaya anak bisa kuat problem solvingnya plus disisi lain tetap supaya anak merasa diperhatikan

      Hapus
  4. Nggak nyangka bu, ikut prihatin putranya ngadepin masalah demikian. Sikap saya berbeda dng njenengan. Kalau anak2 malah saya ajari teges & harus berani balas bagi siapapun yg berani menyentuh mereka secara fisik. Positifnya pertikaian hanya sampai tingkat verbal, karena lawan jd tau kalo anak2 tdk bisa disepelekan. Pesan sy ke mereka masalah jng dicari, tp kalo ketemu hadapi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai,say. Ketemu disini kita.
      Kondisi Kakak saat di Tangerang Selatan beda, say. Meski saat sebelumnya di Pekanbaru dia pernah dibully, disana dia bisa melawan dengan tegas (gak pake fisik loh). Cukup dengan mengatakan gak mau dipalak setelah beberapa kali dipalak,akhirnya kawannya keder juga. Plus Alhamdulillah ketahuan sama gurunya karena banyak anak lain yang dipalak

      Sementara saat di Tangsel,Kakak sendiri Kakak agak syok melihat kondisi kawannya yang kayak gitu. Nakalnya beda dengan di Pekanbaru. Ketika dia melawan dengan membalas fisik, pembully nya bisa lebih kejam lagi. Dan akan berakibat buruk lagi sama Kakak. Menghindar setelah dia mengatakan ke kawannya bahwa dia gak mau dibully begitu adalah pilihan terbaik saat itu. Pun ketika aku memilih gak melapor

      Lalu ketika di Medan dia kembali dibully oleh kawannya. Dan Kakak pun balas memukul setelah dipukul beberapa kali dan disentuh area sensitifnya. Meskipun aku sendiri agak kaget. Tapi apa yang dilakukannya aku coba pahami.Bahwa dia gak langsung balas dan sempat melawan dengan kata-kata

      Buat aku baik ketika dia mengatakan ke kawan pembully nya bahwa dia gak mau digituin ( pukul atau palak) dan pun ketika dia akhirnya memilih buat membalas pukulan, aku melihatnya bahwa Kakak punya sikap. Mana yang terbaik buat dirinya

      Hapus
    2. Ya Allah ternyata complicated ya...buat kakak yg sabar. Tetap berprestasi, jng jdkan masalah ini mengganggu belajarnya. Buat mama dila aku doakan smoga balik & menetap di smg lagi...😙😙

      Hapus
    3. Di manapun bumi Allah sama aja, say.

      Yeaaaay ... Pembenaran diri supaya bisa jalan-jalan lagi hahaha 😂😂😂

      Hapus
  5. Pernah baca buku 'Sabtu Bersama Ayah' karangan Adithya Mulya Bun? Disana jg ada solusi 'versi lelaki' buat ngadepin anak lelaki yg di Bully. Mmg sy blm berpengalaman bun. Tp sepertinya anak lelaki dan perempuan itu berbeda cara menghentikan bully ini.. Yang penting si kaka punya teman karib bun di sekolahnya. Dulu kakak sy pernah jg soalnya dibully. Emak sy ngadu ke wali kelas. Waktu itu SD kami emang agak 'kampung'. Eh pas diaduin kewali kelas n dapet saran dari walinya si anak malah bilang 'cemen' kkakakq n semakin kuat bully nya karena dibilang 'anak mami tukang ngadu'. Solusi prestasi sendiri tdk berlaki buat kakak sy krn it membuatnya makin culun di lingkungannya. Solusi tepat buat kakak sy adalah punya teman karib yang mendukung 'passionnya' agar melebihi aura negatif dari sipembully.. Hihi.. Hidup remaja itu rumit yak bun.. Beda masalah beda solusi.. Btw nice sharing bunda.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi tertarik beli bukunya euy. Masuk ke daftar tunggu niy

      Alhamdulillah Kakak malah dengan punya prestasi dia malah makin percaya diri, mb Winda. Tambah banyak kawan. Dan emang bener siy, beda anak beda solusi karena kasus boleh sama cuman terkadang kondisi mereka berbeda

      Hapus
  6. Gemezzzzz banget bac cerita mb Dila. Kadang kota sebagI pelapor suka dibokin bingung ya. Ngeri dibalas perbuatan apa lah ini-itu. Sabar sekali mbak Dila menghadapi situasi ini. Kalau aku udah lapor polisi hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah, mb. Beda situasi dan kondisi, kudu beda penanganannya. Salah langkah eh udah jadi korban masih ketimpa tangga pula kita

      Hapus
  7. sedih baca anak2 sekarang kok ya perilakunya kejam gitu :(.. aku jd takut sbnrnya kalo nanti anakku sekolah gimana mba... moga2 aja temen di sekolahnya ga jahat2 suka membully.. Tapi dr skr sih aku dan suami udah bilang, kalo ada yang membully , kasih tau kita berdua.. jangan takut, jgn disimpen sendiri.. ga pengen aja anak2 ntr merasa stress sendiri dan malah ngelakuin hal2 yg ga baik :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya perilaku bully udah ada dari jaman dulu. Cuman sekarang lebih ngeri, Mb. Cara terbaik siy, anak harus terbuka sama kita. Supaya masalah bisa dipecahkan bersama

      Hapus