Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di blog ini . Powered by Blogger.
  • Home
  • Contact Me
  • About Me
  • Category
    • KULINER
    • LIBURAN
    • LOMBA BLOG
Facebook Google Plus Instagram

Ibu Dila

Setiap langkah adalah berharga


Awalnya saya gak ada ide buat bikin tulisan ini. Ide ini muncul tiba-tiba saat salah seorang kawan SMA saya, Bina, menulis status di FB bahwa dia datang ke Medan. Status itu dikomentari oleh kawan SMA saya, Rizqi, yang baru-baru ini jalan-jalan di Sumatera Utara termasuk Medan. Dan Rizqi pun menyebut BPK

Komentar pun bergulir dan ujung-ujungnya Rizqi meminta saya menjelaskan apa itu BPK

Saya jawab saja "BPK versi mana dulu. Banjarmasin apa Medan  ?"

Karena saya pernah tinggal di Banjarmasin selama hampir 4 tahun. Dan saat ini saya tinggal di Medan sudah lebih dari 3 tahun

Nah, daripada makin bingung. Ayuk langsung saya ceritain apa itu BPK versi Banjarmasin dan Medan


 ***
Teman - teman, apa yang kalian bayangkan saat mendengar singkatan BPK ?

Yang pertama kalian pikirkan tentang singkatan BPK, pasti mengarah ke Badan Pemeriksa Keuangan kan. Betul ...

BPK Republik Indonesia menurut Wikipedia adalah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang memiliki wewenang memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara

***

Tapi di Banjarmasin dan Medan, BPK juga punya arti loh. Apa itu ?

Banjarmasin

Kota seribu sungai ini, memiliki BPK yang jumlahnya banyak sekali. BPK di Banjarmasin, singkatan dari Barisan Pemadam Kebakaran.

Barisan Pemadam Kebakaran atau BPK di Banjarmasin ( sumber gambar : Banjarmasin.Tribunnews.com )

Jumlah BPK di Banjarmasin sangat banyak. Saking banyaknya BPK di kota ini, Museum Rekor Indonesia pernah memberi penghargaan pada 26 September 2004. Penghargaan itu diberikan dengan mencatat rekor " Barisan Mobil Kebakaran Terpanjang se Indonesia dan Asia Tenggara "

Dan pada 23 Agustus 2015, kota Banjarmasin kembali memecahkan rekor " Barisan Pemadam Kebakaran Swadaya Masyarakat ". Bahkan kali ini, rekor tersebut adalah yang tertinggi di Asia


Kenapa di Banjarmasin bisa banyak sekali Barisan Pemadam Kebakaran atau BPK ?

Banjarmasin termasuk kota paling banyak mengalami musibah kebakaran. Banyak faktor penyebabnya,  antara lain penggunaan lilin saat mati lampu ( frekuensi mati lampu disana lumayan sering ) ataupun arus pendek listrik

BPK Banjarmasin sedang memadamkan api ( sumber gambar : Okezone. com )

Dan itu diperparah dengan masih banyaknya rumah yang terbuat dari kayu di Banjarmasin

Barisan Pemadam Kebakaran di Banjarmasin, bukan saja milik pemerintah. BPK bisa dimiliki oleh RT, RW atau Kelurahan. Atau bisa juga milik organisasi. Digerakkan oleh para relawan, yang siap 24 jam

Tak hanya memadamkan kebakaran di perumahan atau gedung, BPK di Banjarmasin juga membantu memadamkan kebakaran di lahan gambut yang masih ada di seputaran Banjarmasin

Selain bencana kebakaran, BPK di Banjarmasin juga membantu pencarian orang tenggelam di sungai, evakuasi korban bencana alam ataupun saat hewan liar seperti ular yang masuk ke pemukiman

Medan

BPK juga banyak ditemui di Medan. Apa itu BPK buat orang Medan ?

Menurut Wikipedia, BPK atau Babi Panggang Karo adalah makanan yang terbuat dari daging babi yang dipanggang atau dibakar

BPK atau Babi Panggang Karo di Medan ( sumber gambar : screenshot ulasan di Google )

Makanan yang berbahan utama babi ini adalah makanan khas suku Karo yang banyak mendiami Berastagi,  Kabanjahe dan Medan. Tak heran jika banyak ditemui rumah makan BPK di kota itu

Masih menurut Wikipedia, Babi Panggang Karo berbeda karena cara pemanggangan yang unik dengan irisan lebih halus. Ditambahkan sajian daun singkong dan kincung ( kecombrang ) yang dimasak

Di kota Medan BPK sangat mudah ditemui terutama di daerah yang banyak dihuni oleh Suku Karo. Biasanya tak hanya menjual babi panggang, tampak juga daging babi dijual yang diletakkan di gantungan di depan rumah makan BPK

***

Sekarang udah tahu kan, BPK itu punya arti yang berbeda antara di Banjarmasin dan Medan

Tulisan ini saya buat, untuk menunjukkan betapa kayanya Indonesia. Dengan berbagai perbedaan suku, agama, adat dan budaya yang ada

Salam ...
Share
Tweet
Pin
Share
23 comments
Bandeng Duri Lunak yang sudah digoreng ( sumber gambar : MyOlehOleh.wordpress.com )

Hidup menjadi seorang perantau yang jauh dari kampung halaman terkadang membuat orang jadi bisa. Ya the power of kepepet lebih tepatnya

Siapa siy yang gak kenal Bandeng Duri Lunak khas Semarang ? Saya gak akan bilang Bandeng Presto®, karena Bandeng Presto® adalah merek dagang salah satu toko bandeng duri lunak di jalan Pandanaran Semarang

Beli yang segar, gak mungkin dong. Bisa busuk nanti di jalan. Beli yang vakum ? Udah beberapa kali, tapi tetep ya. Enakan ya segar menurut saya

Mau gak mau, jurus terakhir jadi andalan ... Bikin sendiri

Dan ini dia resep bandeng duri lunak yang biasa saya masak di rumah

Bahan :
Ikan Bandeng ( pilih yang 1 kg berisi 5 ekor, supaya tidak memotong dan pas dengan ukuran panci di rumah )

Bumbu halus :
- Bawang Merah
- Bawang Putih
- Kemiri
- Jahe
- Kunyit
- Garam

+ Ragi tape 1 butir
( supaya ikan bandeng seratnya lebih terlihat dan kesat setelah matang )

Bahan alas :
- Daun Pisang Batu
- Daun Salam
- Daun Jeruk
- Daun Sereh

Cara buatnya :

1. Buang isi perut ikan bandeng, tanpa membuang ingsang. Sisik tetap dipertahankan.  Cuci bersih


Tujuannya supaya kepala ikan tidak hancur saat dikukus di panci tekanan tinggi. Dan ikan tetap cantik setelah matang

2.  Bawang merah, bawang putih, kemiri, jahe dan kunyit dihaluskan. Ragi dihancurkan dengan cara digeprek saja

3. Ikan dibumbui dan diberi garam. Diamkan sekitar 1,5 jam

4. Siapkan panci tekanan tinggi yang telah diisi air di bagian bawah dan diberi sarangan

Untuk panci tekanan tinggi Maxim seperti milik saya, di bagian bawah panci harus diberi ganjalan. Saya menggunakan batako ukuran kecil karena panci Maxim tidak ada lekukan di bagian dindingnya, dan sarangan akan jatuh ke dasar 

5. Beri alas daun pisang, daun salam, daun jeruk dan daun sereh yang sudah digeprek

6. Letakkan ikan di atas tumpukan daun. Sisa bumbu dilumuri di atas badan ikan



7. Tutup ikan dengan daun-daunan seperti alas tadi. Jika masih cukup beri ikan lagi dan tutup lagi dengan daun-daunan itu

8. Nyalakan kompor dengan api besar dahulu saat meletakkan panci tekanan tinggi di atas kompor

9. Tunggu hingga bunyi " Ngiiiing " khas panci bertekanan tinggi keluar yang ditandai dengan uap yang mulai terlihat

10. Kecilkan api menjadi ukuran sedang

11. Biarkan masak hingga 2 jam setelah uap keluar pertama kali

12. Matikan kompor, biarkan uap hilang dahulu. Membuka panci saat uap masih ada, tidak akan bisa

13. Buka tutup panci


14. Angkat ikan satu persatu setelah ikan benar-benar dingin. Mengangkat saat panas, bisa menyebabkan ikan hancur

15. Siap disimpan di chiller kulkas untuk 2 minggu ke depan

Bandeng duri lunak yang telah masak, bisa digoreng dengan dibalur kocokan telur. Dan siap untuk lauk makan kita bersama sambal terasi

Gimana resep saya?  Simpel kan

Ayuk coba di rumah 😊😊



Share
Tweet
Pin
Share
11 comments
sumber gambar : Pixabay

11 Juli 2013

Kamis petang jelang Maghrib di bulan Ramadhan, pesawat Batik Air yang membawa saya dan keluarga mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta dari Pekanbaru - Riau

"Hello,  Jakarta ...  here we come. We're ready to start a new life"

Yeyyy ... setelah 7 tahun tinggal di Kalimantan dan Sumatera. Akhirnya kami menjadi penduduk pulau Jawa lagi

" Gimana, pak. Kita langsung ke hotel ?" kata mas Yogi kawan kantor suami. Setelah memasukkan barang bawaan kami yang bejibun itu. " Iya, Yog. Tapi kita cari makan dulu. Lagian udah mau hujan" kata suami

Yah inilah kebiasaan kami. Menginap beberapa hari di hotel, sebelum barang kami datang di rumah kontrak yang baru saat pindah ke suatu kota

Langit gelap, petir menggelar dan hujan turun dengan lebatnya sesaat setelah mobil meninggalkan parkiran Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta

" Alhamdulillah, rejeki. Pertanda yang baik " kata saya

Kotak nasi dan sebungkus Kit Kat dari pesawat menjadi menu buka puasa kami di mobil. " Yog, ini buat buka " kata suami sambil memberikan kotak nasi jatah adik ke mas Yogi

" Hotelnya udah dipesan kan,  Yog? " kata suami. " Udah, pak. Di Mega Anggrek " kata mas Yogi

" Masih jauh, mas? " kata saya. " Lumayan, bu " jawab mas Yogi. " Tiap hari macet begini ? tanya saya. " Iya, bu. Apalagi kalau hujan " jawab mas Yogi dengan logat Purwokerto nya yang khas itu

" Jakarta ... Jakarta. Kenapa kamu macet terus? " pikir saya

***

" Makan dimana,  Yog? " tanya suami. " Bapak, maunya apa? " kata Mas Yogi. " Apa ya. Kamu mau apa,  say " tawar suami ke saya. " Yang seger-seger ada kuahnya. Ada gak, mas Yogi? " tanya saya

" Apa ya, bu... hmmm " mas Yogi kelihatannya bingung. " Di Warung Leko aja. Ada supnya tuh, Bu " kata mas Yogi

" Sup apa?  Ada wortelnya? " tanya saya. " Ada gak ya? " kata mas Yogi. " Udahlah, say. Yang penting makan. Kasian anak-anak udah capek " kata suami

Sup Iga jadi pilihan saya dan anak - anak untuk mengisi perut yang kosong. Wajah anak-anak yang mulai tampak capek, sudah terlihat agak segar setelah mengisi perut

" Say, bungkusin 2 buat di hotel ya " kata saya ke suami
***

" Hotelnya masih jauh, Mas Yogi? " tanya saya. " Gak, bu. Tinggal lurus pinggir tol aja " kata Mas Yogi

Rupanya hujan yang membasahi Jakarta, sudah cukup membuat genangan di jalanan. Jarak yang sebetulnya lumayan dekat, jadi terasa jauh karena macet

" Ini hotelnya, mas? " kata saya ke mas Yogi. " Iya, Ini bu. Hotel Mega Anggrek " jawab mas Yogi. " Kok kanan kirinya gedung begini? " kata saya sambil tingak - tinguk. " Terus aku cari makan siang buat anak-anak dimana niy, say. Kan mas gak mungkin nganterin. Jauh gitu dari kantor" kata saya ke suami

Belum juga turun dari mobil, saya minta suami buat mencari hotel lain

" Ada hotel lain, Yog ?" tanya suami. " Ada, Pak.  Tapi ke arah kota " jawab mas Yogi. " Deket kantor gak ada apa, Mas Yogi? " masih tanya saya. " Ya nggak ada, bu. Wong jalan Srengseng  ( Jakarta Barat ) kan banyak rumah penduduk. Ini udah paling dekat " jawab mas Yogi

" Ini paling dekat?  " kata saya kaget.  Dalam hati " Segini dekat, Jakarta oh Jakarta " mau nangis aja

" Ibu, mau ke Wisma Lampung? " tanya mas Yogi. " Rame sekitarnya?  Terang? " tanya saya. " Ya ramelah, Bu. Namanya juga Jakarta. Tapi kalau cari makan, kayaknya gak mungkin dekat situ jalan kaki, bu " kata Mas Yogi

*Ih, kenapa saya waktu itu nanya begitu ya. Jakarta ya pasti ramai ... isssh bikin malu aja*

" Coba deh, liat dulu Wisma Lampung " kata saya

" Kapan sampai, Ma? " kata Kakak. " Bentar lagi, Nak " jawab saya. Terlihat mukanya kembali lelah. Apalagi saat dari Pekanbaru Kakak memang sudah agak sakit

Jakarta memang betul-betul tidak ramah buat saya malam itu. Macet dimana-mana

Putar putar kemana, saya udah gak ngerti jalan. Liat simpang tol Tomang bertumpuk begitu, makin bikin saya puyeng. Yang jelas saya malam itu pertama kali melihat Kantor Sekretariat Negara dan gerai Seven Eleven di sudut jalan. Meski sekarang udah tutup ... hiks

Cuman kalau sekarang saya lihat di GPS, kok gak lewat Sekretariat Negara ya, kalau mau dari Hotel Mega Anggrek ke Wisma Lampung  ( entahlah GPS emang kadang suka membingungkan )

" Itu, bu. Wisma Lampung " kata mas Yogi. " Yakin mau hotel itu, say? " tanya suami. " Jalannya rame banget gitu. Lagian mau cari makan dimana coba itu " kata suami

Bener juga pikir saya

" Ya udah cari hotel lain lagi, deh " kata saya. " Hotel mana lagi, say? " kata suami

" Ma, aku udah gak kuat " kata Kakak. " Aku kedinginan " katanya

" Tuh, liat Kakak udah capek. Kasian Kakak. Yogi juga udah mulai capek, say " kata suami agak keras kali ini ke saya

" Ya udah deh, ke hotel yang satu lagi. Yang kemarin mas Yogi kesana terus kirim fotonya itu " kata saya

" Yakin ibu mau kesana ? Mending Hotel Mega Anggrek aja, Bu " jawab mas Yogi

" Gak papalah, Mas. Anak-anak juga udah mulai capek "  jawab saya

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 21.00

***

Sebuah hotel ( kalau boleh saya bilang mirip motel sih ) di tepi jalan tol Jakarta - Merak juga, seolah menyambut kedatangan kami malam itu

" Sepi sekali. Pakai pagar tinggi. Wah ya gak keliatan dari jalan depan " batin saya

" Permisi " kata suami. Resepsionis tampak kosong

" Eh, iya Pak " jawab seorang bapak setengah tua tak berseragam seperti layaknya sebuah hotel dari sebuah ruang kecil di belakang meja resepsionis

" Nginap disini berapa, pak? " tanya suami

" 275 ribu semalam, Pak " jawab bapak

" Murah amat " batin saya

" Disini aja ya, say " kata suami

" Iyalah " jawab saya yang sudah mulai menyerah dengan rasa lelah akibat perjalanan

" Bapak, mau pilih kamar apa ? Kamar aja apa yang ada garasinya? " tanya bapak itu

" Kamar aja. Yang ini ya  " jawab suami sambil menunjuk gambar di dinding

" Oke, pak. Ada di lantai 3 ya " kata bapak itu kembali

" Hei, sini bantuin bapak ini bawa barangnya " kata bapak itu ke seorang kawannya


Koper- koper dan kardus - kardus pun diturunkan dari mobil mas Yogi ( namanya juga pindahan pasti banyak barang )

" Yog, makasih ya. Besok pagi jemput aku ke kantor " kata suami

" Siap, Pak " jawab Mas Yog

" Makasih ya, mas Yogi " kata saya

" Iya, bu " jawab mas Yogi

***

Sebuah pintu lift berukuran mini terbuka. " Ya ampun, di Jakarta masih ada lift sekecil ini ? Astaga liftnya tua banget. Kusam lagi " pikir saya

" Yang nginap banyak malam ini, mas? " tanya saya ke mas-mas sekitar 30 tahunan itu

" Ada siy, bu " jawabnya


Pintu lift pun terbuka ... lantai 3


Sebuah lorong di depan kamar-kamar hotel terlihat tidak terlalu terang cahaya lampunya. " Oh,  ternyata ada juga yang menginap " dalam hati. Tampak cahaya dari jendela di depan beberapa kamar. Menandakan ada penghuni di dalamnya

" Silakan, pak bu. Ini kamarnya " kata si mas sambil memasukkan barang bawaan kami

" Iya, makasih Mas " jawab suami sambil memberikan tips

Sebuah kamar cukup luas menjadi tempat menginap kami malam itu

" Say, masak nasi dulu. Biar anak-anak bisa makan lagi malam ini " kata suami

Sekarang tau kan kenapa bawaan saya banyak banget. Ada rice cooker dan perlengkapan makan di salah satu kardus itu siy ... hahaha

 " Akhirnya aku bisa tidur " kata Kakak

Beda dengan Kakaknya, si kecil nyaris gak rewel sama sekali di jalan. Ya mungkin karena dia gak sedang sakit seperti Kakaknya

Guyuran air di kamar mandi malam itu terasa segar sekali, meski terganggu dengan bau kamar mandi yang agak pengap itu

" Kak, makan lagi " kata suami setelah nasi matang

Malam itu kami makan sebungkus sup daging yang kami beli di Warung Leko. Anak - anak kembali makan dengan lahapnya

" Say, aku tidur dulu ya " kata suami

Tak lama kemudian, anak-anak dan suami sudah terlihat pulas dalam tidurnya

" Enaknya bisa cepat tidur " batin saya

Itulah saya, kadang ketika capek sekali malah susah tidur. Apalagi dengan suasana yang baru seperti malam itu

" Ya udah deh, nyalain TV aja " pikir saya daripada sepi

***

Jam menunjukkan pukul 11 malam ...

" Kerusuhan di Lembaga Permasyarakatan Kelas 1 Tanjung Gusta Medan - Sumatera Utara terjadi sore tadi. Empat orang napi tewas dan diduga ratusan lainnya melarikan diri dari lapas. Kerusuhan diduga akibat padamnya listrik dan air sejak kemarin. Bla ... bla ... bla "

Hampir semua tv menyiarkan berita yang sama malam itu. Bahkan 2 buah televisi swasta nasional yang selalu bersaing menyiarkan berita, tak putus menyiarkan live malam itu dari Medan dan Jakarta

Nging ... nging ... nging,  suara nyamuk benar-benar menggangu

Kasur yang terasa gatal menurut saya, semakin membuat saya tak bisa tidur. Setiap berusaha memejamkan mata, tetap saja mata tak sanggup terpejam

" Ah mending buka FB aja " pikir saya

Sebuah ponsel berbasis windows milik saya, menemani sepinya malam itu. Kepoin si A, si B dan si C. Lihat berita yang lagi viral di FB

O iya, jaman itu saya dan suami belum punya ponsel pintar

Malam semakin larut tapi saya tetap tak bisa tidur. Masih dengan ponsel di tangan, saya ketik nama hotel tempat saya menginap malam itu di mesin pencarian Google

Astaga, ternyata hotel ini biasa dipakai short time. Pantas sepi banget. " Bener niy kata mbak Dina " dalam hati saya. Mbak Dina adalah pemilik rumah yang akan saya kontrak ketika mendengar kami meminta kawan melihat hotel ini. " Jangan, hotel itu gak bagus. Auranya gimana gitu " kata mbak Dina waktu itu

Langsung saya teringat waktu mas Yogi bertanya "Yakin ibu mau kesana ? Mending Hotel Mega Anggrek aja, Bu "

***

Lanjut guggling

Jeder ... tiba-tiba saya membaca berita yang sangat tidak saya harapkan malam itu.

Hotel tempat saya menginap pernah terjadi pembunuhan di sebuah kamar beberapa bulan sebelumnya

" Ya Allah, kenapa aku harus baca ini jam 1 malam begini. Malam Jum'at lagi" sambil merutuki diri saya sendiri

Bodoh ... bodoh ... bodoh

Tertulis " Seorang wanita dibunuh di hotel XXX kamar 3 sekian sekian. Pembunuhan dilakukan oleh mantan pacarnya di bulan September tahun 2012 "

Kamar 3 sekian sekian ?

Hah ?

Lantai 3 dong ?

Jantung makin berdebar kencang ...

Mau bangunin suami, kasihan dia lelah sekali

" Kunci kamar mana kunci kamar " sembari mengambil kunci yang tergantung di pintu

3 sekian sekian ...

" Kamarku 3 sekian sekian, kamar yang ada pembunuhanny 3 sekian sekian. Satu... dua... Tiga " sambil berhitung dalam hati

Waaaaaaaah  ... kamar pembunuhan itu letaknya 2-3 kamar sebelah kamar ini

" Kapan paginya. Kapan paginya " saya semakin tidak sabar menunggu pagi

Jam di dinding bergerak lama sekali malam itu. Suara di tv tetap tak mampu mengalahkan ketakutanku. Mau menangis gak bisa menangis

Bulan Ramadhan, bulan dimana katanya setan dikurung tetap tak mampu mengurangi rasa takut itu

Suara mobil dan truk lalu lalang di tol depan hotel seolah-olah ingin membuat saya teriak " Aku disini, tolong "

Jakarta yang semalaman diguyur hujan, menjadi panas buat saya malam itu

Meski pelan sekali ... jam akhirnya menunjukkan pukul 4.00

" Say, bangun. Say, sahur " sambil menggoyangkan badan suami

" Heeeeh " jawab suami sambil menutup mata

" Udah jam 4. Sahur " kata saya

" Udah jam 4 ? Cepet banget " jawab suami


Sup daging sebungkus lagi, jadi menu sahur kami berdua pagi itu

" Say, bisa telpon mas Yogi pagi ini ?" kata saya ke suami pelan-pelan

" Kenapa? " tanya suami

" Aku mau pindah hotel pagi ini " kata saya

" Pagi ini ? " tanyanya

" Iya pagi ini " jawab saya

" Emang kenapa? " kata suami

" Ini baca sendiri " jawab saya sambil menyerahkan ponsel saya dan menunjukkan sebuah artikel


" Ya ampun, say. Ini beneran? " kata suami

" Beneran lah, say . Kamarnya kan ada di deretan kita " jawab saya

" Hah ???" si bapak terlihat kaget

" Ya udah aku telpon Yogi pagi ini. Eh, tapi dia udah bangun belum ya " kata suami seolah lupa kalau tadi habis sahur

" Udahlah, say. Kan mas Yogi sahur juga " jawab saya

" Iya, ding " kata suami

" Yog, kamu abis sholat Subuh kesini ya " kata suami di telpon

" Kak,  bangun. Kita mau pindah hotel "

" Adik, ayo bangun sayang "

Agak susah membangunkan mereka pagi itu, meski akhirnya bangun juga

***

Tepat jam 05.30 mas Yogi datang ke hotel. Selesai membereskan barang dan membayar administrasi pun kami keluar hotel


" Loh, kenapa pindah hotel pagi begini Pak? " tanya mas Yogi

" Ternyata pernah ada pembunuhan di kamar yang sederet sama kamar kami, Yog " kata suami

" Pantesan hotelnya sepi ya, Pak " kata mas Yogi

***

Hotel Mega Anggrek, Jakarta Barat akhirnya ( kembali ) menjadi pilihan saya untuk hidup beberapa hari pertama di Jakarta

Dan Alhamdulillah selama kami disana, kami nyaman. Menu sahur enak. Anak-anakpun senang

Makan siang buat anak-anak ? Yah suami membelikannya sekalian saat pulang kantor. Buka puasa dan sebagian buat makan siang anak-anak besoknya

Simpan di kulkas, dihangatkan dalam rice cooker saat mau makan siang

Go food ? Kayaknya belum ada deh

Mungkin jika jaman segitu saya udah ngerti Trip Advisor, Traveloka, Agoda atau aplikasi sejenis. Kejadian gak enak kayak gitu, gak bakal saya alami

Thank's buat semua aplikasi travelling yang udah ada sekarang ini. Makasih juga buat yang udah mau review hotel di aplikasi itu

Hidup jadi lebih mudah sekarang

" Memilih hotel udah gak seperti membeli kucing dalam karung lagi"  😁😁😁
Share
Tweet
Pin
Share
29 comments
Sumber gambar : Pixabay

Timeline di sosmed Rabu kemarin diwarnai dengan #JokowiMantu, bikin saya pengen cerita tentang pernikahan di kota-kota yang saya tinggali

Yang akan saya ceritakan adalah saat saya menghadiri sebuah resepsi pernikahan. Apa hidangannya, kapan waktu penyelenggaraannya, berapa kali pengantin berganti kostum hingga saat bersalaman dengan pengantin

Untuk rangkaian adat, saya gak akan cerita disini ya. Ntar bisa tambah panjang aja tulisan saya ini.  Ini aja saya yakin bakal panjang ... Hihi

***

Gimana serunya saya menghadiri resepsi pernikahan di kota-kota ini,  check it out :

1. Semarang


Sumber gambar : Oknusantara.com
Kota kelahiran saya. Pernikahan di Semarang biasa diadakan di rumah atau gedung. Hari Sabtu atau Minggu biasa jadi pilihan utama para pengantin untuk menggelar acara resepsi. Di Semarang, pernikahan di rumah biasa diadakan sekitar jam 11.00 - 13.00 atau jam 12.00 - 14.00

Untuk acara di gedung jika acara diadakan pada siang hari, jamnya sama dengan di rumah. Atau bisa juga diadakan jam 19.00-21.00

Hidangan ? Di Semarang tidak ada hidangan khas menurut saya. Hidangannya bersifat nasional. Bisa dari masakan Jawa seperti tengkleng. Atau masakan dari daerah lain seperti empek-empek kadang juga ada. Sate ayam Madura, soto ayam, sup, ayam goreng, bistik lidah, salad buah dan lain - lain. Tergantung selera pengantin

Jika pihak pengantin mempunyai dana lebih, terkadang mereka menghidangkan menu internasional

Untuk bersalaman, para undangan  sebelum makan wajib bersalaman dahulu dengan pengantin. Maka tak heran jika jumlah undangannya banyak, bisa memakan waktu 1 jam untuk antri salaman

Bulan Muharram atau Suro menurut orang Jawa, bukan pilihan kebanyakan pengantin di Semarang dalam menyelenggarakan pernikahan

2. Kediri

Sumber gambar : Pinterest
Kota yang terletak di selatan pulau Jawa ini, memiliki kedekatan budaya dengan Jawa Tengah bagian selatan seperti Solo. Tak heran jika pernikahan di Kediri pun, hampir mirip dengan di Jawa Tengah. Baik pilihan menu ( kecuali rawon yang hampir ada di setiap menu resepsi pernikahan Kediri ), jam resepsi atau kapan saat bersalaman dengan pengantin

Karena Kediri termasuk kota kecil, resepsi yang diadakan di desa biasanya lebih panjang waktu resepsinya. Bisa sampai malam

Bulan Muharram atau Suro tidak banyak dipilih untuk mengadakan hajatan pernikahan

3. Banjarmasin

Sumber gambar : Pinterest

Ibukota Kalimantan Selatan, kota inilah yang pertama kali membuka mata saya tentang betapa kayanya budaya di Indonesia

Rangkaian pernikahan di Banjarmasin, biasanya mempunyai hari akad nikah dan resepsi yang berbeda. Dengan selang waktu seminggu hingga sebulan biasanya

Menu khas Banjar biasa ditemui di resepsi pernikahan. Seperti ayam bumbu habang ( bumbu habang adalah sambal dari cabe merah kering ), soto Banjar, karih ayam atau daging dan yang paling saya sukai acar khas Banjar

Acar di Banjar sangat khas sekali. Terbuat dari kol dan wortel yang diiris tipis ditambah bawang merah dan cabe rawit. Rasanya maknyuss

Resepsi di Banjarmasin biasanya diselenggarakan hari Sabtu atau Minggu. Antara jam 9.00 - 14.00. Waktu yang lumayan panjang itu diperlukan, karena rata-rata pengantin di Banjarmasin berganti kostum pernikahan 2-3 kali saat resepsi. Ada baju adat dan gaun internasional berwarna putih

Acara resepsi malam, biasanya diadakan di hotel. Itu jika memiliki dana lebih

Di pelaminan, pengantin Banjarmasin juga biasanya terdapat kue tart bertingkat. Yang nantinya akan dipotong oleh mempelai

Saat bersalaman dengan pengantin, biasanya setelah tamu makan dan akan pulang

4. Samarinda

Kota yang merupakan ibukota dari Kalimantan Timur ini, adalah kota dengan banyak suku yang tinggal di dalamnya. Salah satu yang terbanyak adalah suku Banjar. Tak heran jika pernikahan di Samarinda boleh dibilang serupa dengan di Banjarmasin. Hidangannya, bajunya dan lain-lain

Untuk pendatang dari  Jawa hidangannya pun bernuansa Banjar. Bedanya adalah jika yang menikah orang Jawa, baju adat dan rangkaian adatnya tetap bernuansa Jawa

Sedangkan pernikahan dari suku Bugis yang juga cukup banyak jumlah penduduknya di Samarinda, saya tidak bisa cerita. Karena belum pernah dapat undangan saat saya disana

5. Pekanbaru 

Baju pengantin Melayu ( sumber gambar : PoetraFoto.com )

Ibukota propinsi Riau ini, kebanyakan penduduknya adalah Melayu dan pendatang dari Minang. Tak heran jika pernikahan disana, rata - rata hidangannya adalah  masakan Melayu dan Minang. Seperti gulai nangka atau gulai daun ubi plus ikan salai, gulai kambing, rendang, urap, sate Padang, ayam Pop, salai ikan cabai hijau dan ayam semur.

Pengantin Minang ( sumber gambar : Wikipedia )
Di Pekanbaru, hidangan pernikahan  seperti roti jala yang disiram kuah manis ( terbuat dari durian, santan dan gula merah )  atau kuah kari ayam dan es air mata pengantin ( terbuat dari serutan timun, biji selasih dan diberi sirup ) juga gak boleh tertinggal

Pernikahan di Pekanbaru biasanya diadakan dari jam 12.00 hingga Maghrib

Untuk orang Jawa disana, yang berbeda hanya pada rangkaian adat dan bajunya. Hidangan sudah seperti Melayu dan Minang

Ketan kuning diletakkan di pelaminan juga tidak boleh tertinggal. Setelah makan, para tamu baru bersalaman dengan pengantin sekaligus pamit pulang

Berganti kostum dari baju adat menjadi gaun putih atau yang biasa disebut Selayar, juga biasa dilakukan di Pekanbaru saat resepsi

6. Jakarta

Sebagai ibukota negara dan penduduknya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Di Jakarta berbagai macam pernikahan bisa kita jumpai

Keberagamannya membuat tidak ada yang paling khas saat pernikahan di Jakarta. Jika pengantin dari Sunda, maka akan ada karedok. Jika pengantin dari Jawa, biasanya ada tengkleng. Dan masih banyak lagi

Penyelenggaran resepsi pun biasanya 2 jam saja, seperti di Semarang. Mengingat gedung pernikahan di Jakarta biasanya dalam 1 hari bisa dipakai 2 kali pernikahan. Apalagi saat tanggal cantik

Pengantin Betawi ( sumber gambar : Deniek G. Sukarya )
Pada pernikahan Betawi sebagai penduduk asli Jakarta, agak lebih berbeda. Jika diselenggarakan di pinggiran Jakarta yang masih bernuansa khas perkampungan Betawi dengan halaman yang luas dan pohon rindang

Jam acara resepsi lebih panjang, bisa sampai Maghrib. Hiburan khas Betawi juga meramaikan suasana. Dengan hidangan khas Betawi seperti soto Betawi, semur jengkol atau kadang ada juga kerak telor

7. Medan

Ibukota Sumatera Utara ini cukup spesial buat saya saat menghadiri resepsi pernikahan

Ada 2 jenis resepsi pernikahan di Medan menurut saya. Pernikahan suku Batak beragama Kristen / Katolik dan pernikahan Muslim ( dari semua suku yang ada di Medan )

Pernikahan Batak beragama Kristen atau Katolik

Pada pernikahan ini, hidangan yang disajikan adalah masakan khas Batak . Seperti babi rebus yang akan dibagi ke para undangan dan ikan arsik yang khusus diberikan kepada pengantin

Para tamu akan duduk bersama di meja dan makan bersama sembari MC membagi babi rebus dengan memanggil masing-masing marga

Acara biasanya diadakan di gedung pertemuan pada hari Sabtu siang. Hari Minggu bukan pilihan untuk menyelenggarakan acara pernikahan karena pada hari itu ada ibadah di gereja

Suasana pernikahan Batak Kristen atau Katolik ( sumber gambar: Mamak Turheni Sinurat )

Lalu bagaimana dengan tamu beragama Muslim ?

Jangan khawatir, untuk tamu beragama Islam disediakan areal khusus untuk duduk yang terletak di lantai 2 gedung pertemuan

Saat saya menghadiri pernikahan tetangga sebelah rumah. Nasi kotak berwarna pink saya ambil sebelumnya di lantai 2 gedung pertemuan, yang memang dikhususkan untuk tamu Muslim ( sumber gambar : dokumen pribadi )

Hidangan juga gak perlu dikhawatirkan, untuk tamu beragama Islam diberikan nasi kotak yang khusus dipesan di rumah makan Minang

Jadi terjamin kehalalannya kan. Bisa dimakan di tempat atau dibawa pulang

Pernikahan Muslim

Di Medan yang merupakan kota dengan banyak suku, pernikahan diselenggarakan tergantung asal suku pengantin. Untuk acara adat dan baju masih mengikuti asal daerahnya

Tapi soal hidangan rata-rata di Medan masakannya hampir sama. Ada rendang, sambal kentang, sup ( yang rasa mericanya cukup kuat ), ayam semur dan daging dendeng. Ada juga sate Padang dan roti jala kuah kari

Waktu pernikahan biasanya Sabtu atau Minggu dari jam 12.00 hingga Maghrib. Tamu biasanya menyukai datang diatas jam 14.00 atau setelah Ashar

Di Medan, pengantin juga berganti kostum saat acara resepsi. Misal dari baju adat Jawa menjadi Melayu

Bersalaman pun di Medan dilakukan setelah selesai makan

Selain 2 pernikahan di atas, di Medan juga ada pernikahan ala India Tamil dan Chinesse

***

Dari berbagai daerah yang pernah saya tinggali itu, beberapa daerah menyebut PERGI KE PESTA saat datang ke resepsi pernikahan. Seperti di Pekanbaru dan Medan 

Di kota-kota itu saya beberapa kali juga pergi ke pernikahan orang Chinesse. Rata-rata siy sama ya. Duduk di meja bundar dengan 8 - 10 hidangan yang akan datang. Resepsi di gedung atau hotel diadakan pada malam hari. Hidangan diambil dari katering yang halal mengingat tamunya juga banyak dari orang Muslim 

***

Udah dulu ya cerita saya tentang pernikahan yang pernah saya datangi di berbagai kota itu. Semoga bisa menambah wawasan teman-teman semua 

Silakan berkomentar yang baik. Pliss jangan SARA  








Share
Tweet
Pin
Share
8 comments
Mie Sop atau Miso ?
Mie Sop?
Atau
Miso ?
Atau
Entah mana yang betul.  Mie Sop atau Miso, sama aja kali ya.

Makanan ini cukup populer di Medan. Boleh dibilang gak sah kalau belum nyobain kuliner satu ini kalau kalian datang ke Medan

Dan parahnya adalah saya udah 3 tahun tinggal di Medan, baru kemarin nyobain kuliner satu ini. Ckckck ... Sangat memalukan. Itupun karena ditraktir kawan di sekolah si Kecil

 *langsung tutup muka*🙈

Mama-mama sekolah , maafkeun kami numpang eksis

Sate kerangnya, bu ?


Berhubung saya bener-bener blank soal per  Mie Sop atau Miso - an ini. Saya nurut aja diajak ke Mie Sop Kampung Mia yang ada di jalan Limau Manis pasar 13 Tanjung Morawa

Ada penampakan mbaknya sedikit 

Yang belum tahu Tanjung Morawa itu apa. Niy saya kasih tahu

Tanjung Morawa itu nama kecamatan yang ada di Deli Serdang. Berhubung mepet sama perbatasan Medan. Tanjung Morawa bisa dibilang Medan coret lah. Tanjung Morawa cukup terkenal kok, karena banyak industri disitu. Dan kalau kalian ke Medan, pasti lewat Tanjung Morawa begitu keluar bandara Kuala Namu. Komunitas Jawa Medan atau Jawa Deli cukup banyak loh disana

Udah ya informasi tentang Tanjung Morawa.  Kembali ke Mie Sop Kampung lagi ya

Mie Sop Kampung Mia ini udah ada dari tahun 1981, kata mbak penjual. Buat orang Tanjung Morawa, Mie Sop Kampung Mia ini cukup terkenal

Lagi motong-motong

Warung makan Mie Sop Kampung Mia ini bentuknya mengingatkan saya ke bentuk warung di era 80 an

Dinding " gedek" kalau kata orang Jawa. Jendela dari kawat ram seperti kandang ayam. Hembusan angin  sepoi-sepoi pun terasa di dalam. Gak usah khawatir,  bersih kok tempatnya

Jadi inget masa kecil 

Jendela begini bikin ngantuk aja deh 

Mie Sop atau Miso Medan ini apaan siy ?

Mie Sop Kampung atau Miso khas Medan adalah kuliner yang berbahan mie putih atau kuning dengan tambahan suwiran ayam atau potongan daging sapi, yang disiram kuah. Soal rasa, menurut saya siy kuahnya mirip dengan kuah bakso. Hanya warnanya sedikit kuning karena ditambah kunyit. Cocok dimakan pas siang bolong

Makan Mie Sop Kampung atau Miso khas Medan, gak akan lengkap tanpa sate kerang khas Medan. Di Medan, kerang dara termasuk makanan favorit. Gak heran banyak kedai kerang rebus bertebaran di Medan

Sate kerangnya maknyuss loh 

Sate kerang khas Medan, mempunyai cita rasa agak pedas mirip bumbu rendang.  Kebetulan sate kerang di Mie Sop Kampung  Mia ini ukurannya lumayan jumbo. Jadi sekali makan udah kenyang. Yang istimewa, sate kerang disana bukan berasal dari kerang kupas yang dibeli di pasar. Tapi kerang yang masih ada kulitnya lalu direbus sendiri. Dan dikupas kulitnya kemudian baru dibumbui

Gak cuman sate kerang, gorengan juga jadi pelengkap makan Mie Sop atau Miso khas Medan ini. Tempe gorengnya lucu deh. Tipis memanjang nyaris kayak keripik ... Hihihi

Gak sempat nyobain tempe gorengnya, cuman makan sukun gorengnya. Enak loh, pulen

Makan Miso atau Mie Sop Kampung disini cukup unik loh. Karena kita bisa memesan 1/2 porsi. Ukuran 1 porsinya kayak apa ? Jumbo. Saya aja makan 1/2 porsi udah kenyang banget

Segini niy penampakan 1/2 porsi. Banyak kan 

Soal harga lumayan lah. Mie Sop ayam campur daging sapi 1/2 porsi, yang saya pesan kemarin, seharga 12 ribu rupiah. Untuk sate kerangnya, 6000 rupiah per tusuk. Cukup mahal ya buat satu tusuk sate kerang. Tapi sesuai kok sama rasa sate kerangnya yang maknyuss itu

Udah ya cerita soal Mie Sop Kampung atau Miso khas Medan ini

Kutunggu kelen datang di Medan yaaa  ...






Share
Tweet
Pin
Share
16 comments


Siapa siy yang gak kenal Medan ? Udah lama kota ini terkenal di seluruh negeri. Gak kerasa udah 3 tahun ini aku tinggal di Medan. Setelah pindah dari Jakarta di tahun 2014 lalu. Banyak cerita yang udah mewarnai hari-hariku di ibukota provinsi Sumatera Utara ini

Biarpun Medan lalu lintasnya kacau, ada sampah yang mengganggu pemandangan kota dan pasar yang kotor. Tapi semua itu gak menghalangiku buat mencintai kota Medan

Mau tahu kenapa aku jatuh cinta dengan kota ini ? Taraaa ....

Ini dia alasan yang buat aku jatuh cinta dengan Medan  :

1. Kota Besar dengan Unsur Tradisi yang Masih Terasa

Medan itu punya mall yang cakep - cakep. Department Store sekelas Sogo dan Parksons pun ada disini. Medan juga punya kereta api khusus ke bandara Kuala Namu yang super megah dan keren itu . Belum fasilitas kesehatannya, ada RS Colombia Asia dan juga RS Siloam Dirga Surya. Hotel ? JW Marriot pun berdiri gagah di tengah kota. Harley Davidson bahkan punya toko disini

Dengan gemerlapnya kota Medan ini, hal - hal yang berbau tradisi masih bisa aku rasakan disini

Seperti becak motor yang masih terus eksis di tengah gempuran ojek online. Gak cuman becak motornya. Bahkan becak sepeda pun masih ada. Bukan di pinggiran kota loh mereka beroperasinya. Di tengah kota juga banyak. Gampang lagi nemuinnya

Apalagi saat pesta perkawinan atau upacara orang meninggal, tradisi masih kuat sekali dipegang. Misalkan : saat pernikahan atau upacara orang meninggal di masyarakat Batak atau Karo. Upacara adat dan pemakaian kain ulos masih dipegang teguh

Di pasar tradisional pun, masih banyak ditemui inang-inang yang mengenakan tutup kain di kepalanya

2. Orang Medan Ramah

Ini yang banyak orang salah kaprah sama Medan. Banyak yang mikir kalau orang Medan itu kasar kan ? Aduuuh, itu udah kena pengaruh sinetron. Atau lihat pengacara di tivi yang sukanya teriak - teriak itu

Di Medan ini banyak suku dan etnis yang tinggal. Ada Melayu, Jawa, Batak, Karo,  Mandailing, Minang, Aceh, China dan India. Macam - macam kan

Karena keberagamannya itu, orang Medan sangat terbuka sama pendatang. Mereka gak segan buat menyapa orang yang baru dilihatnya loh

Banyak kok yang bicaranya halus di Medan ini. Kalaupun ada yang bicaranya keras ( bukan kasar loh ), itu emang bawaannya

3. Bahasa Medan yang Unik

" Kalau bawa kereta, hati - hatilah kelen " . Tau gak kereta itu apa ? Kereta itu kalau di Medan artinya sepeda motor. Motor sendiri artinya mobil. Jangan bingung ya ... Hihihi

Unik ya Bahasa Medan ? Klik disini ya kalo mau tahu lebih banyak lagi Bahasa Medan

Bahasa Medan itu punya keunikan tersendiri. Bahasa Indonesia ( bahasa Melayu ) sebenarnya tapi agak lari sedikit. Karena banyaknya etnis dan suku yang tinggal di Medan. Ada sedikit persamaan dengan bahasa suku dan etnis yang tinggal tersebut. Ya bercampur kayak gado-gado lah

Jadi gak susah buat pendatang belajar bahasa Medan

4. Sayur, Buah dan Ikan yang Berlimpah

Kalau kalian dengar kota Medan yang diingat pasti duriannya. Hayo ngaku ...

Gak cuman durian aja kok yang banyak di Medan ini. Ada pisang Barangan yang terkenal enaknya itu, Jeruk Berastagi yang manis, durian apalagi, o iya ada juga alpukat ( makanya di Medan banyak penjual es pokat kocok ) atau Nanas madu yang endess itu

Belum lagi sayur mayur yang segar itu. Ah banyak banget. Bahkan aku nemuin sayur yang baru aku lihat di Medan ini. Namanya sayur Poeleng yang bentuknya mirip sawi tapi bukan sawi. Biarpun Medan kota besar, sayur daun labu gampang loh dicarinya

Emang siy, bukan kota Medan yang menghasilkan semua komoditi itu. Tapi disuplai dari kota - kota di sekitarnya. Seperti Berastagi,  Kabanjahe, Sidikalang dan lain - lain

Ikan ? Jangan tanya deh. Gampang banget cari ikan segar di Medan. Mau ikan laut ? Banyak macamnya. Ikan air tawar ? Banyak juga. Ikan Nila dari danau Toba enak loh rasanya

Soal harga gak usah khawatir, Medan termasuk kota ramah di kantong kok

5. Surga Makanan

Bicara Medan ya bicara makanan. Betul apa betul ?

Mau makanan apa juga ada. Ada masakan Melayu, Mandailing, Minang atau Aceh yang punya cita rasa pedas. Masakan Jawa juga ada, meski udah bercampur rasa Sumatera. Atau yang suka masakan Chinnese, banyak banget di Medan. Masakan India ? Gampang juga nyarinya

Tinggal sesuaikan aja dengan kemampuan dompet. Mau yang pinggir jalan ada atau kelas restoran super mewah juga ada

Catatan sedikit niy, buat orang Muslim kayak saya. Di Medan makanan non halal gampang ditemuin. Jadi kudu hati-hati ya. Dan gak usah khawatir bakal dijerumuskan. Tanya aja soal kehalalannya, mereka bakal jawab dengan baik kok

Apalagi oleh-oleh Medan, menggoda banget loh. Iya beneran. Coba deh mampir klik disini
 

6. Banyak Tempat Wisata

Di Medan mah gak usah bingung nyari tempat wisata. Ada istana Maimun, Masjid Raya Al Mashun, Tjong A Fie Mansion, Rahmat Gallery ( itu loh museum khusus hewan yang sudah diawetkan milik bapaknya artis cantik, Rahline Shah ) atau  penangkaran buaya

Belum lagi tempat wisata yang kekinian mulai bertebaran di Medan ini

Mau ke pantai ? Gak terlalu jauh kok. Emang siy bukan di Medan, agak minggir lah

Atau mau ngademin pikiran di pegunungan. Gampang, ada Sibolangit atau Berastagi yang jaraknya 2-3 jam dari Medan. Tempat yang gak pernah bikin bosan buat dikunjungi

7. Masyarakat Medan adalah Masyarakat yang Damai dan Toleran

Ini yang paling aku suka dari Medan

Medan kota yang multi etnis, suku dan agama. Perbedaan itu justru bikin Medan jadi kota yang damai dan toleran loh

Gak percaya ? Gampang kok nemuin ada orang Melayu, Batak, Karo, Mandailing,  Aceh, Jawa, China atau India duduk bareng ngopi sambil ketawa bareng

Ketika di sosmed heboh dengan ujaran kebencian, di Medan hal itu gak terlalu berpengaruh loh. Itulah istimewanya Medan

Kalaupun sempat ada percekcokan atau perkelahian, bukan karena dilatar belakangi perbedaan etnis, suku atau agama loh. Itu karena beda organisasi kepemudaan aja atau antar individu

Dan tinggal di Medan itu damai bah 

****

Udah tahu kan kalian, kenapa aku jatuh cinta sama kota Medan. 

Kota Medan ternyata menyenangkan bukan ? Ayo datang ke Medan biar kalian bisa merasakan yang aku rasakan. Aku doain deh, buat kalian yang pengen tahu seperti apa kota Medan itu. Semoga kelak kalian bisa berkunjung ke Medan ... Aamiin

*infografis dibuat dengan menggunakan aplikasi Pic Art dan font dari Cymera*






Share
Tweet
Pin
Share
6 comments



Halo... Halo, semua. Gak kerasa udah masuk bulan November aja ya. Berarti bentar lagi udah mau akhir tahun lagi deh. Udah ada rencana ngetrip belum ?

Kalau belum punya rencana mau kemana, siapa tahu kalian punya ide mau kemana setelah baca postingan saya ini

***

Saya, suami sama si kecil hari Sabtu lalu jalan - jalan seharian di Berastagi tanpa menginap. Gak biasanya tuh. Karena baru kali ini kami jalan kesana tanpa menginap

Rencana kesana udah disusun beberapa hari sebelumnya. Tapi sehari sebelum berangkat, saya malah galau mau berangkat apa gak. Saking galaunya, malam itu saya cuman tidur 3 jam. Baru deh di hari H jam 5 pagi, saya putuskan buat berangkat naik aja

Yah, sekalian biar bisa jalan kayak Kakak yang hari itu juga piknik ke Mikie Funland sama kawan sekolahnya

Setelah mengantar Kakak ke sekolahnya, kami bertiga lanjut perjalanan ke Berastagi. Jalan lumayan ramai karena anak sekolah. Alhamdulillah gak pakai macet, sampai juga kami di Berastagi jam 9.30 pagi

Ini dia tujuan kami ke Berastagi kemarin :

1. Foto dengan latar belakang Gunung Sinabung

Tujuan kami pertama adalah ke tempat suami beberapa hari sebelumnya foto dengan latar belakang Gunung Sinabung

Yess,  foto itu yang bikin saya mupeng banget pengen jalan Sabtu kemarin


Gimana gak mupeng coba. Suami bisa foto dengan latar belakang Gunung Sinabung yang jelas banget. Gak ketutup awan. Gunungnya keliatan utuh. Karena setiap kali kami ke Berastagi pasti Gunung Sinabung dalam keadaan tertutup awan

Setelah sempat nyasar, akhirnya kami bisa juga kesana setelah menelpon kawan yang kebetulan sedang berada disana

Lokasi foto ini sebetulnya adalah ladang milik orang yang akan ditanami. Terlihat dari tanahnya yang sudah digemburkan. Letaknya persis di pinggir jalan raya Kabanjahe - Kutacane. Di depan sekretariat  Pujakesuma ( Putra Jawa Kelahiran Sumatera )


Cuaca Alhamdulillah panas cetar, jadi kami bisa foto dengan latar belakang Gunung Sinabung. Meski gak keliatan seutuhnya seperti saat suami kesana sebelumnya, saya senang sekali akhirnya bisa melihat Gunung Sinabung lebih jelas

Tips : jalan saat cuaca cerah supaya bisa melihat Gunung Sinabung ini ya 

2. Pesta Mejuah - Juah 2017

Lihat Gunung Sinabung udah, kami lanjut perjalanan ke Pesta Mejuah - juah 2017 yang bertempat di Taman Mejuah - Juah, Berastagi  ( samping Pasar Buah )

Pesta Mejuah - Juah adalah sebuah even tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Karo untuk memperkenalkan budaya masyarakat Karo. Banyak acara yang diadakan selama Pesta Mejuah - Juah 2017, dari tanggal 26 - 29 Oktober kemarin


Kebetulan saat kami kesana, sedang ada Pemilihan Puteri dan Pangeran Pariwisata Karo, juga Lomba Vocal Group. Suara mereka merdu dan penampilannya oke  loh. Peserta Vocal Groupnya dari mulai remaja sampai ibu-ibu. Yang mengejutkan malah peserta ibu-ibu ini tampil paling mempesona dan banyak yang bertepuk tangan 


Gak cuman liat pentas, di Pesta Mejuah - Juah 2017 kemarin juga terdapat stand pameran yang memamerkan produk unggulan kabupaten Karo

Dari sekian banyak stand, ada satu stand yang menarik perhatian saya. Karena disana saya berkenalan dengan orang - orang yang menginspirasi. Siapa mereka ? Nanti akan saya ceritakan di postingan lainnya ( gak cukup kalau cerita sekarang ) 😄😄




Disana si kecil senang banget, karena bisa mewarnai dan berjumpa dengan anak-anak lainnya

Kalau mau lihat Pesta Mejuah - Juah, tunggu setahun lagi ya ...

3. Memetik Strawberry di Kebun Rini Colia 

Sebelum kembali ke Medan, kami mampir ke satu tempat lagi. Tempat itu adalah Kebun Strawberry Rini Colia . Sebuah kebun strawberry paling hits di sosmed kalau boleh dibilang

Kebun strawberry ini emang cakep banget pemandangannya. Terletak di lereng dan menghadap lereng juga. Pemandangan indah akan memanjakan siapa saja yang berkunjung kesana




Lokasinya sebelum Gundaling Farm ( Pemerahan Susu ). Kalau kalian dari Medan, kalian belok kanan ke arah Gundaling Farm. Nah, Kebun Strawberry  Rini Colia ini letaknya gak jauh dari jalan raya Jamin Ginting

Satu yang harus kalian perhatikan saat ke Kebun Strawberry Rini Colia , hati - hati dengan langkah kaki. Awasi anggota keluarga terutama anak atau lansia. Karena lerengnya cukup miring



Kalau malas memetik strawberry sendiri,  kalian bisa kok membeli yang sudah dipetik. Soal harga sama aja, mau petik sendiri atau yang sudah dipetik.

Kemarin satu kilo strawberry dihargai 80 ribu. Si kecil lebih memilih buat memetik sendiri. Meski hasilnya gak sebagus yang siap petik, gak papa. Yang penting si kecil senang. Satu persatu buah strawberry dipetiknya. Lumayan juga dapat 6,5 ons

****

O iya, karena jalan ke Berastagi sekarang suka gak ketebak situasinya. Saran saya niy, berangkat dari rumah pagi deh. Jam 6 pagi kalau perlu. Daripada habis waktu buat macet. Mending berkorban berangkat pagi. Bisa puas kan jalan-jalannya  

Piknik yuuuuk ...
Share
Tweet
Pin
Share
10 comments
Newer Posts
Older Posts

About Me

About Ibu Dila

Seorang istri dan ibu 2 anak yang belajar kehidupan dari setiap jejak langkah di negeri ini.

Search This Blog

Postingan Populer

  • Mengurus Pindah Sekolah Anak ke Luar Kota ( Berdasarkan Pengalaman Pribadi )
    Pindah lalu tinggal dan hidup di beberapa kota bukan lagi hal baru buat saya dan keluarga. Hari ini saya akan berbagi tips bagaimana memili...
  • Jalan-jalan Minggu ke Bagan Percut
    Pasar Ikan Bagan Percut, Deli Serdang Suami sudah beberapa kali mengajak saya ke Bagan Percut. Tapi entah selalu saja belum ter...
  • Museum Perkebunan Indonesia, Menghubungkan Masa Lalu dan Masa Depan
    Museum ? Saya suka sekali dengan museum. Kali ini kunjungan kami sekeluarga adalah ke Museum Perkebunan Indonesia Museum yang terl...
  • Seseruan Bermain di Taman Budaya Resto, Tanjung Morawa
    Restoran ini jaraknya dekeeet banget dari rumah. Nyomot perkataan kawan saya , resto ini tetangga sebelah rumah aja. Padahal udah setahun ...
  • Buka puasa di Pondok Telaga Ikan, Kuala Namu
    Mulai awal minggu lalu pas papanya luar kota, pengen banget makan di luar. Pengen ini pengen itu tapi apa daya gak bisa nyetir *makan...

Follow Us

  • Facebook
  • Instagram
  • Google Plus

Categories

  • Banjarmasin
  • Jakarta
  • keluarga
  • kuliner
  • Lebaran
  • liburan
  • lomba blog
  • Medan
  • mudik
  • My Story
  • Novel
  • Pekanbaru
  • Review
  • Semarang

Hai, saya ingin jadi kawan kalian. Ikuti ceritaku yuk...

Blog Archive

  • August (1)
  • July (1)
  • May (2)
  • April (1)
  • March (3)
  • February (3)
  • January (3)
  • December (7)
  • November (11)
  • October (9)
  • September (5)
  • August (5)
  • July (5)
  • June (9)
  • May (8)

Member of Blogger Perempuan

Member of Blogger Perempuan

Member Of Kumpulan Emak Blogger

Member Of Kumpulan Emak Blogger
Instagram Facebook

Created with by ThemeXpose

Customized with by DuniaQtoy