Langsung ke konten utama

Monja di Medan, tempat belanja barang bekas dengan kualitas bagus

Judulnya mantap banget ya, tempat belanja barang bekas... Hmmm.  Monja adalah sebutan warga Medan untuk barang-barang bekas impor.  Asal katanya konon dulu di seputaran Monginsidi Plaza banyak dijual barang - barang bekas. Biar gampang disingkatlah Monginsidi Plaza menjadi monza. Berhubung agak susah kan tuh melafalkan monza jadilah sekarang disebut dengan monja

Meski jejak monja di Monginsidi Plaza justru udah gak ada lagi. Monja-monja lain justru bertebaran di kota Medan ini.  Ada di pajak Petisah, ada di Pajak Deli Tua yang jualnya hanya hari Kamis aja makanya disebut Kamisan, ada juga di Pajak Simpang Limun tiap hari Minggu pagi dan masih banyak lagi pajak yang menjual monja.  Oiya, Pajak di Medan artinya pasar ya teman.

Nah dari sekian banyak monja di Medan ini, Pajak Melati lah yang paling terkenal. Hari paling ramai dikunjungi adalah Selasa, Jum'at dan Minggu karena di hari itulah para pedagang membuka bal ( bongkaran besar isi barang bekas yang baru turun dari kapal ). Siang setelah jam 1 hingga sore adalah waktu yang tepat karena para pedagang monja Pajak Melati sudah siap menjajakan dagangannya

Suasana monja ( sumber gambar : Haris - Media Pijar 2012 )

Pertama kali saya kenal monja dari tetangga sebelah rumah. Waktu itu tiba-tiba saya diajak ke Pajak Deli Tua. Dari rumah lumayan juga siy jaraknya. Berempat kami kesana dengan menggunakan angkot.  Dan disitulah sekali-kalinya saya pengalaman naik angkot di Medan. Yang ternyata rasanya wow banget. Badan ini seperti dibawa terbang ... Hahaha. Jadi sepanjang jalan niy bibir ngucapin istighfar sambil teriak ke abangnya

Di monja Deli Tua itu saya akhirnya tahu ternyata monja menjual banyak sekali barang. Ada baju, celana, sandal, sepatu, bed cover dan tas. Berbekal uang 200 ribu akhirnya perburuan pertama saya dapat 4 tas πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Bersama kawan-kawan pergi ke monja Pajak Melati beberapa bulan silam

Panas-panas dan debu gak jadi halangan pergi ke monja  πŸ˜‚πŸ˜‚

Seneng dong, uang segitu bisa dapat tas 4 biji. Gak lama dari pengalaman pertama tadi Mama saya datang dari Semarang. Dengar cerita dari saya, penasaran deh. Akhirnya di hari Minggu itu, saya ajak Mama ke Pajak Melati ( bahasa kerennya Pamela ) buat belanja tas. Dan deng deng ... Uang hampir 2 juta ludes buat beli tas 12 biji kalo gak salah ingat. Plus dapat bonus dompet dari penjual

Banyak amat? Tasnya itu ceritanya niy buat oleh-oleh saudara dan kerabat yang sebelumnya ditawarin dulu mau gak dibelikan tas bekas. Dan saya sebagai pengantar dapat juga tas 2 biji  hasil nodong..  Wkwkwk. Gak papalah, anak ceweknya Mama cuman satu juga mana jauh lagi kan *pembelaan diri*πŸ™ˆπŸ™ˆ

Di bawah ini beberapa tas yang saya beli di monja

Tas kulit merk Anello+  harga 130 ribu

Tas kulit merk Cole Haan harga 250 ribu
Tas parasut dengan tali kulit ( no merk ) harga75 apa 90 ribu gitu

Sekarang kan Mama lagi di Medan niy. Udah minta diantar lagi tuh ke Pajak Melati. Pengen belanja tas katanya ... Hihihi

Skip deh pengalaman saya ke monja. Belanja di monja itu gampang-gampang susah. Dengan berbagai dagangan mulai dari baju, sepatu, sprei, bed cover, celana, jaket, tas, karpet, sapu tangan, gorden, keset sampai dalaman juga ada. Butuh cukup perjuangan buat dapat barang bagus.

Mata harus teliti dan yang penting sabar saat memilih. Supaya gak dapat barang cacat. Kalau di monja Pajak Melati siy saya sukanya tas. Dengan kualitas bagus saya bisa dapat dengan harga miring. Terakhir saya kesana dapat tas kulit dengan harga 250 ribu setelah sebelumnya ditawarkan 400 ribu. Eits, belanja monja musti nawar ya karena terkadang penjual menawarkan jauh di atas pasaran. Tapi jangan khawatir pedagang monja di Medan baik-baik kok

Kenapa siy milih belanja di monja? Untuk alasan ini saya memilih karena kualitas. Sekarang banyak kan tuh tas-tas baru KW kesekian dijual. Buat saya dengan harga sama mending saya bisa dapat barang yang lebih bagus biarpun bekas. Dan satu lagi, di monja saya bisa dapat barang yang gak pasaran modelnya loh

Gaya saya bersama tas monja .... hahaha *numpang eksis sodaraaah*

Gak gengsi belanja di monja? Aduuuh, jauh-jauhin tuh gengsi. Toh kita gak makan gengsi kan. Meski pajak yang jual monja banyak debunya, panas dan gak ada pendingin udara. Banyak loh pembeli monja dari kalangan atas. Gak percaya ? Di monja tuh, ada loh tas-tas yang dijual sampai harga jutaan juga. Bikin geleng-geleng kepala deh begitu dengar harganya

Selain monja di Medan dan Sumatera Utara. Daerah lain di Indonesia juga mengenal pasar seperti ini. Misalkan di Batam, Makassar dengan Cakar nya, Semarang dengan awul-awulnya dan masih banyak lagi. Dan ketika jaman udah makin canggih gini, para pedagang pun juga udah mulai mengenal cara online untuk menawarkan dagangannya. Jadi pembeli dari mana saja bisa membeli barang yang mereka inginkan

Cuman terkadang ada rasa miris juga belanja barang bekas impor seperti ini. Karena hampir sebagian besar barang ini masuk ke Indonesia dengan cara diselundupkan lewat kapal karena adanya pelarangan dari pemerintah. Dan sudah seringkali ada tindakan terhadap para penyelundup. Salah satu artikel media online pun pernah memberi judul " Monja Dilarang, Monja Diburu". Industri dalam negeri pun juga terancam dengan adanya serbuan barang bekas impor seperti ini

Tapi disisi lain, para pembeli barang bekas ini juga membeli karena kualitas. Dengan harga sama meski bekas, kualitas barang yang didapat lebih baik. Ya saya pribadi berharap semoga kelak ada jalan terbaik buat semuanya  








Komentar

  1. Yang penting kualitasnya masih oke mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup tul dan sesuai dengan gaya kita 😎😎

      Hapus
  2. Aduh mba, kalau dapat murah dengan kondisi yang masih bagus bisa jualan tas, hihi..

    Tapi gimana ya pemerintah, buat memerangi penyelundupan sebenarnya sudah ada kan? Masalahnya permintaan seperti barang bekas tersebut selalu ada sehingga penyelundupan masih berlangsung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ... Ntar lah dipikirkan lagi tuh ide buat jualan. Ada juga siy yang nitip 😁

      Mudah-mudahan ada jalan keluar terbaik buat semuanya ya. Biar gak ada yang dirugikan

      Hapus
  3. Barang bekas impor mah walau bekas kualitasnya ajib dan biasanya tidak mengecewakan baik di harga atauupun kualitas barang nya hehe betul tidak ?

    salam kenal ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, betul. Kualitas yang oke itu emang yang diincar pembeli. Selain tentunya harga yang lebih murah

      Hapus
  4. Mudah2an ada jalan deh untuk masalahnya penyelundupan ini, yang pastinya gak merugikan 3 pihak. Para pedagang barang selundupan, pemerintah dan pastinya kita2 yg suka belanja murah tapi berkualitas.

    BalasHapus
  5. Selama ada demand, jelas supply akan ikutan ya mbak hehehe..mgkin krn payung hukumnya blm ada (atau mmg dibiarkan?) Jd pemerintah ga biza menindak pajak monza. Penangakapan kapal isi barang monza jd kayak lucu2an saja. Nah kalo buat pbeli kayak kita sih slama.tsedia ya dan cocok ya dibeli aja :D

    BalasHapus
  6. Kualitas memang diutamakan ya, Teh. Apalagi dengan harga yang miring, membuat diri ini tergoda untuk membeli. Tak dibeli, setidaknya mampir lihat..hehe

    Salam kenal ya, Teh Dila :)

    BalasHapus
  7. jiah, pas ke Medan aku gak ke siniiiih :( RUGIIII

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

" Mama, aku nggak mau sekolah lagi " ... Ketika anakku dibully

Teringat kejadian sore itu saat kami masih di Tangerang Selatan, sepulang sekolah Kakak menangis luar biasa di meja belajarnya. Di tepi jendela saat matahari sore masuk ke kamarnya. "Mama, aku nggak mau sekolah lagi" sambil menangis tersedu-sedu. Jedeeeer ... seperti mendengar petir di siang bolong, anak lelaki kelas 4 SD ini tiba-tiba meminta sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.



" Kenapa Kakak gak mau sekolah? " itu pertanyaan pertamaku. "Aku gak betah lagi" masih sambil menangis tersedu-sedu Kakak menjawab.  "Kenapa gak betah? " tanyaku lagi. " Aku ditendang kawanku. Kepalaku ditendang, terus dipukul pake tasnya" katanya. " Kakak udah ngehindar belum? " kutanya Kakak.  " Udah tapi mereka masih ngejar aku, Ma" masih sambil menangis

" Kakak bales gak? " tanyaku kembali. " Nggak,  Ma " jawab Kakak. " Bagus " jawabku. " Tapi aku tetep gak mau sekolah, kawanku jahat " sambil s…

Mengurus Pindah Sekolah Anak ke Luar Kota ( Berdasarkan Pengalaman Pribadi )

Pindah lalu tinggal dan hidup di beberapa kota bukan lagi hal baru buat saya dan keluarga. Hari ini saya akan berbagi tips bagaimana memilih sekolah baru buat anak di luar kota dan prosedur saat anak harus pindah sekolah mengikuti tugas orangtua
Dulu ketika anak masih belum memasuki usia sekolah, saat harus mengikuti tugas suami prioritas utama adalah mencari rumah. Begitu rumah yang diharapkan sudah didapatkan, beres. Barang tinggal diangkut. Nah ketika anak sudah memasuki usia sekolah,  artinya urusan sekolah juga harus masuk prioritas saat akan pindah 





Saat memilih sekolah yang baru untuk anak, ini yang harus diperhatikan : 
1. Tidak terlalu jauh dengan rumah ( terutama buat anak TK atau SD )  
Berhadapan dengan lingkungan baru adalah adaptasi buat anak. Saat memilih sekolah yang letaknya masih terjangkau dari rumah, itu akan memudahkan anak dalam mengenali lingkungan barunya. Anak akan lebih cepat menghafal dimana rumah serta rute jalan yang dilaluinya dari rumah ke sekolah
2. Mu…

Lebaran Tetap Bisa Menyenangkan kok Meski Gak Mudik

Mau sedikit cerita soal foto itu. Foto itu saya ambil di Masjid An Nur Pekanbaru di Lebaran 2010. Hari raya yang sangat spesial buat kami.

Di Lebaran itu kami baru seminggu menempati rumah Pekanbaru setelah pindah dari Samarinda.

Gak ada persiapan apapun. Masak apa yang bisa dimasak aja. Kue seadanya. Baju baru gak kepikiran

H-4 barang pindahan saya baru datang. Orang lain udah siapin ini itu bahkan mudik. Kami malah berjibaku membereskan barang pindahan yang baru datang. Lebaran disaat baru mengenal tetangga depan dan samping rumah saja

Foto itu pun asal cepret, gak mood ambil foto dan itu satu-satunya foto saat Lebaran 2010


Mudik Lebaran di negeri ini seperti udah menjadi suatu kewajiban buat setiap orang. Ada yang mudik mepet waktu Lebaran. Ada juga yang udah mulai dari awal Ramadhan. Yang kayak gini biasanya dilakukan sama orang yang kerjanya punya waktu lebih bebas ketimbang orang kantoran
Selain yang mudik, ada juga sebagian orang yang gak bisa mudik. Faktor biaya adalah alasan…