Langsung ke konten utama

Keindahan Kolonial Belanda di Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa

Hai, jumpa lagi dengan saya di postingan ini. Kali ini saya mau berbagi cerita dengan kawan-kawan tentang sebuah tempat menarik yang berada di Tanjung Morawa, Deli Serdang - Sumatera Utara

Di pertengahan Agustus lalu saat hendak pulang dari bandara,  tingkat penasaran saya muncul lagi ketika melewati pagar pembatas samping Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa. Berkali - kali lewat disana, penasaran memang tetapi kali itu rasa penasaran saya jadi lebih. Kendaraan yang dikendarai suami saat itu pelan sekali, terlihat saat itu beberapa bangunan era kolonial Belanda. Wow bagus sekali, saya pikir saat itu. Sempat saya katakan ke suami, suatu saat saya akan kesana



Angin segar kemudian saya dapatkan dari Kak Eka, kawan di sekolah anak saya, saat dia mengatakan bahwa rumahnya di komplek PTP.  Saya pikir ya yang saya lihat itu. Rupanya rumah Kak Eka berada di dekat tanah lapang, sebelah Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa. Dari Kak Eka itulah saya tahu nama tempat yang saya maksud adalah Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa. Yang lebih dikenal masyarakat sekitar dengan keberadaan Rumah Sakit GL Tobing PTPN 2 Tanjung Morawa. Sebuah rumah sakit yang letaknya di dalam Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa

Kepada Kak Eka, saya mengatakan ingin ke tempat itu. Akhirnya oleh Kak Eka saya pun diantar ke Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa. Untuk bisa memasuki ke kompleks Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa dan mengeksplor di dalamnya boleh dibilang tidak mudah tapi juga tidak sulit. Diperlukan ijin untuk memasuki area itu. Karena memang area itu berada di bawah Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa

Tapi jika hanya ingin berkunjung ke RS GL Tobing PTPN 2 Tanjung Morawa, tidak diperlukan ijin khusus

****

Bicara tentang PTPN 2 Tanjung Morawa artinya berbicara tentang kejayaan tembakau Deli di masa silam yang menjadikan Medan sebagai kota metropolitan. Dan bicara tentang Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa, selain berbicara tentang kejayaan tembakau Deli di mata dunia. Juga berbicara tentang Kampung Keramat dan Simpang Kayu Besar - Tanjung Morawa

Kampung Keramat adalah sebuah kampung yang dulunya ada di kawasan Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa. Dahulu kampung itu terdiri dari banyak rumah kayu yang dihuni oleh banyak para pekerja PTPN 2 Tanjung Morawa. Hingga akhirnya di tahun 1990 an, keberadaan Kampung Keramat tergantikan oleh lapangan golf yang sekarang berada di area Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa

Rumah semacam kayu inilah kira-kira di Kampung Keramat saat itu

Kak Eka bercerita kepada saya, bahwa dahulu saat dia masih sekolah selalu bermain disana bersama kawan-kawannya. Mengambil mangga, bermain di danau yang banyak terdapat di sana, berkunjung ke kawan dan sebagainya. Dan oleh Kak Eka saya ditunjukkan pohon mangga yang dulu sering ditunggu buahnya itu

Pohon mangga di belakang pohon sawit itulah dahulu Kak Eka dan kawannya suka mengambil buahnya

Dulu saat pagar pembatas tinggi belum ada, pohon-pohon sawit yang mengelilingi area Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa itulah yang seolah-olah menjadi pagar disana. Dan sampai sekarang pun pohon - pohon sawit masih terlihat di area seluas 96 hektar itu

Simpang Kayu Besar - Tanjung Morawa siapa siy yang tidak kenal dengan simpang empat itu. Nama Simpang Kayu Besar, ternyata diambil dari keberadaan pohon-pohon berdiameter besar yang dahulu ada disana. Keberadaannya pun hilang seiring dengan pembangunan lapangan golf di Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa di tahun 1990 an, bersamaan dengan hilangnya Kampung Keramat itu sendiri

****
Dan inilah petulangan saya berkeliling selama 2 hari bersama Kak Eka di PTPN 2 Tanjung Morawa

1. Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa

Setelah saya memasuki gerbang utama, kompleks Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa inilah yang terlihat pertama kali. Kantor PTPN 2 ini merupakan bekas kantor Senembah Maatschappij. Yaitu sebuah maskapai tembakau milik Belanda. Sebelum dimiliki oleh maskapai Senembah Maatschappij, area yang dulunya merupakan perkebunan ini dimiliki oleh Firma Naeher & Grob. Yaitu sebuah usaha patungan antara Hermann Naeher yang berkebangsaan Jerman ( Bavaria ) dan Carl Furchtegott Grob seorang pengusaha berkebangsaan Swiss. Dan pada 30 September 1889, Firma Naeher & Grob secara resmi berpindah tangan ke Senembah Maatschappij. Keberadaan sungai Sei Belumai ( sungai Belumai ) yang persis di samping pintu masuk PTPN 2 Tanjung Morawa ini, saat itu merupakan sarana ideal untuk memenuhi pasokan kebutuhan dan pengiriman hasil produksi perkebunan

Usai kemerdekaan Indonesia, di tahun 1958 maskapai Belanda ini resmi dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia. Di bawah Undang-Undang no 86 mengenai Nasionalisasi Perusahaan - Perusahaan Milik Belanda di Indonesia yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno pada 27 Desember 1958

Dan pada 11 Maret 1996 PT Perkebunan Nusantara 2 atau biasa disingkat PTPN 2 didirikan sesuai Akta No. 35 dibuat di hadapan Harun Kamil, SH Notaris Jakarta. Perseroan didirikan atas dasar SK Menteri Keuangan Republik Indonesia No.188/KMK.061/116 tentang Penempatan Modal pada PT Perkebunan Nusantara 2 ( Persero )

Gerbang PTPN 2 Tanjung Morawa dari dalam


Kantor Utama


Senembah Maatschappij pun juga pernah menjadi bagian dari kisah hidup Tan Malaka. Pada Desember 1919, Tan Malaka pulang ke Indonesia dengan membawa akte pengajar. Oleh Dr CW Janssen, Tan Malaka ditawari untuk mengajar anak-anak pekerja perkebunan tembakau Senembah Maatschappij. Tan Malaka mengajar disana selama setahun

Sekolah yang pernah diajar oleh Tan Malaka ( sumber gambar : plantersclub.blogspot.com )

Memasuki area kantor yang terdiri dari beberapa gedung beraksitektur kolonial yang sudah direnovasi di beberapa bagian. Tampak banyak pohon tinggi dengan diameter besar. Sebuah pesawat terbang penyiraman / penyemprotan tembakau buatan tahun 1977 terpajang di depan pintu utama Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa. Namun sayang, pada tahun 2007 pesawat tersebut dihentikan pengoperasiannya. Pesawat ini memiliki fungsi sama dengan pesawat yang saya lihat sebelumnya di Museum Perkebunan Indonesia yang terletak di Jalan Katamso Medan. Tulisan saya tentang Museum Perkebunan Indonesia dapat dibaca disini

Dan hingga sekarang kompleks itu masih digunakan sebagai kantor untuk kegiatan operasional dari PTPN 2 Tanjung Morawa






Pesawat Penyiraman Tembakau


2. Rumah Sakit GL Tobing PTPN 2 Tanjung Morawa

Dari laman milik PTPN 2 dijelaskan bahwa Rumah Sakit GL Tobing adalah rumah sakit milik PT Perkebunan Nusantara 2. Rumah Sakit yang awalnya didirikan untuk memberikan pelayananan kesehatan untuk karyawan dan keluarganya, pada perkembangannya juga diperuntukkan bagi masyarakat umum. Rumah Sakit GL Tobing PTPN 2 Tanjung Morawa, saat ini memiliki  106 tempat tidur. Menempati area seluas 9540 m2, Rumah Sakit GL Tobing adalah rumah sakit tipe C+





Rumah Sakit yang mempunyai nama HOSPITAAL TE TANDJONG MORAWA ini didirikan pada tahun 1882 dan dikepalai oleh Dr. Hauser seorang dokter dari Jerman. Dan ketika itu rumah sakit ini dimiliki oleh Firma Naeser & Grob

Berdasarkan keputusan Direktur Utama PN Perkebunan 2 Kolonel MD Nasution pada tahun 1969, Rumah Sakit PN Perkebunan 2 ini pun berganti nama menjadi Rumah Sakit GL Tobing PN Perkebunan 2 Tanjung Morawa. Nama itu diambil dari seorang dokter bernama Gerhard Lumban Tobing. Beliau bertugas sebagai dokter di daerah Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Ketika tahun 1950 saat terjadi konflik bersenjata di dekat jembatan Sei Belumai ( Jembatan yang tepat berada dekat pintu utama PTPN 2 Tanjung Morawa ), dokter GL Tobing terkena luka tembak. Dan beliau pun dibawa ke rumah sakit ini untuk diberikan pertolongan. Namun sayang beliau tidak dapat diselamatkan

Rumah Sakit GL Tobing PTPN 2 Tanjung Morawa ini memiliki beberapa gedung. Tapi yang paling menarik adalah gedung berwarna krem yang merupakan gedung peninggalan Belanda. Gedung berarsitektur kolonial Belanda ini memiliki beberapa ruang inap. Dengan teras panjang di sepanjang ruang perawatan, jendela dan pintu berukuran besar. Gedung ini masih terlihat gagah













3. Penangkaran Rusa

Sama halnya di Universitas Sumatera Utara, PTPN 2 Tanjung Morawa juga memiliki penangkaran rusa. Hewan cantik itu merupakan hibah dari penangkaran Universitas Sumatera Utara di tahun 2011. Dengan luas kandang 10.000 m2, rusa - rusa itu terlihat berlarian kesana kemari. Di penangkaran ini terdapat 3 jenis rusa yaitu, Rusa Tutul ( Axis Axis ), Rusa Sambar ( Cervus Unicolor ) dan Rusa Bawean ( Axis Kuhli )







4. Lapangan Golf

Dengan area yang cukup luas, tak heran jika lapangan golf bisa dibangun di area PTPN 2 Tanjung Morawa ini. Meski keberadaannya menghilangkan sebuah kampung bernama Kampung Keramat di tahun 1990an. Seperti yang saya ceritakan di awal postingan ini. Dan juga perkebunan yang dulu pernah berada disana. Lapangan dengan 18 lubang ini terlihat sangat cantik. Dikelilingi dengan hijaunya pepohonan, beberapa danau dan jembatan kecil

Saat saya dan Kak Eka kesana kemarin terlihat beberapa orang lanjut usia sedang bermain golf. Alhamdulillah, saya sempat berbincang dengan beliau semua. Awalnya saya mengira mereka adalah para pensiunan PTPN 2 Tanjung Morawa. Rupanya beliau semua bukan pensiunan PTPN 2 Tanjung Morawa. Ada yang tentara dan pegawai Pemkot. Bersama kedi mereka pun melanjutkan permainan mereka dan menyeberangi jembatan di tengah cerahnya sinar matahari pagi kemarin







5. Mess Tamu Kantor dan Kantin

Bangunan ini bukan berarsitektur Kolonial Belanda. Saya perkirakan dibangun antara tahun 1970-1990 an. Namun sayangnya keberadaannya tak lagi dapat dinikmati seutuhnya dikarenakan kebakaran yang terjadi pada 18 Maret 2014 lalu. Mess tamu kantor dan kantin sehari-harinya dulu digunakan sebagai tempat bersantap makan oleh para pegawai kantor. Kebakaran yang menghanguskan mess tamu itu dipicu dari ledakan tabung gas di area dapur kantin. Dan sejak itu mess tak lagi digunakan

Disinilah dulu para tamu memasuki mess ini

Meja resepsionis di bawah plafon yang mulai rusak

Bekas kamar mess yang terbakar

Bekas kamar mess yang terbakar

Bangunan mirip pendopo itu adalah kantin 
6. Danau- danau cantik

Di dalam komplek Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa ini terlihat banyak danau. Entah berapa jumlahnya. Semula saya mengira danau-danau itu adalah danau buatan. Rupanya bukan. Seorang pegawai disana mengatakan keberadaan danau itu muncul saat pecah perang di Tanjung Morawa, cerita yang diperolehnya dari Kakeknya dan Kakek Buyutnya. Tapi dari versi yang saya baca, dahulu di kawasan ini banyak rawa. Mungkin inilah yang akhirnya menjadi danau seperti yang saya lihat kemarin. Mana yang benar entahlah. Yang jelas danau-danau disana cantik semua




Patung rusa itu keberadaannya sudah ada dari Kak Eka kecil. Dahulu banyak anak bermain disana sebelum diberi pagar pembatas oleh PTPN 2 Tanjung Morawa


7. Bangunan jaman Belanda

Di area ini PTPN 2 Tanjung Morawa ini terdapat banyak sekali bangunan berarsitektur kolonial Belanda. Mulai dari perkantorannya sendiri, rumah dinas para Direksi dan Kepala Bagian, Puri dan yang paling menarik perhatian saya adalah keberadaan bangunan tua yang disebut oleh orang sekitar sebagai bunker pertahanan Belanda. Bangunan yang sudah tinggal sedikit tersisa ini, saat ini mulai ditutupi oleh akar pohon. Meski begitu tetap terlihat menarik bagi saya

Bunker Pertahanan Belanda

Foto - foto rumah di bawah ini baru sebagian dari rumah peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang masih tersisa hingga sekarang






Sebuah bangunan panjang nampak bersebelahan dengan sebuah tangki air peninggalan Belanda berwarna perak. Yang disebut Puri juga menarik perhatian saya. Menurut cerita pegawai disana, bangunan itu saat masa kecilnya dahulu adalah gedung bioskop. Yang pada masa itu sering memutar berbagai macam film lengkap dengan kursi kayu panjangnya. Dengan berjalannya waktu, keberadaan bioskop itupun tergantikan menjadi ruang pertemuan yang sampai saat ini masih digunakan

Puri yang dahulunya adalah sebuah bioskop

Puri
8. Menara Air PTPN 2 Tanjung Morawa

Tak lengkap rasanya bila kunjungan saya ke Puri Tri Adiguna bila tak mengunjungi tangki air yang merupakan ikon dari Tanjung Morawa ini. Bila biasanya saya hanya melihat tangki yang saat ini dicat berwarna hijau ini dari luar. Kali ini saya bisa melihatnya dengan jelas dari dalam area Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa

Menara Air ini yang biasa saya lihat dari jalan raya, dan ini penampakan dari dalam

Kebutuhan air di area ini saat itu sudah dipikirkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda, dan dibuatlah tangki air itu lengkap dengan pompa air dan bak penampungannya. Menurut informasi yang saya dapat, sumber air di tangki itu berasal dari Gunung Rintis di kecamatan Tanjung Muda Hilir - Deli Serdang. Dahulu air dari Gunung Rintis dialirkan ke bak penampungan sebelum akhirnya dinaikkan ke tangki air. Kemudian pada jam 5-8 pagi air dari tangki dialirkan ke area perkebunan Tanjung Morawa hingga ke Batang Kuis. Dan di sore hari mulai jam 5 hingga jam 8 malam, air kembali dialirkan

Bangunan beratap coklat rendah itu adalah bak penampungan air sebelum dialirkan ke perkebunan dan warga. Dan bangunan dengan tembok putih itu adalah rumah mesin pompa

Namun sayang, akibat banyak warga yang nakal. Air yang seharusnya mengaliri warga di kawasan perkebunan Tanjung Morawa hingga ke Batang Kuis, malah banyak dicuri warga yang rumahnya dilewati aliran pipa sebelum tiba di penampungan air tepat di bawah tangki. Mereka mencuri air dengan cara melubangi pipa besinya. Airnya sendiri digunakan mereka bukan hanya untuk keperluan sehari-hari tapi juga untuk mengaliri kolam ikan mereka

Akhirnya beberapa tahun ke belakang, operasional aliran air dari Gunung Rintis pun diberhentikan. Meski demikian sampai sekarang keberadaan pompa air di Gunung Rintis tetap ada

Pipa air yang sudah ada dari jaman Belanda

Jika saat ini tangki air yang terlihat hanya berjumlah 1, dahulunya menara tangki air yang tingginya sekitar 50 meter itu itu berjumlah 2. Tak heran dulu disebut dengan Menara Kembar.  Dengan warna perak seperti yang saya lihat di Puri sebelumnya. Kemana tangki air satu lagi ? Pada tahun 2013 tangki air satu lagi dipindahkan ke masjid Ubuddiyah Aulawiyah. Masjid PTPN 2 Tanjung Morawa ini letaknya tepat di seberang area Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa

Tak jauh dari Menara Air, terlihat sebuah bangunan yang berfungsi sebagai ruang genset. Dengan 2 mesin genset berukuran besar , genset itu memenuhi kebutuhan listrik di semua area Puri Tri Adiguna PTPN  2 Tanjung Morawa saat listrik PLN padam. Mesin genset ini dijaga petugas dengan sistem kerja shift


Cerobong lama terlihat di bagian belakang rumah genset

Mesin genset

9. Rumah Dinas Direktur Utama PTPN

Sebuah rumah cantik berlantai 2 terlihat berdiri kokoh di tepi danau. Rumah bergaya kolonial Belanda ini sudah berdiri dari 1906. Dengan warna cat putih dan genteng tanah liat, keindahan rumah dinas Direktur Utama PTPN menjadi magnet bagi siapa saja yang memandangnya. Meski saya hanya bisa memandang rumah tersebut dari tepi danau, saya sangat menyukainya

Rumah Dinas Direktur Utama PTPN 2 Tanjung Morawa

Di tengah teriknya matahari siang saat itu, keberadaan rumah cantik itu seolah-olah menjadi penyejuk mata saya. Tepat di danau depan rumah, terlihat sebuah pesawat berwarna putih jingga mengambang di atas danau. Pesawat berukuran kecil mirip dengan yang ada di depan Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa



Tak heran jika tempat ini menjadi favorit para pasangan muda saat melakukan sesi pemotretan Pre Wedding. Untuk dapat melakukan sesi pemotretan, silakan datang ke Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa untuk mendapatkan ijin

10. Komplek Makam Tua

Ini adalah bagian yang tidak terduga bagi saya dan Kak Eka. Sebuah komplek kecil tepat di sisi Sei Belumai, terdapat beberapa makam tua. Dua buah makam terlihat berbeda karena memiliki panjang 3 meter. Menurut cerita seorang pegawai disana, beliau pernah berjumpa dengan rombongan turis dari Belanda yang mengatakan bahwa 2 buah  makam yang panjangnya 3 meter adalah makam orang Belanda. Turis dari Belanda itu rupanya sempat mengalami masa kecil disana dan lahir di kawasan itu

Sedangkan makam-makam lain yang ukurannya lebih kecil merupakan makam dari para Datuk, demikian orang disana menyebut. Terlihat dari bentuk nisan yang memang berbeda dari makam yang panjangnya 3 meter itu. Makam para Datuk itu terlihat mempunyai nuansa khas Melayu


Komplek makam tua di bawah pohon rindang
 ****

Dari apa yang saya lihat disana, ada hal lain yang juga mempesona buat saya. Sejuknya pepohonan rindang yang menjadi penyejuk panasnya Tanjung Morawa, sampah yang nyaris tak terlihat dan hamparan hijaunya rerumputan yang terlihat dirawat ( tidak ada rumput tinggi terlihat hingga ke pelosok ). Sungguh nuansa yang akan saya rindukan kelak 


Tanah lapang ini saya suka sekali




Beruntungnya saya bisa berada di kawasan yang sarat akan makna sejarah itu. Apa yang saat lihat adalah sebuah kebanggaan milik masyarakat Sumatera Utara dan juga bangsa Indonesia. Sebuah perjalanan sejarah yang membawa Medan dan Sumatera Utara hingga saat ini. Semoga kelak anak cucu kita masih bisa melihat keindahannya, supaya mereka mengetahui betapa besarnya bangsa kita tercinta 

Mimpi saya berikutnya adalah bisa mendatangi perkebunan tembakau Klumpang / Klambir yang kesohorannya membawa nama tembakau Deli ke kancah dunia, semoga ...

* Sumber pustaka sejarah perkebunan PTPN 2  bisa dibaca di disini 


Salam dari kami berdua

Komentar

  1. Bangunannya khas ya mbk. Masih banyak aroma kolonial. Seneng lihatnya kayaknya sejuk banget. Tapi kalo diamati kok saya ngerasa sedikit angker

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau malam kayaknya iya, mb. Karena emang tempatnya luas banget dan jarak bangunan satu sama lain jauh. Mana rimbun juga. Alhamdulillah pas kami kesana aman aja

      Tapi emang cantik banget Mb. Saya sampai terpesona banget

      Hapus
  2. Kereeen, bangunan nya lama semua tapi masiih berdiri kokoh... bangunana jaman belanda dulu memang kuat2 banget ya mba. Rumah mertua adekku sebenernya di tj morawa ini... akupun kalo mudik ke medan, biasanya ngelewatin tj morawa sesekali, tp blm pernha sampe yg eksplor lbh dalam tempat2nya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tempat ini pasti bakal dilewati kalau pas keluar bandara, mb. Cuman banyak yang gak ngeh aja

      Hapus
  3. Bangunan klasik kolonial Belanda itu membuat suasana tempo dulu ya. Sekarang yang model kayak gini sering dipakai buatfotografi dan foto2 prewed.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tempat kayak gini emang bagus banget buat foto Mb. Berasa ke jaman dulu aja

      Hapus
  4. Aku pernah ke wilayah PTPN (lupa PTPN berapa) di Cirebon. Bagus sekali dan masih terawat ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bangunan kayak begini masih terawat sampai nanti ya, mb. Biar generasi masa datang bisa lihat

      Hapus
  5. Rata-rata, bangunannya tua semua ya Mba... Aku agak horror liat bangunan RS nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi ... Bangunan lama emang kadang ada aura rada gimana ya

      Hapus
  6. Jadi nostalgia ini ya. Bangunannya tua-tua. Jalanannya juga asri dan adem banget. Betah nulis deh di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mb. Seneng banget saya bisa kesana

      Hapus
  7. Tanjung Morawa
    memoriku langsung inget peristiwa perebutan tanah oleh PKI -__-
    eh bagus sumpah
    aku suka rumah tua yg tertata mbak
    keren PTPN 2
    tapi rata2 PTPN ngerawat banget masalah peninggalan bersejarahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada ya peristiwa itu? Belum tau malah

      Hapus
  8. Lengkap banget mbk dila artikelnya, bacany seolah2 aku sudah megelilingi PTPN2. Keren mbk

    BalasHapus
  9. wah yg gedung peninggalan Belanda nya itu masih kokoh berdiri ya, padahal dimanfaatkan setiap hari, luar bisa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren ya. Emang masih kokoh loh sampai sekarang

      Hapus
  10. terimakasih ; sudah menyebutkan sumbernya ... salam kenal mbak ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sekali, bapak. Sudah mampir di blog saya. Saya senang sekali bisa dapat banyak pengetahuan tentang perkebunan dari blog bapak

      Salam kenal juga 😊😊

      Hapus
  11. Dulu saya tinggal dikampung keramat. Dan beberapa hari yang lalu saya merasa rindu sekali dengan tempat itu. Alhasil saya mencoba googling tentang puri PTPN2 dan akhirnya menemukan postingan Ibu Dila ini. Sungguh haru melihat foto² ibu ini :') terimakasih untuk postingannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, kalo postingan saya bisa jadi obat rindu

      Hapus
  12. Rumah/bangunan Belanda yang ada di Indonesia rata-rata punya desain yang cocok sekali dengan iklim tropis kita ya. (memanfaatkan cahaya matahari, memberi jalan untuk udara biar segar dst), tapi rumah-rumah sekarang malah banyak yang ala barat/musim dingin.. Jadinya ya sumuk. :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengurus Pindah Sekolah Anak ke Luar Kota ( Berdasarkan Pengalaman Pribadi )

Pindah lalu tinggal dan hidup di beberapa kota bukan lagi hal baru buat saya dan keluarga. Hari ini saya akan berbagi tips bagaimana memilih sekolah baru buat anak di luar kota dan prosedur saat anak harus pindah sekolah mengikuti tugas orangtua
Dulu ketika anak masih belum memasuki usia sekolah, saat harus mengikuti tugas suami prioritas utama adalah mencari rumah. Begitu rumah yang diharapkan sudah didapatkan, beres. Barang tinggal diangkut. Nah ketika anak sudah memasuki usia sekolah,  artinya urusan sekolah juga harus masuk prioritas saat akan pindah 





Saat memilih sekolah yang baru untuk anak, ini yang harus diperhatikan : 
1. Tidak terlalu jauh dengan rumah ( terutama buat anak TK atau SD )  
Berhadapan dengan lingkungan baru adalah adaptasi buat anak. Saat memilih sekolah yang letaknya masih terjangkau dari rumah, itu akan memudahkan anak dalam mengenali lingkungan barunya. Anak akan lebih cepat menghafal dimana rumah serta rute jalan yang dilaluinya dari rumah ke sekolah
2. Mu…

" Mama, aku nggak mau sekolah lagi " ... Ketika anakku dibully

Teringat kejadian sore itu saat kami masih di Tangerang Selatan, sepulang sekolah Kakak menangis luar biasa di meja belajarnya. Di tepi jendela saat matahari sore masuk ke kamarnya. "Mama, aku nggak mau sekolah lagi" sambil menangis tersedu-sedu. Jedeeeer ... seperti mendengar petir di siang bolong, anak lelaki kelas 4 SD ini tiba-tiba meminta sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.



" Kenapa Kakak gak mau sekolah? " itu pertanyaan pertamaku. "Aku gak betah lagi" masih sambil menangis tersedu-sedu Kakak menjawab.  "Kenapa gak betah? " tanyaku lagi. " Aku ditendang kawanku. Kepalaku ditendang, terus dipukul pake tasnya" katanya. " Kakak udah ngehindar belum? " kutanya Kakak.  " Udah tapi mereka masih ngejar aku, Ma" masih sambil menangis

" Kakak bales gak? " tanyaku kembali. " Nggak,  Ma " jawab Kakak. " Bagus " jawabku. " Tapi aku tetep gak mau sekolah, kawanku jahat " sambil s…